
Beruntung ada Jingga yang lebih dulu menarik tubuhnya memasuki perisai iblis. Bai Niu pun selamat tanpa harus mengalami cedera yang disebabkan oleh serangan cepat dari ratusan bongkah es yang mengarah kepadanya.
“Kau ini sangat gila perhatian. Jangan diulangi,” ucap Jingga mengingatkannya.
“Ba … baik, Kak. Maaf,” balas Bai Niu dengan napas yang tersengal.
Ratusan bongkah es yang berbenturan dengan perisai iblis membuat suhu udara menjadi sangat dingin. Beberapa saat kemudian, tampak terlihat di langit. Lebih dari seratus kultivator aliansi Es Utara bermantel putih berjajar dalam berbagai formasi yang menjadi khas dari aliansi Es Utara.
“Kak Jingga, apa tidak sebaiknya kita beli tantangan mereka?” tanya Qianfan meminta pendapat.
Jingga menolehnya dengan tersenyum lebar seraya berkata,
“Kita akan tetap menjadi penonton di sini. Dari arah selatan ada gerombolan iblis yang melaju cepat dikejar-kejar iblis, dan dari arah utara ada puluhan pasukan istana Langit yang sedang menuju ke selatan. Keberadaan aliansi Es Utara akan menjadi titik temu kedua rombongan makhluk dari dua alam berbeda,” ujar Jingga tampak begitu senang akan kemungkinan yang tidak lama lagi akan terjadi sesuai dengan perkiraannya.
Qianfan sedikit heran mendengarnya, bukan karena bakal kejadian seru yang mungkin akan terjadi, melainkan pada gerombolan iblis yang dikejar-kejar oleh iblis pula. Jingga yang melihat wajah bingung adiknya langsung terkekeh pelan.
“Kamu itu adikku yang genius, apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Jingga ingin tahu.
“Aku tidak paham maksud iblis dikejar iblis, otakku tidak sanggup mencernanya. Bisa Kakak jelaskan kepadaku?” jawab Qianfan meminta penjelasan.
“Ha-ha-ha. Iblis yang dikejar merupakan iblis yang kabur ke alam fana. Sedangkan iblis yang mengejarnya adalah para pengikutku. Kamu tenang saja, dan ajak kawan-kawan istanamu kembali duduk dengan tenang seperti sebelumnya.” Itulah yang dijelaskan oleh Jingga yang membuat Qianfan menganggukkan kepala memahaminya.
“Baik, Kak. Ini kedua kalinya aku akan menyaksikan pertarungan dari ketiga ras di alam semesta ini,” tanggap Qianfan lalu membalikkan badan kembali ke barisannya.
Jingga sendiri langsung mengalihkan pandangan ke arah istrinya yang masih tertidur di pangkuannya.
“Sayang, mau sampai kapan kau akan tertidur? Bangunlah! Sebentar lagi akan ada pertarungan seru komplikasi tiga alam episode dua,” ucap Jingga sambil menepuk pipi istrinya dengan lembut.
Xian Hou yang pipinya terus ditepuk oleh tangan Jingga dengan malas membuka kelopak matanya.
“Aku bukan dirimu yang suka pertarungan, aku hanya suka melenguh panjang ketika bercinta denganmu di tengah taman bunga,” balas Xian Hou setengah sadar.
__ADS_1
Jingga langsung menyumpal mulut istrinya yang setengah sadar mengatakannya. Bai Niu, Qianmei, dan beberapa orang dari istana kekaisaran langsung meliriknya dengan mata terbelalak. Jingga sendiri langsung menundukkan wajahnya karena malu dilihat oleh sebagian orang yang berada di dekatnya.
“Aku baru tahu ternyata seorang iblis memiliki sifat malu,” celetuk Bai Niu menanggapi reaksi kakaknya Jingga.
“Kak Niu’er, jangan bicara sembarangan. Nanti, Kak Jingga marah, Kak Niu’er juga yang kena imbasnya,” ujar Qianmei memperingatkannya.
Bai Niu sedikit tersentak lalu mengalihkan wajahnya ke arah lain untuk menghindari tatapan kakaknya Jingga.
“Kita pura-pura tidak tahu saja,” imbuh Bai Niu yang mulai takut.
“Terlambat, Kak. Tengok saja, sekarang Kak Jingga terus menatap Kak Niu’er dengan tajam,” timpal Qianmei memberitahunya.
Bulir-bulir keringat mulai menetes keluar dari pori-pori kulit Bai Niu yang kini mulai mengalami kecemasan.
DUAR! DUAR! DUAR!
Dentuman keras mulai terdengar di atas langit. Jingga dan semua orang yang bersamanya serentak mendongakkan kepala melihatnya. Betul saja dengan yang diutarakan oleh Jingga soal bertemunya dua ras dari dua alam berbeda tepat di posisi keberadaan para kultivator aliansi Es Utara. Pertarungan pun pecah seketika. Langit di atas kota Luyan yang gelap berubah menjadi terang benderang karena adanya peraduan energi spiritual dengan bola-bola api yang diciptakan oleh para iblis yang terus membalas serangan para prajurit istana Langit.
