Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Mofa Gu


__ADS_3

Sesampainya di kediaman sang guru. Jingga melangkah santai keluar rumah. Sorot matanya begitu teduh memperhatikan setiap sudut area luar yang begitu menyeramkan.


Kakek Wu Yao dan Xinxin mengikutinya, namun ketiganya menutup rapat bibir tanpa berucap sekalipun.


Jingga yang puas memperhatikan seluruh sudut area luar langsung menoleh ke arah gurunya dan mengawali pembicaraan.


"Kakek, kapan kau akan mengajariku ilmu sihir?" Tanya Jingga dengan suaranya yang lembut.


"Kapan pun, Yang Mulia memintanya," jawab Kakek Wu Yao,


"Sebenarnya hamba memiliki sebuah sekte sihir di lembah Mofa Gu. Apakah, Yang Mulia ingin melihat aktivitas para murid penyihir di sana?" Imbuhnya menawarkan.


Jingga tersenyum riang mendengarnya, ia begitu penasaran dengan sekte khusus sihir tersebut.


"Ayo kita ke sana!" Ajak Jingga dengan antusias.


Kakek Wu Yao menganggukinya lalu terbang diikuti oleh Jingga dan Xinxin di belakangnya.


Ketiganya terus melaju terbang hingga sampai pada pegunungan berbatu yang memiliki banyak retakan menganga di punggungnya. Kakek Wu Yao memperlambat laju terbangnya lalu perlahan turun ke tengah sebuah lembah yang memiliki empat bangunan berbentuk kastil di empat penjuru mata angin.



Ilustrasi lembah Mofa Gu. Karya Bang Jimmy.


Tak berselang lama, ketiganya sampai di tengah area lembah bernama Mofa Gu.


Jingga begitu kagum memperhatikan kastil yang sangat megah dan bernuansa mistis di tempat ia berdiri.


"Selamat datang di sekte Mofa Gu. Hamba akan membawa Yang Mulia melihat seluruh kegiatan para murid sihir," ucap Kakek Wu Yao menyambutnya.


"Ha-ha. Berhentilah memanggilku Yang Mulia! Biarkan aku menyembunyikan identitasku." Balas Jingga.


"Baik, Yang Mulia,"


"Maaf. Maksudku, Jingga."


Jingga tersenyum lalu memberikan isyarat kepada gurunya untuk berjalan duluan memasuki salah satu kastil di depannya yang memiliki gerbang besar pada dinding batu yang melingkar.

__ADS_1


Ketiganya lalu berjalan pelan ke arah gerbang besar di depannya.


Tap, tap!


Gerbang yang besar terbuka dengan sendirinya ketika Kakek Wu Yao melambaikan punggung tangannya.


Tampak area dalam kastil sekte terlihat sangat kuno dan penuh aura mistis di dalamnya.


Wuzz! Tap, tap!


Empat pria tua berjanggut merah dan bertanduk panjang menghampiri ketiganya. Tak lama kemudian, dua gadis cantik berkulit pucat menampakkan diri di belakang keempat pria tua.


"Salam hormat, Tetua Sepuh." Ucap keenamnya serentak sambil membusungkan badan.


"Salam, para Tetua sekalian," balas Kakek Wu Yao,


"Kedatanganku kemari hanya untuk mengenalkan sekte Mofa Gu kepada murid baruku, Jingga." Ujar Kakek Wu Yao sejenak menoleh ke arah muridnya.


"Salam untuk para Tetua. Aku Jingga, murid baru Kakek Wu Yao." Ucap Jingga mengenalkan dirinya.


Keempat Tetua membalas dengan mengepalkan tangan menjura menyambutnya lalu satu per satu memperkenalkan diri diikuti oleh kedua gadis setelahnya. Dimulai dari seorang pria tua bermata besar melangkah maju lalu menyebutkan namanya diikuti oleh yang lainnya.


Keempatnya merupakan para Tetua dari empat divisi sihir di masing-masing kastil.


Yang pertama, bernama Kuan Etou. Tetua divisi Alkemis iblis Wushi Xuetu. Kedua, bernama Da Bizi. Tetua divisi penyihir suci Sheng Nuwu. Ketiga, bernama Du Zui. Tetua divisi penyihir pemikat hati Moshu Shi, dan yang keempat bernama Qingxie yang merupakan tetua divisi elementalis Yuansu.


Setelah sedikit berbasa-basi, para Tetua langsung menghilang dari posisinya kecuali Tetua bermata besar Kuan Etou yang akan memimpin jalan memperkenalkan wilayah yang diketuainya bersama kedua gadis cantik bernama She Bai dan Lu She ikut turut serta mendampingi Kakek Wu Yao dan kedua muridnya.


Namun, kehadiran dua gadis cantik itu membuat seorang gadis yang daritadi terdiam merasa tidak nyaman. Apalagi keduanya terus saja melirik Jingga dengan niat tersembunyi.


"Dasar iblis betina tak tahu diri!" Sungut Xinxin tidak menyukai kehadiran keduanya.


