Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Berduka


__ADS_3


Jingga tersenyum lebar melihat hasilnya. Pandangannya kembali ke atas langit. Ia memindai keberadaan beast monster alam dewa yang memutari area hutan Hantu. Namun, tidak lama kemudian, para beast monster dari klan naga dan phoenix mulai menjauhi wilayah hutan Hantu.


“Syukurlah mereka menjauh,” gumam Jingga lalu menoleh ke arah istrinya dan kedua adiknya.


“Sudah selesai, ayo kita turun!” ajak Jingga.


Jingga melompat dengan ringan disusul ketiga gadis di belakangnya. Mereka berjalan santai menghampiri penduduk yang sedang beraktivitas.


“Jingga!” pekik seorang pria berusia sekitar 30-an dari arah seberang danau.


Pria itu pun melayang terbang menghampiri Jingga. Para penduduk yang mendengarnya langsung memperhatikan laju terbang pria itu hingga mendarat di dekat keempat muda-mudi yang tersenyum ceria menyambutnya.


“Tian’er, kau terlihat semakin tua saja … seharusnya seorang kultivator terlihat muda dari usia aslinya. Ada apa denganmu?” tanya Jingga melihatnya heran.


Chen Tian tidak langsung menjawabnya, matanya melirik ke arah gadis bergaun hitam yang sedang memperhatikan para penduduk.


Jingga terkekeh pelan menanggapinya lalu berkata,


“Katakan saja kalau kausuka kepadanya.”


Chen Tian memerah wajahnya, ia pun menundukkan wajah tidak berani menatap si gadis yang berpura-pura tidak memperhatikannya.


Suasana menjadi canggung tanpa ada yang bersuara. Qianmei yang biasa menggoda kakak perempuannya, kali ini hanya berdiam diri tidak ingin mencampurinya. 


“Ehem,” deham Jingga mencoba mencairkan suasana.


“Suamiku, aku masih penasaran bagaimana para penduduk bisa memasuki hutan Hantu ini?” tiba-tiba Xian Hou menanyakannya.


“Tian’er, antarkan aku menemui ibu,” ucap Jingga memintanya.


“Ba–baik,” balasnya dengan terbata-bata.


Tanpa menunggu lagi, Chen Tian langsung berbalik memimpin jalan. Sampai di sebuah gubuk kecil, Chen Tian seloroh memasukinya lalu kembali keluar bersama dengan seorang wanita tua yang tampak sedang sakit. Wajahnya begitu pucat dengan tubuh yang lunglai dibopong Chen Tian yang membawanya keluar menemui Jingga.


“Ibu,” panggil Jingga dengan nada datar.


Bibi Ning Rum memaksakan senyum mendengarnya. Kondisinya yang sedang sakit, membuatnya sulit membalas panggilan Jingga. 


Melihat Bibi Ning Rum yang begitu pucat dan lemah membuat Jingga langsung meluruh memeluknya.


“Maafkan aku yang baru kembali menjenguk Ibu,” bisik Jingga sambil mengusap punggung Bibi Ning Rum yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri.


“Terima kasih, anakku. Ibu akhirnya bisa meli–” ucapnya terpotong.


Bibi Ning Rum menghembuskan napas terakhirnya dalam pelukan Jingga. Tangannya yang melingkar di pinggang Jingga pun terlepas dengan sendirinya.

__ADS_1


“Ibu,” lirih Jingga tidak memercayai kepergian tiba-tiba sang ibu yang baru sempat ditemuinya kembali.


Bai Niu dan Qianmei langsung menangis melihatnya, begitu pun dengan Xian Hou yang akhirnya tidak kuasa untuk menahan bulir air mata yang menetes membasahi pipinya.


Chen Tian sendiri begitu bergetar tubuhnya. Sang ibu merupakan satu-satunya keluarga yang dimilikinya.


“Ibu!” pekik Chen Tian tidak kuasa melihat kepergian ibunya. 


Para penduduk yang mendengar jeritannya langsung bergegas menghampiri. Mereka semua ikut merasakan duka yang dialami oleh Chen Tian.


Seorang kakek tua yang memakai tongkat melangkah mendekati Chen Tian lalu menepuk bahu berulang kali.


“Tian’er, jangan menangisi kepergian ibumu. Biarkan ibumu pergi dengan tenang,” ujarnya.


“Guru,” balas Chen Tian lalu mendekap gurunya dengan erat.


Kakek tua itu lalu mengalihkan pandangannya menatap Jingga dengan tatapan yang teduh. Bibirnya merekah membentuk sebaris senyum lembut.


“Sudah sekian lama, Nyonya Ning Rum berusaha untuk bertahan hidup melawan penyakitnya hanya karena ingin bertemu denganmu. Terima kasih, sudah berkenan menemuinya, Nak Jingga,” ujar kakek tua memberitahunya.


JLEB!


Seperti tersambar petir mendengarnya. Jingga merasakan kepiluan yang amat mendalam di hatinya. Rasa yang lebih menyakitkan dari menyaksikan kematian keluarganya sewaktu kecil. Ibunya Ning Rum adalah sosok yang paling berjasa dalam hidupnya selain keluarga sedarah dan kakek angkatnya Tang Xie Zhang. Sosok ibu yang begitu tulus menyayanginya dari kecil hingga tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah.


