Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Berlatih Memanah


__ADS_3

Siang hari ketika terik matahari begitu menyengat kulit, Paman Apiak mengajak Jingga untuk berburu di hutan Harimau.


"Paman, boleh aku ikut?" Rajuk Naray memintanya.


"Hem! Ini sangat berbahaya, bukannya Paman meragukan kemampuanmu. Tapi lebih menjaga keselamatanmu" ujar paman Apiak menolaknya.


"Baik, Paman" balas Naray pasrah.


Rindu dan Rindi menghampiri ketiganya dengan membawakan busur panah untuk digunakan oleh Jingga dan paman Apiak dalam berburu di hutan.


"Joga, semoga berhasil" ucap si kembar berbarengan.


"Jingga, bukan Joga" protes Jingga lalu berbalik menyusul paman Apiak.


"Maksud keduanya itu Ajo Jingga, seperti Naray yang memanggilmu Aa" sambung paman Apiak menjelaskannya.


"Ha ha, maaf Paman. Aku baru tahu, tapi kenapa harus disingkat dengan namaku?" Kekeh Jingga sambil bertanya.


"Tak tahulah" jawab paman Apiak lalu berbelok ke tanah lapang.


"Paman, kenapa kita berbelok?" Tanya Jingga heran.


"Paman harus tahu kemampuan memanahmu dulu" jawab paman Apiak lalu meminta Jingga mencoba memanah target yang berada di depannya di lapangan terbuka tempat warga kampung biasa berlatih memanah.


"He he he, aku tidak bisa memanah, Paman" ungkap Jingga sambil cengengesan.


Paman Apiak tersenyum melihatnya, ia lalu mengangkat busurnya dan melesatkan anak panah tepat mengenai sasaran.


Siu! Tap!


"Paman hebat" puji Jingga.


Ia sebenarnya tidak begitu tertarik dengan senjata panah karena kecepatannya jauh melebihi anak panah yang melesat, akan tetapi di alam fana yang sekarang, ia tidak memiliki energi iblis untuk bisa terbang seperti sebelumnya. Mau tidak mau ia harus bisa menggunakannya.


"Apakau mau berlatih memanah?" Tanya paman Apiak.


"Mau, Paman" jawab Jingga cepat.


"Baiklah, Paman akan mengajarimu dari sekarang"


"Hal paling dasar dalam memanah adalah sikap berdiri, tegakkan badan dan posisikan dua kaki sejajar bahu" ujar paman Apiak mengawali.


"Paman, apakah memanah wajib berdiri? Dalam peperangan aku bisa mati duluan sebelum bisa mengangkat busur" tanya Jingga memprotesnya.


"Jangan memprotes sebelum mengikuti, ke depannya kaubisa memanah dalam posisi seperti apa pun" jawab paman Apiak merasa sedikit kesal.


Jingga menganggukkan kepala lalu mengikuti instruksinya, langkah pertama diikutinya dengan baik. Ia lalu mengikuti langkah berikutnya yaitu memasang anak panah, memegang busur, menoleh target, menarik dan mengangkat tangan yang memegang busur.


Jingga terlihat begitu tegang, tangannya sedikit bergetar. Ini merupakan pertama kalinya ia berlatih memanah.


"Ulangi" pinta paman Apiak yang melihatnya tegang.

__ADS_1


"Rileks adalah kunci, kautidak akan pernah bisa memanah dalam keadaan tegang" ujar paman Apiak menjelaskannya.


Jingga mengangguk lalu mengulanginya lagi, setiap ia tegang. Paman Apiak memintanya mengulangi. Pada ke sekian kalinya, Jingga akhirnya bisa santai melakukannya.


"Bagus! Sekarang tariklah sampai menyentuh hidung dan pertahankan posisi tangan tetap lurus" sambung paman Apiak.


Pletak!


"Wadaw!" Ringis Jingga yang dijitak kepalanya.


"Diamkan kepalamu, Jingga" bentak paman Apiak sambil memutar sedikit siku Jingga yang miring.


"Pindahkan otot lengan ke otot punggung, bidik sasaran dan lepaskan" imbuh paman Apiak menginstruksikan.


Siu!


Cuit! Cuit! Cuit!


Anak panah melenceng jauh dari sasaran, burung-burung yang berada di belakang papan target langsung berhamburan terbang. Jingga menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Cukup baik, hari ini kauulangi apa yang Paman ajarkan padamu. Berlatihlah dengan tekun" ujar paman Apiak lalu pergi meninggalkannya untuk berlatih sendiri.


Setelah kepergian paman Apiak yang berburu hewan, Jingga kembali mengulangi pelatihannya.


Seratus, dua ratus kali bahkan sampai sore hari Jingga terus mengulanginya. Ia lalu berhenti ketika papan target sudah begitu rusak terkena sasaran anak panah yang dilesatkannya.


Lebih dari dua puluh anak panah yang dibawanya rusak dan tumpul. Dengan senyum puas, Jingga kembali ke rumah.


