
Jingga masih bisa bertahan menahan serangan pria iblis walaupun pakaiannya menjadi compang camping tak karuan.
Pria iblis menyeringai menatapnya, ia pertama kalinya melihat seorang iblis mampu menahan serangan yang begitu mematikan darinya.
"Ha ha ha, kau tahan banting juga iblis muda. Tapi maaf, aku tidak pernah membiarkan lawanku hidup. Sekarang, pergilah ke neraka!" Ucap pria iblis langsung mengulangi jurusnya memadukan sebelas pedang dan berputar cepat membentuk mata bor.
Siu!
Boom!
Pria iblis melesat begitu cepat dengan ujung pedang yang sangat mengerikan.
"Aah!" Pekik pria iblis terlempar jauh ke langit.
Jingga yang sudah pasrah akan nasibnya kini merasa heran dengan apa yang terjadi. Ia menengadahkan kepalanya ke atas, tampak seorang gadis bersayap delapan melayang terbang di atasnya.
"Hou'er" ucap Jingga pelan, tak lama ia jatuh terduduk menopang pedangnya.
Xian Hou langsung turun membantu suaminya Jingga lalu menariknya ke alam peri.
"Istirahatlah suamiku" ucap Xian Hou membaringkan suaminya yang begitu lemah setelah pertarungan melawan pria iblis.
"Benar kata pepatah, di atas langit masih ada langit. Semesta ini sungguh luas, aku kira musuh terkuatmu hanyalah dewa Matahari Taiyangshen. Ternyata dugaanku salah" imbuh Xian Hou sambil mengusapi kening yang terbaring di hadapannya.
"Suamiku, kau harus bisa meningkatkan kultivasimu, selama ini kau tidak pernah mempedulikannya, raja iblis Yuangu Mowang hanyalah mewariskan pondasinya saja, untuk kekuatan sesungguhnya kau harus berusaha keras untuk mendapatkannya" sambung ratu peri Xian Hou mengingatkannya.
"Iya sayang maafkan aku, aku terlena dengan kekuatan yang aku miliki. Ternyata masih sekuku jari tangan kekuatan yang aku miliki" timpal Jingga baru pertama kalinya ia mendapatkan lawan yang berada di atas tingkatannya.
"Tidak begitu masalah, di alam fana kau tidak menemukan lawan sepadan, itu sangatlah wajar. Sekarang terlambat lebih baik daripada tidak mengetahuinya sama sekali. Kau berada di alam yang tepat untuk meningkatkan kultivasimu"
"Suamiku, sepertinya di alam iblis ini kau akan sering menghadapi lawan tangguh, maafkan aku tidak bisa membantumu lagi. Berusahalah dengan lebih keras lagi untuk menerobos ke tingkatan lebih tinggi. Aku yakin kau pasti bisa" ujar Xian Hou begitu yakin akan kemampuan suaminya.
"Terima kasih sayang, bolehkah aku menciummu?" Pinta Jingga yang begitu merindukan istrinya.
Xian Hou menempelkan jari manisnya di bibir Jingga, ia ingin Jingga pulih dulu sebelum melakukannya.
Jingga tersenyum kecut mendapat penolakan dari istrinya, ia memalingkan wajahnya menatap bunga-bunga yang bergelantungan di atasnya.
"Sayang, bagaimana caranya agar aku bisa menerobos ke ranah berikutnya?" Tanya Jingga.
"Kau harus menghisap jiwa iblis yang tingkat kultivasinya berada di atasmu, seperti pria iblis tadi yang kau hadapi" jawab Xian Hou.
"Kenapa begitu sulit? Bisakah yang berada di bawahku saja yang aku makan jiwanya?" Tanya Jingga menambahkan.
__ADS_1
"Lemah! Kau ini pria atau bukan?" Ketus Xian Hou terlihat kecewa dengan suaminya.
"Ha ha, jangan cemberut begitu sayang. Baiklah aku akan berusaha keras untuk bisa mengalahkannya di pertarungan berikutnya" kilah Jingga tidak memiliki pilihan selain mengikuti aturan untuk dapat meningkatkan ranah kultivasinya yang masih berada di ranah Emperor Master Berlian.
Jingga lalu duduk bermeditasi, ia kembali mempelajari semua peninggalan dari Yuangu Mowang.
"Pengalaman lebih berharga daripada menelan jutaan teori yang banyak tidak aku pahami maksudnya" gumam batin Jingga setelah memperhatikan kembali warisan dari Yuangu Mowang.
Sebulan lebih Jingga berada di alam peri istrinya, ia kembali membuka matanya setelah bermeditasi mempelajari kembali warisan dari Yuangu Mowang.
Jingga tampak begitu heran memperhatikan sesuatu yang baru melekat di tubuhnya, pakaian yang ia kenakan begitu indah dengan dominasi berwarna hitam dan beberapa garis berwarna merah terang.
