Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Penaklukan Sang Monster


__ADS_3

Meskipun kesakitan, Jingga diam-diam menggunakan berbagai kemampuanya untuk bisa mengalahkan sang monster. Namun, usahanya tidak membuahkan hasil sama sekali.


"Sihir, jurus, dan kekuatan tidak bisa mengalahkannya. Apa yang harus aku lakukan?" Pikir Jingga mencoba semua upayanya.


Suhu panas terus meningkat seiring waktu membuat tubuh Jingga berubah kehitaman dan mengeras seperti batu. Dalam posisi yang terkunci oleh sang monster, Jingga memfokuskan dirinya pada upaya terakhir yaitu menggunakan kekuatan jiwa.


"Meski tubuhku hancur, kau tak akan pernah bisa memusnahkanku" gumam Jingga pasrah pada kondisi tubuhnya yang akan hancur.


Kraaak!


Tubuh Jingga yang keras mengalami keretakan yang menyeruak di seluruh kulitnya.


Boom!


Grooarr!


Tubuh Jingga akhirnya hancur berkeping-keping. Sang monster bangkit sambil menderam keras mengangkat kepala.


Dari seluruh tubuhnya, hanya satu bagian tubuh yang masih utuh, yaitu seonggok hati manusia yang terlindungi oleh kekuatan tak kasat mata.


Tiga energi api melayang di udara membentuk gumpalan energi yang dilapisi seberkas energi transparan dari kekuatan jiwa mengelilingi seonggok hati tersebut lalu membentuk tubuh baru.


Beberapa saat kemudian, sosok Jingga berwujud manusia pun terlahir kembali. Ia lebih terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Raut wajahnya tampak begitu tenang dengan sorot mata yang teduh memperhatikan sang monster iblis yang terdiam menatap balik dirinya.


"Kenapa? Apa kau terkejut melihatku masih hidup?" Tanya Jingga.


Groooar!


Sang monster menderam keras menjawabnya.


"Baiklah, sekarang giliranku menghancurkan dirimu" imbuh Jingga lalu menghilang dari posisinya.


Wuzz!


Jingga mengikat kedua kaki sang monster dengan rantai energi lalu mengayunkannya.


Bagh! Bugh! Bagh! Bugh!


"Ha ha ha" tawa keras Jingga membanting tubuh sang monster ke tanah bebatuan.


Jingga tidak henti-hentinya terus membanting tubuh sang monster ke dua sisi berlawanan sampai tercipta dua lubang besar di arena Siksa Raja.


Setelah merasa puas dengan aksinya, ia lalu melemparkan tubuh besar sang monster ke udara.


Wuzz!


Tubuh besar sang monster terbang jauh dan terlihat semakin mengecil.


Siu!


Jingga menyusulnya terbang ke udara. Sampai pada tubuh sang monster yang masih melaju naik. Jingga mengepalkan kedua tangannya lalu memukul keras tubuh sang monster.


"Hiaaaat!"


Bugh!


Tubuh sang monster menukik tajam ke bawah. Jingga yang masih melayang di udara lalu mengangkat kedua tangannya.


"Kaaa-paaab, kaaa- paaab, haa!"


Bola energi sebesar bukit dilemparkannya ke arena Siksa Raja.


Wuzz!

__ADS_1


Bola api berwarna hitam pekat yang dialiri kilatan elektrik melaju cepat menghantam tubuh sang monster.


Boom!


Badai api tercipta di arena Siksa Raja. Jingga kembali turun mendekatinya.


Tubuh sang monster tampak terlihat baik-baik saja. Beberapa saat kemudian, sang monster kembali bangkit.


Groooar!


Ia menderam keras, sorot matanya begitu tajam karena murka dipermainkan oleh Jingga.


"Tubuhmu sangat kuat, mari kita bermain lagi" ucap Jingga memujinya.


Groooar!


Wuzz!


Sang monster langsung menyemburkan lidah api menyerang Jingga.


"Ha ha ha, dasar monster bodoh!" Kekeh Jingga yang sekarang tidak lagi merasakan panas di tubuhnya.


Ia membiarkan sang monster terus menyemburkan api kepadanya. Kali ini ia menyerapnya.


"Ayo terus, apimu sangat berguna untukku" pinta Jingga.


Sang monster menghentikan aksinya, ia tahu yang dilakukannya hanya membuat lawannya menjadi kuat.


Grooar!


Ia menderam keras lalu mengayunkan kedua tangannya menepuk tubuh Jingga.


Plak!


Bruk!


Grooar!


Kesal karena ia tidak bisa menangkap tubuh Jingga yang sekarang berukuran kecil. Sang monster menundukkan wajahnya. Ia berpura-pura menyerah menghadapi Jingga.


"Ha ha ha, baru kali ini aku melihat ada monster yang pundung seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan" kekeh Jingga merasa lucu melihatnya.


Kreet!


"Ah, sialan. Kau menipuku" ucap Jingga terkejut dirinya berada dalam cengkraman tangan sang monster.


"Hap!"


Jingga ditelannya mentah-mentah. Sang monster kembali menderam keras menenggakkan kepalanya. Ia merasa dirinya berhasil mengalahkan Jingga untuk kedua kalinya.


