Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Jamuan Suhut Kota


__ADS_3

Benar saja apa yang dikatakan oleh Jingga, tiga kuda semakin dekat menghampirinya. Seorang pria paruh baya bersama seorang wanita yang mendekapnya di belakang terus memperhatikan Jingga dan Naray dari kejauhan sampai mendekatinya.


"Kalian berdua siapa dan ada perlu apa datang ke tempatku?" Tanya pria paruh baya.


"Kami adalah pendekar dari Tanah Para Dewa, kami kemari untuk mencari tempat singgah sebelum melanjutkan perjalanan ke pulau Intan" jawab Jingga menjelaskan.


"Ha ha ha, berarti kalian berdua adalah tamuku, mari ikut kami masuk" ajak pria paruh baya.


Naray mengikutinya dari belakang, diikuti oleh kedua muda-mudi yang merupakan putra dan putri suhut kota.


Setibanya di dalam kediaman suhut kota, Jingga dan Naray diantar ke kamar yang disediakan khusus untuk tamu.


Sore hari, keduanya dijemput oleh seorang pelayan yang mengantarkannya ke aula utama. Terlihat empat orang penghuni sedang duduk santai menunggu keduanya.


"Mari, Adik-Adik. Silakan duduk!" Pinta suhut kota bernama Batara.


Jingga dan Naray langsung duduk di kursi yang disediakan untuk keduanya. Tidak lama kemudian, beberapa orang memasuki aula dengan pakaian adat, mereka melakukan tarian penyambutan tamu.


Jingga dan Naray sedikit terkejut dengan acara yang diadakan oleh suhut kota yang tidak pernah diduganya.


Sepanjang pergelaran acara, dua pasang mata dari arah lainnya terus saja memperhatikan Jingga dan Naray yang larut menikmati acara, keduanya adalah Marisi pemuda berusia sekita dua puluhan tahun yang merupakan putra suhut Batara dan yang kedua adalah Marulina adiknya Marisi yang masih berusia delapan belas tahun, selisih dua tahun lebih tua dari Naray.


Dua jam acara penyambutan berlangsung, Jingga dan Naray dibawa ke ruangan lain untuk makan bersama, sama seperti sebelumnya. Marisi dan Marulina terus memperhatikannya, Nyonya Manik dan juga suaminya Tuan Batara mengetahui maksud tatapan kedua anaknya, namun mereka hanya tersenyum saja menanggapinya.


Tepat di malam hari, Jingga dan Naray sedang duduk berbincang di kursi depan kamarnya.


Kedua anak suhut kota menghampiri keduanya dengan membawa beberapa penganan lalu ikut duduk bersama.


"Terima kasih, Bang. Jadi enak malam begini dikasih banyak kue" ucap Jingga langsung melahapnya.


"Sama-sama, Bang. Tapi kue itu aku bawa untuk Naray, bukan untuk Abang" balas Marisi tidak enak hati.


"Yang ini buat Abang" potong Marulina mendorong kue miliknya ke arah Jingga.


Naray yang melihatnya langsung mengambil kue yang disodorkan Marulina.


"Sekarang adil kan?" Ucap Naray langsung melahapnya.


Keempat muda-mudi tertawa-tawa, mereka lalu berbincang sambil menikmati penganan.


"Bang, boleh aku minta izin Abang" ucap Marisi memberanikan diri.


Jingga menatapnya serius, ia tahu maksud ucapan Marisi padanya, namun ia membiarkan Marisi untuk mengatakannya langsung.


"Katakanlah!" Balas Jingga.

__ADS_1


"Anu, Bang. Anu" ucap Marisi mendadak gugup.


Tampak keringat dingin mengucur dari pori-pori wajahnya, ia tidak berani menatap Jingga.


"Tidak perlu takut begitu, santai saja" kata Jingga menenangkannya.


"Aku, aku suka sama Abang" celetuknya.


Jingga dan Marulina membelalakkan mata mendengarnya, bahkan Naray yang sedang menikmati kue harus tersedak mendengarnya.


"Maaf, Bang. Maaf! Maksudku, aku menyukai Adik Abang. Naray"


"Apa Abang merestuiku sebagai Adik ipar, Abang?" Sambungnya meluruskan ucapannya.


Jingga, Marulina dan Naray langsung menghempaskan napas mendengarnya. Marisi menggaruk-garuk kepalanya sambil cengengesan melihat reaksi ketiganya.


"Aku bukannya tidak setuju, Naray masih belia. Tunggulah sampai dia dewasa, tapi kau bisa tanyakan langsung pada Adikku, keputusan ada padanya" timpal Jingga melemparkan keputusan pada adiknya.


Marisi langsung melirik Naray, wajahnya tampak penuh harap akan keputusan yang diambil oleh Naray. Naray yang ditatap oleh Marisi terlihat bingung, ia berkali-kali melirik Jingga yang sibuk pada makanannya.


"Maafkan aku, Bang. Aku masih kecil, kalau Abang serius padaku, Abang bisa mencariku di Tanah Para Dewa beberapa tahun mendatang" ucap Naray membalasnya.


