Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Keberangkatan 2 - Kerajaan Samudera


__ADS_3

Tang Niu merasa lega mendengarnya, ia lalu membalas pelukan Jingga.


"Boleh aku menciummu?" Pinta Tang Niu menginginkannya.


"Tidak boleh, aku sudah punya istri" tolak Jingga lalu melepaskan pelukannya.


Tang Niu kembali menangis, kali ini ia menangis dengan keras seperti anak kecil. Jingga menatapnya dengan heran.


"Kedewasaan memang tidak bisa dilihat dari umur" gumam Jingga lalu kembali memeluknya.


"Cup, cup, cup. Lihat di atas ada cicak!"


Tang Niu mendongak ke atas, tangisannya langsung mereda seketika.


"Bohong" balas Tang Niu yang mencari-cari keberadaan cicak.


Jingga melepaskan pelukannya lalu menjatuhkan diri ke atas dipan. Tang Niu masih merengek untuk mendapatkan perhatian Jingga padanya. Namun Jingga tidak mempedulikannya.


***


Hampir sebulan dalam pelayaran, tidak ada hal menarik yang ditemui Jingga selain orang-orang dari benua Matahari yang selalu bercerita tentang peperangan besar yang terjadi di masa lampau.


Kejenuhan tak dapat terelakkan, dalam posisi berdiri di ujung penyangga kayu. Jingga berulang kali ingin melompat ke lautan, namun Tang Niu terus saja melarangnya.


"Yang bosan tidak hanya dirimu saja, semua orang juga sama bosannya. Bersabarlah! Pelayaran sekarang jauh lebih cepat daripada nenek moyang kita dahulu yang harus menempuh waktu selama berbulan-bulan, bahkan ada yang sampai setengah tahun" ujar Tang Niu memahaminya.


"Bukan waktu tempuhnya yang membuatku bosan, aku hanya merindukan sebuah pertarungan, aku berharap muncul kapal perompak yang menyerang kita atau badai besar yang menerjang"


"Hem! Aku juga merindukannya. Apa kita berdua bertarung saja di kapal ini?" Ucap Tang Niu menawarkan.


"Tidak seru, bagaimana kalau kita membuat kegaduhan dengan penumpang lainnya. Kau kan cantik, cobalah jerat beberapa pria kaya yang membawa istri" jawab Jingga lalu menyeringai.


"Huh! Jangan Adik pikir aku wanita murahan. Beberapa orang dari pulau Intan sangat mengenaliku. Aku tidak setuju!" Balas Tang Niu menolaknya.


Jingga tidak menanggapinya, ia terus saja menatap lautan yang seperti tidak pernah bergerak. Sampai ia melihat sosok makhluk aneh berbadan ikan berlompatan di kejauhan.


"Naninu, lihat di sana!" Tunjuk Jingga ke arah laut.


"Itu cuma ikan" tanggap Tang Niu.


"Lihat yang benar, Nyonya!" Gertak Jingga.


Tang Niu kesal juga digertak Jingga, ia lalu menyipitkan matanya memperhatikan ikan yang terus berlompatan.


"Itu ikan duyung, tubuh atasnya memang mirip seperti manusia, tapi tetap saja ikan" ujarnya berkomentar.


Byuur!


Jingga melompat ke dalam air laut dan menyelam di dalamnya. Tang Niu yang terkejut melihatnya ikut melompat juga.

__ADS_1


Beberapa orang yang melihat keduanya menggeleng heran.


"Pasangan yang aneh" celetuk seorang penumpang yang melihat keduanya melompat.


Di kedalaman air, Jingga tanpa henti terus mempercepat lajunya. Di belakangnya, Tang Niu semakin jauh tertinggal. Ia tidak sanggup mengejarnya lalu memutuskan naik ke permukaan untuk mengambil napas.


Tang Niu tidak berani untuk terus mengejar Jingga, ia menoleh ke belakang. Matanya terbelalak melihat kapal yang begitu jauh dari posisinya.


"Sialan! Ini terlalu jauh" rutuknya dengan kesal.


Ia memutuskan mengambang di permukaan dengan harapan Jingga tidak lama kembali ke arahnya.


Dari posisi Jingga berada, ia kehilangan jejak ikan duyung yang dikejarnya.


"Ke mana larinya ikan duyung?" Gumam pikirnya sambil terus memperhatikan sekitarnya.


Lama ia berada di kedalaman laut, Jingga memutuskan kembali ke permukaan.


Jingga melihat kapal yang ditumpanginya begitu jauh dari posisinya, ia lalu memperhatikan wanita yang mengambang terus menatapnya, sambil mengangkat kedua tangan dan melambaikannya. Jingga meminta Tang Niu menghampirinya.


"Huh! Kenapa bukan dia yang kemari? Menyusahkan saja!" Dengus Tang Niu lalu berenang menghampirinya.


Tak lama menunggu, akhirnya Tang Niu sampai di depan Jingga yang terkekeh melihatnya.