Namun kebahagiaan sang monster tidak berlangsung lama, kedua matanya membesar melihat sosok Jingga yang berdiri tenang di bawahnya.


Sebelum turun memastikan kondisi sang monster, Jingga menduplikasi dirinya untuk mengelabui sang monster.


"Siapa yang kau telan, monster jelek?" Tanya Jingga menyilangkan kedua tangan di dada.


Grooar!


Sang monster terlihat sangat marah, ia lalu memancarkan energi apinya membakar udara di sekitarnya. Suhu udara yang panas menjadi semakin panas dibuatnya. Berbeda dari sebelumnya, kali ini Jingga tidak terdampak oleh suhu panas tersebut.


"Sepertinya aku tahu cara mengalahkannya" gumam Jingga ingin mencoba yang diperkirakannya.


Ia lalu melayang terbang dan hinggap di punggung sang monster. Tubuhnya mendekap erat sang monster yang terkejut merasakan punggungnya ditumpaki. Tidak ingin terjadi sesuatu dengan dirinya. Sang monster menjatuhkan diri ke belakang.

__ADS_1


Bugh!


Jingga terhimpit di antara tanah dan punggung sang monster, namun ia tidak berusaha melepaskan diri. Ia mengalirkan ketiga energi apinya untuk menambah panas api yang terpancar dari tubuh sang monster.


Apa yang diperkirakan Jingga benar terbukti, suhu panas ekstrem terus meningkat hingga membuat sang monster yang bertubuh api merasakan kesakitan sampai berguling-guling di tanah.


Jingga terus saja menahan tubuhnya untuk menempel pada punggung sang monster. Lambat laun, pancaran api dari tubuh sang monster mulai mengecil dan berangsur meredup.


"Ini waktunya kau harus terbang lagi" ucap Jingga lalu melepaskan diri dari punggung sang monster kemudian menangkap ekor sang monster lalu memutarnya dan langsung melemparkannya ke udara.


Wuzz!


Jingga melayang terbang menyusulnya lalu memukul keras tubuh sang monster di udara.


Bugh!


Siu!


Dhuar!


Kawah yang tercipta menjadi semakin dalam, debu-debu berhamburan melayang dari lubang kawah. Jingga melesak turun melihatnya.


Kedua pupil matanya membesar melihat sosok seorang pria dewasa yang tergeletak di bawah kawah yang begitu dalam.


Jingga menghampirinya lalu membalik tubuh pria dewasa itu.


"Uhuk, uhuk"


"Puih!"


Pria dewasa terbatuk lalu duduk memuntahkan bebatuan dari mulutnya.


Jingga terus menatapnya dalam diam, ia begitu terpana akan wujud manusia sang monster yang begitu rupawan dan terlihat seumuran dengannya.


"Aku tidak menduga kau bisa membuatku berubah ke wujud manusia. Aku bersedia tunduk kepadamu" ujar sang monster lalu berlutut di depan Jingga.


Jingga tersentak mendengarnya, ia yang awalnya memikirkan pertarungan lanjutan menghadapinya kini merasa heran.


"Apa maksudmu? Bukankah di arena ini aku harus membunuhmu untuk bisa melanjutkan pertarungan berikutnya?" Tanya Jingga.


"Tidak semuanya harus seperti itu, kau punya pilihan untuk membunuhku atau menjadikanku sebagai budakmu" jawab sang monster menjelaskannya.


Jingga terdiam mempertimbangkannya, ingatannya akan sosok Jirex yang seorang gadis membuatnya tersenyum ingin menduetkannya atau bisa saja keduanya berjodoh.


"Baiklah, tapi kau bukan budakku. Kau adalah pendamping perjalananku" ucap Jingga menyetujuinya.


"Terima kasih, Tuan" balas sang monster.


Jingga lalu bermeditasi untuk menghubungkan jiwanya dengan jiwa sang monster lalu mengikatnya dengan ikatan jiwa. Sama seperti yang pernah dilakukannya dengan Jirex.


Tidak membutuhkan lama untuk keduanya menjalin ikatan jiwa, itu karena sang monster yang menginginkannya mengabdi kepada Jingga.


"Siapa namamu?" Tanya Jingga.


"Aku tidak memiliki nama, Tuan bisa memberiku nama" jawab sang monster.


"Kau monster yang mirip dengan Jirex, aku akan memberitahumu setelah aku mendapatkan nama yang cocok untukmu" balas Jingga belum memberikannya nama.


"Baik, Tuan" timpalnya.


"Eh, lalu bagaimana caranya aku bisa ke arena berikutnya?" Tanya Jingga tidak melihat kemunculan anak tangga yang biasanya akan muncul dengan sendirinya ketika pertarungan selesai.


"Melalui diriku, Tuan" jawab sang monster lalu berdiri untuk membawa Jingga terbang ke ruang hampa.

__ADS_1


"Baik, tapi sebelumnya aku harus mencari cincin spasialku dulu" ucap Jingga lalu memindai seluruh arena Siksa Raja.


__ADS_2