Jingga yang mendengarnya langsung bereaksi dengan merangkulkan tangannya di pundak Xinxin. Hal itu membuat Xinxin mereda kekesalannya dan berganti menjadi kegembiraan.


Tetua Kuan Etou lalu membawa Jingga pada sebuah paviliun tempat para alkemis iblis menjalani ritualnya meracik ramuan sebagai metode pemanggil sihir.


Para alkemis tampak begitu fokus namun santai meracik berbagai ramuan dengan mulut komat-kamit membaca mantra.

__ADS_1


Jingga yang melihatnya tampak terkagum, namun hanya sebentar saja, ia memperhatikannya. Ia pun meminta gurunya membawa ke tempat lainnya.


Kakek Wu Yao menurutinya. Ia melirik ke arah Kuan Etou untuk berpamitan lalu pergi ke wilayah Sheng Nuwu di kastil lainnya, yaitu kastil yang dihuni oleh para penyihir suci.


Penyihir suci Sheng Nuwu adalah para penyihir kegelapan yang biasa mengikuti misi bersama para pasukan elit iblis untuk menjerat para kultivator aliran hitam di alam fana. Mereka terbiasa diam tanpa terdengar suara ketika berada di dalam kastil sampai mendapatkan undangan misi.


Tidak ada yang menarik perhatian Jingga setelah melihatnya. Namun berbeda dengannya. Para Sheng Nuwu terlihat begitu tertarik dengan sosok Jingga yang menurut mereka sangat unik. Akan tetapi, para Sheng Nuwu tidak bereaksi apa pun karena kehadiran Kakek Wu Yao di dekat Jingga.


Seorang tetua bernama Da Bizi menghampiri kelimanya. Ia lalu membawa tamunya mengelilingi area kastil sambil menjelaskan semua yang terkait dengan divisi Sheng Nuwu.


Selesai dari divisi Sheng Nuwu. Jingga bersama yang lainnya pergi ke kastil selanjutnya yang ditempati oleh penyihir pemikat hati Moshu Shi. Kali ini Jingga tampak begitu heran. Seluruh murid sekte yang menempati divisi Moshu Shi merupakan para gadis cantik tanpa sehelai benang yang melekat di tubuhnya.


Tetua Du Zui melangkah menyambutnya. Sama seperti Tetua sebelumnya. Ia juga membawa Jingga berkeliling melihat ruang dalam kastil. Beberapa gadis yang ditemuinya selalu saja menatap Jingga dengan tatapan menggoda. Namun hal itu tidak membuatnya tertarik untuk membalas tatapan para gadis pemikat hati. Ia masih bersikap dingin dan terus fokus mendengar penjelasan dari Tetua Du Zui.


Setelah selesai mengelilingi kastil yang ditempati oleh penyihir Moshu Shi. Jingga melanjutkan ke kastil terakhir, yaitu divisi penyihir elementalis Yuansu.


Tetua Qingxie langsung menyambut kedatangannya lalu membawa Jingga mengelilingi kastil yang diketuainya. Tidak sama dengan ketiga divisi lainnya yang membuat Jingga tidak begitu tertarik. Kali ini sorot matanya terlihat berbinar. Ia begitu senang melihat para penyihir iblis memainkan banyak elemen seperti api, air, udara, dan tanah.


Saking tertariknya, Jingga mengabaikan penjelasan Tetua Qingxie. Ia mendekati para murid divisi Yuansu untuk memperhatikannya lebih dekat.


Akan tetapi, para penyihir Yuansu terlihat tidak senang didekati oleh Jingga. Beberapa murid yang didekatinya langsung menghindarinya.


Kakek Wu Yao yang melihat reaksi para murid divisi Yuansu langsung menggeleng kecewa. Ia lalu menjentikkan jarinya menyerang para murid yang menjauhi Jingga.


Wuzz!


Dhuar! Dhuar!


Beberapa murid sekte divisi Yuansu yang menjauhi Jingga diledakkan oleh Kakek Wu Yao. Hal itu membuat Tetua Qingxie terperangah tidak percaya akan eksekusi langsung pemilik sekte pada anak asuhnya.


Ia sangat mengenali perangai Tetua Sepuh pemilik sekte Mofa Gu yang tidak pernah langsung mengeksekusi murid sekte, kecuali melakukan kesalahan fatal.


Dari apa yang telah terjadi, ia mulai mencurigai siapa sosok sesungguhnya pemuda iblis yang datang bersama Tetua Sepuh sekte.


Tidak hanya Tetua Qingxie yang terperangah, puluhan murid sekte yang berada di divisi Yuansu begitu tercengang tidak percaya dengan apa yang terjadi. Mereka semua langsung menghentikan aktivitasnya.


Sontak saja hal itu membuat suasana dalam kastil menjadi hening.

__ADS_1


Jingga lalu menoleh ke arah gurunya dengan menyipitkan mata memberinya isyarat untuk tidak sampai membuat tetua sekte menjadi curiga kepadanya.


__ADS_2