Di kubu aliansi Es Utara sendiri menjadi yang paling rumit. Aksinya yang terus melemparkan bongkahan es ke kota Luyan dianggap oleh prajurit istana Langit sebagai penjahat alam fana. Demikian juga dengan para iblis yang melihatnya sebagai santapan jiwa yang tidak boleh dilewatkan. Di antara puluhan iblis yang bertarung, terdapat dua iblis yang merupakan ibu dan anak dari klan pemburu Linghun Lieshou pun dibuat bingung dengan situasi yang dihadapinya. Keduanya yang tengah mengejar para iblis yang menolak kembali ke alam iblis, harus ikut bertarung menghadapi para kultivator alam fana dan juga puluhan prajurit istana Langit.
“Musnahkan semuanya. Ingat, kita berasal dari mana? Kita adalah klan pemburu terhebat di alam semesta ini,” jawab Nuren dengan bangga.
“Tapi terik matahari membuat energi kita terkuras cepat, walau mereka semua makhluk lemah. Namun, di alam fana ini kita menjadi setara dengan mereka,” sergah Feichang merasakan energi iblisnya banyak terkuras disebabkan harus memburu para iblis di alam fana.
“Jangan bodoh, Chang’er. Gunakan kekuatan jiwamu, jangan terus mengandalkan energi iblis di alam fana ini,” tegas Nuren.
“Baik, Ibu,” timpal Feichang langsung merubah gaya bertarungnya.
Keduanya pun mulai beringas menyerang semua makhluk dari tiga alam berbeda di sekitarnya.
Jingga yang terus memperhatikan keduanya lalu menoleh ke arah kedua adiknya berada.
“Memimu, Naninu. Lihat aku!” panggil Jingga kepada keduanya.
__ADS_1
“Iya, Kak,” sahut Qianmei mengalihkan pandangannya ke arah Jingga.
Bai Niu yang ketakutan masih terus saja mendongak ke arah langit. Ia takut dimarahi oleh Jingga karena ucapannya tadi.
“Naninu!” panggil Jingga dengan menaikkan nada suaranya.
“I-iya, Kak. Aku lihat Kakak,” sahutnya dengan gemetar menatap Jingga.
“Dengarkan dengan baik,” imbuh Jingga memintanya.
“Baik, Kak,” sahut keduanya serentak.
“Kalian berdua perhatikan dengan seksama pertarungan kedua iblis wanita di atas. Lihatlah cara keduanya bekerja sama dalam membantai musuh dengan begitu rapi dan terpola dengan baik,” ujar Jingga kembali memintanya.
“Baik, Kak,” timpal keduanya memahami ucapan Jingga.
Keduanya lalu kembali menyaksikan pertarungan di atasnya dan terfokus pada kedua wanita iblis yang sedang bertarung.
“Suamiku, jangan terlalu keras kepada kedua adikmu. Asal kamu tahu, keduanya sangat mencintaimu, Sayang,” ujar Xian Hou mengingatkannya.
“Kalau mereka berdua begitu mencintaiku, kenapa aku tidak boleh menyentuh keduanya?” balas Jingga sekenanya.
“Aw! Sakit, Sayang. Ampun!” ringis Jingga yang dipelintir pinggangnya oleh Xian Hou.
“Makanya, punya mulut itu dijaga. Jangan seenaknya saja,” kata Xian Hou lalu melepaskannya.
Bai Niu dan Qianmei yang sedang fokus memperhatikan pertarungan ibu dan anak di atasnya harus berusaha keras membungkam mulut agar tidak tertawa mendengar jeritan sang kakak yang meringis kesakitan.
Kembali pada pertarungan sengit di balik awan hitam yang berangsur hilang karena suhu panas dari energi api para iblis dan juga para prajurit istana Langit yang bertarung beserta dengan terik matahari yang mencapai puncaknya.
Matahari tepat berada di ketinggian sempurna. Para iblis yang mengandalkan energi iblis kini harus mengalami sisa-sisa terakhir kekuatan utamanya. Satu per satu dari bangsa iblis mulai mati mengenaskan dikalahkan oleh prajurit istana Langit dan juga oleh kultivator aliansi Es Utara. Hanya dua iblis saja yang masih bertahan dalam pertarungan. Keduanya adalah Nuren dan Feichang yang tidak menggunakan energi iblis dalam pertarungannya. Meskipun keduanya mengalami kelambatan dalam bermanuver, kerja sama dan pengalaman dalam bertarung membuat keduanya masih terlalu tangguh untuk dikalahkan oleh dua ras dari alam berbeda.
Seiring waktu berjalan, pertarungan hanya tinggal menyisakan belasan orang saja yang terus berusaha keras untuk saling membunuh satu sama lainnya.
__ADS_1
“Kak Jingga, kedua iblis wanita sangat mendominasi pertarungan. Apakah keduanya merupakan pengikut yang disebutkan Kakak sebelumnya?” tanya Qianfan begitu mengagumi cara bertarung kedua iblis wanita.
“Betul. Keduanya merupakan seorang pemburu tersohor di alam iblis, dan keduanya merupakan pengikutku,” jawab Jingga membanggakan diri memiliki keduanya.