"Sungguh pakaian yang elegan" puji Jingga langsung berdiri sambil memperhatikan pakaian yang ia kenakan.
"Istriku, terima kasih" ucap Jingga berjalan menghampiri istrinya.
Xian Hou yang sedang duduk di atas teratai langsung melayang merangkul Jingga yang tampak begitu gagah memakai pakaian yang ia berikan.
"Apa kau menyukainya suamiku?" Tanya Xian Hou lalu mengecup lembut bibir suaminya.
"Aku sangat menyukainya, apa kau yang membuatkannya?" Balik tanya Jingga langsung menarik kepala istrinya.
Xian Hou mengangguk pelan lalu keduanya berciuman dengan lembut.
Seminggu sudah keduanya menuntaskan kerinduannya, Jingga dengan semangat baru yang berkobar bersiap untuk kembali ke alam iblis.
"Sayang, doakan aku selalu" ucap Jingga sambil memeluk istrinya.
"Itu pasti suamiku, hancurkan semua musuhmu Jagoan hatiku" balas Xian Hou melepaskan pelukannya.
Jingga langsung pergi tanpa menoleh istrinya. Di tempat yang sama di kawah bekas pertarungannya, Jingga melayang terbang ke udara memindai area sekitarnya.
"Pria iblis tidak berada di sini, sebaiknya aku melanjutkan perjalanan ke benua hitam Heibiantan" gumamnya.
Jingga melesat terbang ke arah yang ditujunya. Selama terbang, Jingga tidak mengalami hal seperti sebelumnya di mana ia tanpa sadar memasuki perangkap ilusi iblis. Kali ini penerbangannya berjalan mulus.
Tepat berada di suatu lembah yang dipenuhi oleh kabut merah yang berasa sangat panas suhunya. Jingga memutuskan untuk beristirahat di bawahnya, ia langsung turun dan berjalan pelan sambil terus memindai keberadaan iblis di sekitarnya.
"Hem! Sepertinya akan ada penyambutan meriah" gumam Jingga lalu bersiap untuk pertarungannya.
Puluhan iblis hitam dengan tubuh yang begitu besar menghampirinya dengan merangkak pelan.
Tidak ada basa basi dari puluhan iblis hitam, mereka menjulurkan lidahnya yang bercabang seperti ular namun sangat panjang.
__ADS_1
"Kemarilah bayi besar!" Pinta Jingga dengan tatapannya yang tajam.
Puluhan iblis hitam masih diam di posisinya tanpa berniat untuk menyerang, Jingga merasa heran melihatnya.
Tak lama dua iblis berwujud manusia muncul tiba-tiba di hadapannya.
"Selamat datang di lembah kematian, iblis Tongzhi" sapa seorang iblis yang terlihat masih remaja.
"Iblis Tongzhi! Apa maksudmu?" Tanya Jingga.
Kedua iblis hitam keheranan mendengar pertanyaan pemuda di depannya.
"Ha ha, aku baru tahu ada iblis yang tidak menyadari jenisnya sendiri. Ah itu tidaklah penting, katakan maksud tujuanmu datang ke tempat kami? Tanya seorang iblis yang berjanggut panjang.
"Aku hanya kebetulan lewat, tujuanku adalah ke benua hitam Heibiantan" jawab Jingga.
"Ha ha ha, kau pura-pura bodoh atau memang bodoh beneran" balas iblis janggut panjang tidak habis pikir.
"Apa maksudmu, Tuan?" Tanya Jingga tidak memahaminya.
"Ha ha ha, dasar bodoh! Kau sudah berada di benua hitam Heibiantan" jawabnya sambil terkekeh.
Jingga begitu heran mendengarnya, ia hanya tahu setiap benua akan memiliki batas lautan atau sebuah danau besar seperti di alam fana.
"Sepertinya kau terlalu sering berada di alam fana, jadi tidak begitu tahu alam iblis. Aku akan memberimu sambutan meriah" sambung iblis berjanggut langsung menghilang dari tempatnya.
Jingga yang masih bengong memikirkan maksud perkataan iblis berjanggut tiba-tiba merasakan sesuatu yang basah melilit di lehernya.
"Eh, apa ini?" Tanya Jingga merasa geli.
Leher, kedua tangan dan kedua kakinya terlilit lidah iblis hitam. Jingga lalu menahan tarikan yang semakin erat dari lima iblis hitam.
Seekor iblis hitam lainnya langsung menerkam Jingga dengan membuka mulutnya yang lebar.
Hap!
Kepala Jingga dilahap oleh seekor iblis hitam yang berusaha memakannya.
Jingga langsung memancarkan api semestanya ke seluruh badannya.
Sret!
Lidah iblis hitam langsung mengering dan berubah menjadi serbuk hitam yang terus merambat sampai meleburkan keenam ekor iblis hitam.
__ADS_1
"Dasar kurang ajar! Kalau Istriku yang melakukannya aku pasti senang ha ha" kekeh Jingga setelah berhasil meleburkan keenam iblis.