
Jingga terkekeh pelan lalu melirik Qianmei di sebelahnya dan berkata, “Memimu, bermain-mainlah dengannya!”
Qianmei cemberut seraya mengangkat kedua bahunya. Ia terlihat malas menghadapi dewa muda yang begitu sombong.
“Kenapa?” Jingga tidak memahami sikap adiknya yang tidak biasanya menolak apa yang diperintahkan.
“Dia terlalu lemah untuk menjadi lawanku. Pasti akan membosankan!” keluhnya menjawab.
Sang dewa muda mengepalkan erat tangan kirinya sambil menatap Qianmei dengan sorot mata yang tajam dan penuh amarah. Tak lama kemudian, kemarahannya memuncak naik ke ubun-ubun.
“Kurang ajar, kau!” bentak si dewa muda lalu berkelebat menyerang Qianmei.
Dewa muda melancarkan serangan pertama dengan kecepatan ayunan pedang yang meliuk-liuk di udara, menciptakan garis-garis cahaya yang tajam. Namun, Qianmei dengan lincah menghindari setiap serangan dengan gerakan yang begitu halus, seolah ia menari di atas angin.
“Teknik pedang yang sangat hebat. Namun, kecepatan gerakanmu sangat lambat dan mudah terbaca,” ucap Qianmei di sela pertarungan.
“Cih, aku masih bermain-main denganmu. Jangan senang dulu!” balas Dewa Muda lalu meningkatkan ritme serangan.
Keduanya saling beradu serangan dan pertahanan dengan penuh keahlian. Setiap gerakan mereka menyiratkan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa. Pedang Dewa Muda memancarkan sinar terang yang memukau, sedangkan Qianmei mengendalikan pedang energi dengan kekuatan jiwa yang sangat kuat dan penuh tekanan.
TRANG! TRANG! WUZZ!
Suara yang bergema dan hentakan pedang yang bertabrakan menciptakan getaran keras di aula utama Istana Langit. Setiap langkah yang diambil, setiap gerakan yang dilakukan, semua terasa begitu intens dan memikat perhatian. Mata para penonton tak berkedip saat mereka terpaku pada pertarungan yang begitu sengit.
Namun, tiba-tiba saja suasana menjadi ricuh dan tidak terkendali. Beberapa cultivator dari berbagai sekte dan klan menyerang Jingga dan Bai Niu tanpa adanya aba-aba.
Melihat kondisi istana mulai mengalami kerusakan parah, Kaisar Langit bergegas merapalkan mantra membuat lubang portal. Uniknya, lubang portal yang diciptakan oleh Kaisar Langit membungkus seluruh area dalam Istana Langit, sehingga semua orang yang sedang bertarung tiba-tiba saja berpindah tempat. Beberapa dewa dan para cultivator yang menyadari adanya perbedaan tempat bertarung langsung melangkah mundur dan memutar kepala memperhatikan lingkungan di sekitarnya. Hal itu membuat pertarungan terhenti seketika.
Tidak hanya para dewa dan cultivator, bahkan Jingga dan kedua adiknya pun tampak sedikit terkejut dengan perpindahan tempat yang tiba-tiba. Mereka kini berada di dataran rumput yang sangat luas. Tempat yang sangat baik untuk bertarung.
“Kita di mana, Kak?” tanya Bai Niu merasa asing dengan suasana alam di sekitarnya.
Jingga mendelik lalu memindai energi di sekelilingnya.
“Kita masih berada di alam dewa. Tapi aku tidak tahu tepatnya di mana,” kata Jingga menjawabnya.
“Hei, Iblis!” panggil seseorang di tengah kerumunan.
Jingga menoleh ke arah kerumunan lalu mendapati seorang cultivator paruh baya menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
“Kau hanya memanggilku tapi tidak mau menyerangku. Ayo, kemarilah!” Jingga menyeringai menantangnya.
__ADS_1
“Ha-ha. Sombong sekali kau!” balas sang cultivator lalu berkelebat menyerang Jingga.
“Hiat!”
SLASH! BUGH!
Belum sampai tombak mengenai tubuh Jingga, kepala sang cultivator telah lebih dulu jatuh dan menggelinding di depan kakinya. Ia mengambilnya lalu menyipitkan mata memperhatikan wajah tak bernyawa dari kepala sang cultivator.
“Kepalamu lebih cepat dari tombak yang kau coba hunuskan padaku,” kata Jingga lalu meleburnya.
“Ayah!” teriak seorang gadis dari kejauhan.
Jingga menolehnya. Terlihat seorang gadis bergaun ungu berlari ke arahnya dan berhenti tepat di tubuh yang tergeletak di atas rerumputan.
“Ayah, bangun!” panggilnya seraya mendekap tubuh tanpa kepala.
Ia lalu mendongak menatap Jingga dengan emosi.
“Kenapa kau membunuh ayahku? Kenapa!?” teriak si gadis tidak terima ayahnya mati dibunuh oleh pemuda yang berdiri di depannya.
SLASH!