"Naninu, kenapa kau mengikutiku?" Tanya Jingga masih terkekeh.


"Daripada aku bosan sendiri di atas kapal" kilahnya beralasan.


"Ya sudah. Sini aku gendong, kau terlihat begitu lelah" balas Jingga lalu memposisikan diri.


Tang Niu langsung melingkarkan tangannya di leher Jingga, setelah siap. Jingga mengayunkan kedua kakinya berenang di atas permukaan laut menuju ke arah kapal.


Hanya beberapa ratus meter ia berenang, sesuatu yang licin melingkar erat di kedua kakinya dan dengan cepat menarik Jingga ke dalam.


Buzz!


"Apa ini?" Kaget Jingga melihat kedua kakinya terlilit kencang oleh tentakel seekor gurita yang menariknya ke dalam lautan.


Jingga meronta membenturkan kedua kakinya agar terlepas dari tentakel yang melilitnya, namun usahanya tidak berhasil. Ia semakin jauh tertarik ke dalam.


Di punggungnya, Tang Niu menjadi gelagapan karena sulit bernapas, Jingga langsung menarik kepalanya lalu menciumnya dan memberikannya napas.


Entah sudah sejauh mana Jingga ditarik oleh gurita besar, tiba-tiba saja, Jingga dan Tang Niu sudah berada di ruangan luas yang dipenuhi oleh makhluk bersisik yang berbaris rapi.


Jingga melepaskan ciumannya pada Tang Niu dan langsung memperhatikan sekelilingnya. Ia keheranan melihat makhluk dari perpaduan ikan dan manusia.


"Yang Mulia, hamba menangkap dua manusia yang tersesat di samudera. Apakah kita akan menjadikannya santapan?" Ucap gurita melaporkannya.


Seorang pria bersisik ikan dan bertubuh manusia pada umumnya berdiri dari singgasananya, ia lalu melangkah mendekati Jingga dan Tang Niu yang terikat oleh tentakel gurita.

__ADS_1


"Apa kau seorang kultivator?" Tanya pria ikan menyelidik.


"Aku hanya seorang pendekar" jawab Jingga.


Trang!


Si pria ikan menghentakkan ujung trisula ke lantai lalu mencekik leher Jingga, ia menatap Jingga dengan tatapan tajam.


Tidak ada rasa takut yang menghinggapi Jingga, ia masih biasa saja menanggapinya.


"Apa kau manusia yang dikutuk jadi ikan atau mungkin saja kau beast ikan?" Tanya Jingga yang heran dengan bentuk tubuh pria yang mencekiknya.


Secara fisik, pria ikan sama seperti manusia yang memiliki dua tangan dan dua kaki, namun kedua telinganya berbentuk sirip ikan dan kedua matanya bulat persis seperti mata ikan.


Pria ikan semakin kuat mencekik leher Jingga dan mengangkatnya ke udara.


"Kau manusia sombong, berani menghinaku yang merupakan raja samudera yang agung" ucapnya.


Huh! Huh! Huh!


Yel-yel para manusia ikan menderu pada rajanya.


Jingga menyeringai memperhatikan ikan-ikan terus memberikan yel-yel pada tindakan sang raja yang sedang mencekiknya.


"Melihat kalian semua membuatku lapar, aku ingin melumuri tubuh kalian dengan perasan air jeruk lalu merendamnya dengan bumbu yang kutumbuk dari bawang putih, ketumbar dan kunyit. Setelah itu aku akan membakarnya dan membalik-balikkan tubuh kalian sampai matang dan siap dihidangkan. Hem! Pasti lezat" ujar Jingga sambil membayangkannya.


Pria ikan semakin geram mendengarnya, ia lalu membanting Jingga ke lantai dengan keras.


Bugh!


Dhuar!


Lantai yang terbuat dari batu karang langsung hancur dengan tubuh Jingga yang terlentang.


Raja Samudera yang geram mengayunkan trisulanya ke arah leher Jingga.


Trang!


Sebuah trisula panjang menahan ujung tajam trisula yang dilayangkan oleh raja Samudera.


"Jangan dulu dibunuh, Suamiku" ucap seorang wanita berambut emas menahannya.


"Aku masih penasaran dengannya, dia tidak menggunakan energi spiritual dalam bernapas. Tubuhnya sangat unik. Aku akan menyelidikinya" imbuh wanita ikan yang daritadi terus memperhatikannya.


"Terserah kau saja, lalu bagaimana dengan kekasihnya?" Balas sang raja melirik ke arah wanita yang masih terikat tentakel.


"Dia baik-baik saja. Aku sudah memberinya energi agar dia bisa bertahan di dalam air" jawab sang ratu membiarkannya tetap hidup.


"Apa kau tidak kerepotan nantinya? biarkan saja dia menjadi santapan hiu" tanya sang raja.

__ADS_1


Sang ratu tersenyum simpul lalu berbalik memberikan perintah pada pengawalnya untuk membawa Jingga dan Tang Niu ke ruang tahanan.


__ADS_2