"Apakah kamu akan menungguku?" Tanya Marisi meminta kepastian.


"Aku terima, sebelum lima tahun. Aku yakin bisa menemukanmu" ucap Marisi penuh tekad.


Di sampingnya, Marulina terus menyuapi Jingga dengan kue yang dibawakannya. Ia tidak berani mengungkapkan isi hatinya seperti kakaknya Marisi. Ia lebih memilih untuk memendam perasaannya.


Keempat muda-mudi melanjutkan perbincangannya diselingi candaan yang terus dilontarkan secara bergantian. Waktu pun sudah begitu larut, dengan terpaksa keempatnya kembali ke kamar masing-masing.


Di atas ranjang kayu, Naray tidur memeluk Jingga. Ia tersenyum sendiri dalam khayalannya.


"Sepertinya ada yang lagi kasmaran, apa Neng yakin dengan keputusan Neng?" Tanya Jingga terus mengusapi kepala adiknya yang bersandar di dadanya.


"Marisi tidak kalah tampan dari Aa, sulit buatku untuk menolaknya. Aku yakin dia bisa membuktikan kata-katanya, sekarang aku tidak perlu sedih memikirkan Aa yang akan meninggalkanku besok" jawab Naray mendongakkan wajahnya menatap Jingga.


"Baguslah, Aa bisa pergi dengan tenang" balas Jingga lalu menutup kedua matanya.


"A, apa Aa tidak merasakan rasa suka dari Marulina?" Tanya Naray sambil membuka kelopak mata Jingga yang tertutup.


"Aa sudah tahu. Sekarang tidurlah, atau Aa akan berbuat enak sama Neng" jawab Jingga lalu menarik tangan Naray yang mengganggunya.


"Sok saja kalau Aa mau tanggung jawab menikahiku" tantang Naray lalu mendekatkan wajahnya.


"Aduh, sakiit!" Jerit Naray yang kedua telinganya dijewer.

__ADS_1


Jingga terkekeh lalu memeluk adiknya dan keduanya pun tertidur.


Di pagi hari yang cerah, selesai makan bersama keluarga suhut kota. Jingga dan Naray berpamitan.


"Berhati-hatilah kalian selama memasuki wilayah pulau Intan, kalian tidak boleh lengah selama berada di sana. Pulau Intan satu-satunya wilayah paling mengerikan yang berada di pulau Emas secara keseluruhan" ujar Batara mengingatkannya.


"Terima kasih, Suhut kota. Kami memahaminya" balas Jingga menyalaminya lalu beralih ke Nyonya Manik dan Marisi.


Sampai pada tangan Marulina, Jingga tersenyum menatapnya.


"Abang, jangan lupakan aku ya" ucap Marulina memintanya.


Jingga menganggukan kepala mengiyakannya, ia lalu melepaskan tangan Marulina dan langsung menaiki kuda.


Di belakangnya, Marisi menarik tangan Naray lalu memeluknya dengan erat.


"Tunggu Abang ya Neng, apa pun rintangannya, Abang akan menghadangnya demi cinta Abang" ucap Marisi bertekad.


Naray mengangguk lalu membalas pelukannya, ia begitu bahagia dengan niat Marisi yang selalu meyakinkannya.


"Neng, ayo kita jalan" potong Jingga yang tidak nyaman dilihat oleh keluarga suhut kota.


Naray langsung melepas pelukannya, ia tersenyum menatap pemuda yang berlinang air mata lalu mencium lembut pipi Marisi. Setelahnya ia langsung menaiki kuda dengan perasaan begitu bahagia.


Jingga melajukan kudanya meninggalkan kediaman keluarga suhut kota. Berkali-kali Naray menoleh ke arah belakang sambil melambaikan tangan.


Baru saja keduanya keluar dari halaman luas kediaman suhut kota. Marisi bersama Marulina menyusulnya dengan membawakan busur panah.


"Neng, ambillah!" Pinta Marisi menyodorkannya.


Naray langsung mengambilnya lalu melingkarkannya di punggung.


"Buktikan semua yang Abang ucapkan. Aku akan menunggu Abang dalam lima tahun ini" ucap Naray dengan tatapan serius.


"Siap, sayang" balas Marisi.


Jingga kembali melajukan kuda meninggalkan kakak beradik yang terus melihatnya sampai menghilang dari pandangan keduanya.


"Neng, kok tidak meluk Aa lagi. Kenapa?" Tanya Jingga heran selama perjalanan Naray hanya memegangi kain bajunya saja.


"Nanti ada yang cemburu, A" kilah Naray menjawabnya.


"Baguslah kalau begitu" timpal Jingga lalu mempercepat laju kudanya meninggalkan kota Dame yang memiliki arti Damai.


Walau hanya sehari singgah, kota Dame laksana surga yang berada di alam fana. Kesan yang menyenangkan di hati Jingga dan Naray yang harus pergi meninggalkannya.

__ADS_1


__ADS_2