Belum sempat Jingga menjawabnya, kepala si gadis terlepas dari tubuhnya dan mati seketika. Jingga menoleh ke arah Qianmei dengan tatapan penuh tanya.
Para dewa dan cultivator yang menyaksikan kekejaman Jingga dan Qianmei terbakar amarah dan dendam. Mereka yang sebelumnya bertarung untuk menjadi seorang kaisar, kini memiliki motivasi yang lebih dalam untuk membunuh pemuda iblis yang telah memperlihatkan kekejamannya.
“Biadab! Mereka memang pantas dimusnahkan,” murka seorang cultivator bertubuh besar lalu mengangkat pedangnya yang besar ke atas langit.
“Serang …!” imbuhnya memekik.
Api kemarahan membara di dalam hati para dewa dan cultivator. Wajah mereka dipenuhi dengan ekspresi kemarahan yang menyala-nyala, sorot mata yang menyiratkan tekad yang terpatri dalam sumpah tanpa terucap untuk membalaskan dendam kedua jiwa yang telah terenggut.
Di sisi lain, Jingga merasakan adrenalinya bangkit untuk menjalani pertarungannya. Ia menoleh ke arah kedua adiknya.
“Memimu, Naninu,” panggil Jingga.
“Iya, Kak,” sahut keduanya.
“Musnahkan semuanya!”
Bai Niu dan Qianmei mengangguk, lalu keduanya mengalirkan energi spiritual dan memancarkan aura yang menekan balik aura para dewa dan cultivator alam dewa.
“Jianhuimie Yuzhou!”
__ADS_1
“Langkah bayangan.”
Wuzz!
Jingga, Bai Niu, dan Qianmei berkelebat cepat membentuk gumpalan asap hitam ke arah yang berbeda untuk menyerang para dewa dan cultivator yang juga berlari cepat ke arah ketiganya.
BOOM!
Ledakan keras terjadi ketika kedua kubu saling berbenturan. Jingga yang berkelebat lurus, bertarung menghadapi puluhan dewa dari Istana Langit. Sementara itu, Qianmei yang berkelebat ke arah kiri menghadapi ratusan cultivator. Begitu pun dengan Bai Niu yang memilih arah kanan harus menghadapi puluhan jenderal Istana Langit.
Di tengah pusaran pertarungan yang melanda, suasana di medan tempur menjadi semakin membara. Para dewa yang berada di ranah Master Emperor Kristal harus bersusah-payah meladeni kecepatan dan hantaman pedang yang dilayangkan oleh Jingga. Jumlah mereka yang unggul tidak membuat mereka bisa mendominasi pertarungan.
“Formasi bintang!” ucap seorang dewa yang langsung melangkah mundur beberapa tombak.
Beberapa dewa bermanuver membentuk formasi bintang. Akan tetapi, mereka kalah cepat dengan pergerakan dari Jingga yang menebaskan pedangnya ke arah seorang dewa di dekatnya.
Duar!
Dewa yang terkena tebasannya langsung hancur seketika. Daging dan tulang berhamburan di udara membuat para dewa lebih mewaspadai serangan cepat dari sang penguasa iblis.
“Kita tidak bisa membentuk formasi. Pikirkan cara la–,” ucap seorang dewa namun terputus karena kepalanya terlepas dan jatuh menggelinding.
Jingga menyeringai sinis lalu kembali menyerang para dewa dengan kecepatan langkahnya.
“Formasi ilusi,” pekik seorang dewa mulai panik.
Tidak ada satu pun dewa yang memiliki kesempatan untuk merapalkan mantra. Jingga terlihat seperti lebih banyak dari jumlah mereka. Kecepatannya tidak bisa diimbangi oleh para dewa. Mereka mulai frustasi dengan keadaan yang tidak pernah diduganya. Bahkan, para dewa tidak memiliki kesempatan untuk mengerahkan jurus andalan.
“Sialan! Bagaimana mungkin kecepatannya bisa melebihi kecepatan cahaya? Bahkan, berkedip pun masih terlalu lambat untuk mengimbangi kecepatannya,” rutuk seorang dewa yang tidak sadar bagian tubuhnya banyak terbelah.
Puas menghantam para dewa dengan pedangnya. Jingga menghilang dari kepungan para dewa, lalu muncul kembali beberapa tombak dari para dewa.
“Hei, semuanya, aku di sini!” kata Jingga sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
Para dewa yang masih saja terus mengayunkan senjata langsung berhenti dan menoleh ke sumber suara.
“Selamat tinggal,” imbuh Jingga lalu tersenyum lebar.
Para dewa tidak memahami maksud dari perkataan Jingga, mereka saling mendelik dan beberapa saat kemudian, satu per satu tubuh para dewa meledak dengan sendirinya.
DUAR! DUAR! DUAR!
“Kematian yang indah!” kata Jingga menikmati ledakan tubuh para dewa yang bersahutan.
__ADS_1
“Sungguh membosankan, bertarung dengan dewa lemah,” imbuhnya bernada kecewa.