
Sang ratu tidak langsung membawa Jingga dan kedua adiknya menuju portal dimensi lintas alam. Ia mengajak Jingga dan kedua adiknya memasuki istana.
"Izinkan aku menjamu kalian sebagai bentuk permintaan maaf atas kekeliruanku dan juga terima kasih atas pertolongan kalian yang telah memulihkan para pengikutku," ujar sang ratu memintanya.
"Tidak masalah, Nyonya. Kami juga membutuhkan waktu untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan kami ke alam dewa," balas Jingga menyetujuinya.
Jingga lalu melirik kedua adiknya dengan menautkan kedua alis meminta tanggapan.
“Aku ikut Kakak,” ucap Bai Niu menyetujui.
“Ya, aku pun sama dengan Kak Niu’er,” sambung Qianmei.
Ratu Kalandiva tersenyum lebar mendengarnya, ia lalu membawa Jingga ke suatu tempat yang tersembunyi di dalam istananya. Tempat tersebut terlihat sangat misterius dengan suasana yang sulit digambarkan. Mereka berjalan melewati lorong yang panjang dan berliku-liku, dihiasi dengan cahaya remang-remang dari dinding bebatuan yang menyala samar.
“Mengapa di setiap istana selalu ada lorong yang berliku-liku? Tidak bisakah dibuat lurus saja?” celetuk Jingga melontarkan tanya yang tidak penting.
Qianmei terkekeh pelan mendengarnya lalu menjawab, “Lorong di setiap istana merupakan suatu struktur bangunan yang wajib dimiliki oleh semua kerajaan di alam fana. Lorong istana memiliki banyak fungsi, ada yang difungsikan sebagai tempat pelarian keluarga kerajaan dalam kondisi genting baik dalam situasi perang maupun bencana, ada yang difungsikan sebagai tempat penimbunan harta, dan ada juga yang difungsikan sebagai tempat pelatihan tertutup.”
“Betul, dan lorong di istanaku memiliki salah satu fungsi tersebut. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita!” sambung Ratu Kalandiva.
Jingga mendengus pelan menanggapi keduanya. Ia sedikit kecewa karena maksud dari pertanyaan yang dilontarkannya tidak dipahami oleh Qianmei dan Ratu Kalandiva. Bai Niu yang sedari tadi diam saja memperhatikan Jingga mengetahui ada sesuatu yang salah dari jawaban Qianmei dan sang ratu.
“Kenapa, Kak? Kenapa Kakak terlihat tidak senang?” tanya Bai Niu.
Jingga menyeringai dingin menanggapinya lalu merangkul pundak Bai Niu dan melanjutkan perjalanan mengikuti langkah kaki sang ratu di depannya. Qianmei yang melihat kedekatan keduanya tampak tidak senang, kecemburuan kembali menyelimuti hatinya. Namun, ia harus mengubur perasaannya seperti yang selama ini selalu dilakukannya. Akan tetapi, kali ini ia berbeda dari sebelumnya. Ia memiliki kekuatan yang pantas untuk mendampingi Jingga. Batinnya terus bergejolak seolah meminta dirinya untuk merebut Jingga dari kakaknya Bai Niu dan juga kakak iparnya Xian Hou. Kembali ia harus mengubur keinginannya, karena ia merasa belum waktunya untuk melakukan hal itu.
Jingga yang merasakan ada keanehan dari jiwa Qianmei langsung meliriknya. Tanpa mau memedulikan apa yang menjadi pergolakan batin adiknya, ia lalu merangkulnya. Kini ia berjalan dengan merangkul kedua pundak adiknya.
Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan berliku, Ratu Kalandiva menghentikan langkahnya di depan dinding tebal yang terukir patung kepala naga. Ratu Kalandiva kemudian mengeluarkan sebuah artefak dan menempelkannya pada bagian mulut patung naga.
KRAK!
Dinding bergetar keras beberapa waktu lalu sebuah pintu terbuka dari patung kepala naga yang terbelah.
__ADS_1
WUZZ!
Aura pekat dari energi spiritual murni menyeruak keluar dari dalam pintu yang terbuka.
“Energi yang sangat pekat, ini sangat cocok untuk menguatkan pondasi kultivasi,” ujar Jingga lalu melangkah masuk mengikuti sang ratu.
Pintu di belakangnya kembali tertutup. Kini mereka dimanjakan dengan suasana ruangan yang sangat estetik. Ruangan yang dihiasi dengan ornamen indah yang memantulkan cahaya yang gemerlap.
Di tengah ruangan terdapat sebuah kolam air yang indah, berwarna biru kehijauan dengan air yang jernih. Di sekitar kolam, terdapat bunga-bunga yang harum dan tanaman-tanaman lainnya yang tak kalah indahnya.
Jingga dan kedua adiknya terpesona dengan keindahan kolam tersebut dan merasakan suasana tenang dan damai di dalam ruangan itu.
“Aku sengaja membawa kalian ke tempat ini sebagai jamuan khusus dariku. Semoga Penguasa Alam Iblis berkenan menerimanya,” ujar Ratu Kalandiva dengan suaranya yang lembut.
Jingga tersenyum lebar mendengarnya, ia berjalan mendekati kolam dengan kedua tangan yang tergenggam di belakang punggungnya.
“Terima kasih, Nyonya. Ini merupakan jamuan yang spesial untuk kami. Dengan senang hati kami menerimanya. Namun, alangkah baiknya jika ada sumber daya yang bisa digunakan untuk berkultivasi,” balas Jingga meminta lebih.