Tidak ada kata yang bisa ia katakan selain mengangguk pelan tanda terima kasih kepada sang kakek yang merupakan tetua sepuh dari sekte Teratai Langit.


Jingga menggeleng pelan lalu menjawabnya,


“Tidak, hutan Hantu ini hanyalah ilusi. Kita tidak bisa menguburkannya di sini. Aku akan menguburkan ibu di kampung Cerita Hati.”


“Bukankah itu berbahaya untuk kita, aku tidak ingin mengambil resiko,” balas Chen Tian meragukannya.


“Bahaya dari apa? Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu proses pemakaman ibuku,” timpal Jingga lalu memangku jasad ibunya dan bersiap untuk membawanya.


“Tian’er, guru percaya pada Jingga,” sambung tetua sepuh meyakinkannya.


“Baik, Guru,” balas Chen Tian menurutinya.


“Sayang, hari masih gelap. Tidak bisakah kita menunggu sampai matahari terbit?” sela Xian Hou.


“Baiklah, kita tunggu sampai pagi tiba,” kata Jingga menyetujui perkataan istrinya.


Jingga kemudian membawa sang ibu masuk ke dalam gubuk dan membaringkannya di atas sebuah alas dari tumpukkan dedaunan.


Setelahnya, ia lalu menghampiri tetua sepuh untuk menanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan bencana alam yang menimpa kampung Cerita Hati hingga cara penduduk kampung bisa selamat setelah memasuki hutan Hantu.


"Mari ke gubuk reotku!" ajak tetua sepuh lalu menghilang dari posisinya.

__ADS_1


Jingga tidak langsung menyusulnya. Ia berjalan menghampiri adiknya Bai Niu yang sedang berbincang dengan istrinya.


"Naninu, bisakah kamu menemani Tian'er?" ucap Jingga memintanya.


"Baik, Kakak. Aku mengerti," balasnya lalu tersenyum.


"Terima kasih." Jingga melirik istrinya dan Qianmei lalu berkelebat membawa keduanya ke tempat tetua sepuh di seberang danau.


Tap, tap.


"Kakek egois," celetuk Jingga begitu sampai di sebuah gubuk yang lebih layak disebut sebagai rumah besar.


"Ha-ha. Kemarilah!" kekeh tetua sepuh melambaikan tangan.


"Di mana para tetua sekte yang lain?" tanya Jingga setelah memperhatikan sekitarnya.


"Mereka berada di istana kekaisaran bersama semua murid sekte untuk membantu warga ibu kota," ucap tetua sepuh, "tapi kau jangan mengkhawatirkannya. Sekarang, aku akan menceritakan semua yang ingin kau ketahui."


Jingga terkagum pada tetua sepuh yang bisa mengetahui maksud keinginannya. Ia pun duduk berhadapan dengan tetua sepuh ditemani sang istri di samping kanan dan Qianmei di samping kirinya.


"Maaf, aku tidak bisa membawakan penganan kepada kalian semua," ujarnya merasa tidak enak hati.


"Tidak masalah. Langsung saja, Tetua," balas Jingga mempersilakannya.


Tanpa menundanya lagi, tetua sepuh langsung menceritakan awal terjadinya bencana yang membuat sekte yang dinaunginya hancur lebur karena gempa besar, angin beliung, dan badai petir yang terus menyambar. 


Beruntungnya, ketika bencana alam terjadi. Sepuh sekte bersama para tetua sekte dan sepertiga murid sedang menelusuri hutan Hantu yang berhasil dimasuki beberapa hari sebelum terjadinya bencana. Biarpun begitu, lebih dari 200 murid dan seorang tetua menjadi korban keganasan bencana alam. 


Tetua sepuh tampak berkaca-kaca mengingat kejadian yang tidak pernah diduganya. Ia menghentikan sejenak ceritanya untuk menenangkan diri. 


Setelahnya, ia melanjutkan kembali keberhasilannya menyelamatkan sebagian besar penduduk kampung Cerita Hati yang lokasinya berdekatan dengan hutan Hantu.


Tanpa terasa, pagi pun tiba. Namun, hanya Jingga seorang yang mengetahuinya. Kabut putih yang tebal menghalangi sinar mentari memasuki dimensi ilusi hutan Hantu.


"Terima kasih, Tetua. Berkat Tetua, aku masih bisa bertemu dengan ibu," kata Jingga penuh syukur.


"Mengapa malam terasa begitu lama?" tanya tetua sepuh merasa heran.


"Sudah pagi, Tetua. Aku sengaja menutupinya dengan kabut agar para beast monster tidak mengendus keberadaan kalian," kata Jingga lalu tertawa pelan.


Terukir raut cemas di wajah keriput tetua sepuh setelah mendengar perkataan Jingga. 


"Ada apa, Tetua?" tanya Jingga penasaran.


"Masih ingatkah dengan beast naga hitam Long Yiban?" balik tanya tetua sepuh.


"Ha-ha. Tentu aku masih mengingatnya dengan jelas," jawab Jingga yang langsung teringat akan kelicikannya mempermainkan naga hitam.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Jingga tiba-tiba terdiam menatap tajam tetua sepuh yang juga menatapnya dengan tajam.


__ADS_2