"Lumayan, ada peningkatan. Tapi, Paman. Apakah ada anak panah lainnya?" Jawab Jingga diakhiri pertanyaan.


Ia lalu menyerahkan busur dan kumpulan anak panah yang telah rusak.


"Aku suka kegigihanmu anak muda, sekarang bersihkanlah dirimu lalu kita makan bersama" balas paman Apiak tersenyum padanya.


Malam harinya Jingga membantu paman Apiak memperbaiki anak panah yang rusak di halaman samping rumah yang memiliki sebuah pondok kayu yang biasa digunakan paman Apiak untuk mengerjakan suatu kerajinan, seperti membuat busur dan anak panah.


"Paman, kapan terakhir kali kasus penculikan anak terjadi?" Tanya Jingga sambil mengasah logam runcing anak panah.


"Dua hari yang lalu, tapi bukan di kampung ini, kejadiannya di kampung sebelah" jawab paman Apiak.


"Apakah di sini ada sihir atau hal-hal mistis yang tidak lazim?" Kembali Jingga bertanya.


"Di mana pun akan selalu ada sihir, tapi.." ucap paman Apiak terputus.


Ia mengingat sesuatu yang tidak wajar terjadi beberapa bulan sebelum penculikan pertama terjadi.


"Kenapa, Paman?" Tanya Jingga.


"Sudahlah, Paman tidak bisa berpikir terlalu jauh" jawabnya mengabaikan apa yang terlintas dalam pikirannya.


"Tidak masalah, Paman. Katakan saja! Kalau memang memungkinkan kita bisa mencari akar masalahnya untuk memecahkan misteri penculikan yang terjadi belakangan ini" tanggap Jingga memupus keraguan yang tergambar di raut wajah paman Apiak.

__ADS_1


Setelah mendengar perkataan Jingga, paman Apiak akhirnya mengungkapkan semua yang dipikirkannya.


Jingga terus mendengarkannya dengan seksama dan mencoba untuk menyimpulkannya.


"Sepertinya kasus ini memiliki pola yang sama, akan tetapi dengan kondisi korban yang begitu mengenaskan, mengingatkanku akan upaya bangsa iblis yang melakukan pertukaran ilmu sihir dengan bangsa manusia" pikir Jingga mengaitkannya.


"Jingga, kenapa melamun?" Tegur paman Apiak.


"Tidak apa-apa, Paman. Aku hanya berpikir untuk bisa membantu Paman memecahkan masalah ini" jawab Jingga berkilah.


"Sudah, kauhanya tamu di sini. Biar kami warga kampung yang mencari jalan keluar untuk mengungkapkannya" timpal paman Apiak lalu memasuki kembali rumahnya.


Jingga masih melanjutkan perbaikan anak panah yang tinggal beberapa saja, Naray keluar rumah lalu menghampiri Jingga dengan membawa secangkir teh panas.


"Minum dulu tehnya" ucap Naray menawarinya.


"Terima kasih, besok kita berlatih memanah, Paman Apiak membuatkan satu busur untukmu" balas Jingga.


"Betulkah?" Tanya Naray begitu semangat.


"Ya" jawab Jingga singkat.


Ia lalu menghentikan kegiatannya dan mengambil cangkir teh lalu menyeruputnya.


"Neng tahu apa yang aku rindukan?" Celetuk Jingga bertanya


"Apa, A?" Tanya balik Naray tidak mengetahuinya.


"Aku rindu bertarung dengan lawan kuat, pertarungan di dusun Sukamati tidak membuatku puas. Semoga di pulau Emas ini aku mendapatkan lawan sepadan yang bisa memacu adrenalinku" jawab Jingga dengan berapi-api.


"Apakah hanya pertarungan yang bisa membahagiakan Aa?" Lanjut tanya Naray.


"Ya, Aku hidup untuk bertarung, kalau tidak ada pertarungan, Aku merasa lemah" jawabnya.


Naray lalu pergi meninggalkannya dengan raut wajah yang lesu.


Jingga menyusulnya lalu menarik tangan Naray dan mendekapnya.


"Maukah Neng menjadi adik angkatku?" Tanya Jingga.


Naray yang nendengarnya begitu kesal, ia menginginkan lebih dari sekedar menjadi seorang adik. Apalagi ia mendengar sendiri, gadis kembar menyukai Jingga.


"Tidak mau, aku tidak rela Aa menjadi kekasih salah satu anak Paman Apiak" tolak Naray.


"Apa maksudmu, Neng?" Tanya Jingga.


"Tidak apa-apa, A. Tapi baiklah, aku mau jadi adik angkat Aa" jawabnya yang berubah pikiran.


"Ah, tidak jadi. Tadi nolak, sekarang nerima. Dasar betina!" Ketus Jingga lalu berbalik kembali ke pondok kayu.


"Aa egois" balas Naray langsung berlari memasuki rumah.

__ADS_1


__ADS_2