“Oh, tentu saja, Penguasa Alam Iblis. Itu sudah aku persiapkan,” timpal sang ratu lalu mengeluarkan banyak sumber daya yang bisa digunakan dalam berkultivasi.
“Maafkan kedua adikku, Nyonya.” Jingga merasa tidak enak hati akan sikap kedua adiknya yang langsung mengambil semua sumber daya yang dikeluarkan oleh sang ratu.
“Tidak masalah. Seharusnya aku yang minta maaf kepadamu, karena aku tidak memiliki jiwa kultivator yang menjadi jalan kultivasimu,” balas sang ratu.
“Ha-ha. Nyonya tenang saja, aku belum membutuhkannya,” timpal Jingga terkekeh.
“Baiklah, kalau begitu aku tidak akan mengganggu kalian sementara waktu. Kalau ada yang dibutuhkan, jangan sungkan untuk mengatakannya kepadaku,” ujar Ratu Kalandiva lalu berbalik pergi meninggalkan Jingga dan kedua gadis di dalam ruangan.
“Tunggu, Nyonya! Aku di sini tidak untuk berkultivasi, aku ikut Nyonya,” kata Jingga menahannya.
“Ya, aku sudah menduganya. Ayo, aku memiliki banyak arak spesial. Penguasa Alam Iblis tentu tidak akan sanggup menolaknya,” ujar sang ratu sambil tersenyum.
“Ha-ha. Dari mana, Nyonya mengetahuinya?” tanya Jingga merasa heran.
Ratu Kalandiva melebarkan senyumnya, Ia lalu menarik tuas di dinding dan berjalan keluar dengan wajah yang berseri.
__ADS_1
Jingga sendiri tidak merasa kesal pertanyaannya tidak dijawab sang ratu. Baginya, bisa menikmati arak spesial yang ditawarkan sang ratu cukup menjadi jawaban untuknya. Ia pun berjalan di belakang sang ratu dengan santai.
Hari demi hari berlalu dengan cepat. Setiap harinya, Jingga menghabiskan waktunya dengan bersandar di sebuah batu besar di taman belakang istana dengan sebotol arak yang selalu digenggamnya. Setiap harinya juga, sang ratu selalu mengunjunginya di pagi dan sore hari hanya sekadar untuk berbincang tentang ketiga alam di alam semesta.
Sore hari di istana Monster. Ratu Kalandiva seperti biasanya akan mengunjungi Jingga di taman belakang istana. Namun, kali ini sang ratu terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Ia memakai gaun berwarna putih dengan bagian atas begitu terbuka memperlihatkan setengah miliknya yang membusung.
“Apa Penguasa Alam Iblis tidak jenuh berada di sini sepanjang hari?” tanya sang ratu lalu duduk di samping Jingga.
Jingga tersenyum saja tanpa menoleh sang ratu yang berpenampilan menggoda.
“Sebenarnya aku jenuh terus bersandar di atas batu selama ini. Namun, aku sangat menikmatinya. Suasana damai seperti ini sangat jarang aku lalui,” jawab Jingga yang diselingi dengan menenggak arak.
Ratu Kalandiva tidak memedulikan jawaban yang terucap dari mulut Jingga. Ia begitu kesal karena Jingga tidak meliriknya sekalipun. Ia lalu mendekatkan wajah ke arah Jingga dengan harapan bisa dilirik oleh pemuda yang selalu menatap langit itu.
Kedua bola mata Jingga masih belum bergerak dari posisinya. Namun, bukan berarti ia tidak tahu maksud terselubung dari sang ratu. Ia hanya tidak ingin membuat masalah. Hal itu ia lakukan karena sang istri terus memantaunya dari alam peri, dan kehati-hatiannya itu pun terjadi tatkala suara lembut sang istri terdengar.
“Awas saja kalau kamu tergoda oleh naga centil itu,” ujar Xian Hou tiba-tiba.
“Tenang saja, Sayang. Aku kan pria setia. He-he,” balas Jingga dengan bangga.
Jingga yang tersenyum sendiri ditanggapi senang oleh Ratu Kalandiva yang semakin memberanikan diri mendekatinya. Ia bahkan sengaja menyodorkan bagian berharga miliknya yang hampir menyentuh wajah Jingga.
“Nyonya, menyingkirlah! Aku jadi tidak bisa melihat burung yang beterbangan,” kata Jingga merasa risih dengan kelakuan sang ratu.
“Apa aku tidak semenarik burung-burung di atas sana?” tanya sang ratu mulai gencar menggodanya.
“Harus kuakui, burung-burung di atas langit lebih menarik perhatianku daripada dua gunung yang tak seberapa itu,” jawab Jingga sekenanya.
Ratu Kalandiva mendengus kesal lalu menjauhkan tubuhnya dari Jingga.
“Menikahlah denganku, maka kita akan menguasai ketiga alam dengan mudah,” ujar Ratu Kalandiva sambil menjentikkan jari menembak burung-burung yang beterbangan di atasnya.
“Nyonya kalah menarik dari burung lalu Nyonya menembakinya. Suatu saat nanti setelah Nyonya mendapatkan kekuasaan yang merupakan ambisi terbesar Nyonya, maka aku tidak akan terkejut tatkala Nyonya ingin membunuhku juga.” Jingga menganalogikan perumpamaan yang dilakukan oleh sang ratu.
Ratu Kalandiva semakin emosi dibuatnya. Niat terselubungnya bisa dengan mudah diketahui oleh Jingga.
__ADS_1