Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Sambutan Sang Ratu


__ADS_3


Jingga menyeringai mengetahui maksud dari permintaan adiknya. Ia kemudian mengangkat tinggi tangan kanannya. Bola api hitam keluar dari telapak tangannya dan terus membesar. 


KAA-PAAB, KAA-PAAB, HAA!


WUZZ!


Bola api hitam berukuran cukup besar dilemparkan Jingga ke arah Qianmei yang melayang dalam kondisi terpelanting.


BOOM!


Ledakan keras yang dihasilkan dari jurus lemparan iblis menciptakan badai api di atas langit benua Intibumi. Hal itu membuat seluruh penghuninya ketakutan. Raungan suara dari para hewan dan beast monster terus bersahutan. Beberapa beast phoenix api pun melarikan diri menjauhi badai api. 


Qianmei terpental semakin jauh dari posisinya. Panas yang didapat dari bola api yang dilemparkan Jingga membuat tubuhnya  mengalami kerusakan parah. Biarpun begitu, jiwa pedang yang berada dalam tubuhnya masih tak bergeming juga. Jingga yang memperhatikannya tampak keheranan. Namun, ia masih yakin sang jiwa pedang tidak akan membiarkan dirinya hancur begitu saja.


Qianmei sendiri tampak pasrah akan kematian yang tengah dihadapinya. Tidak ada upaya apa pun lagi yang bisa ia lakukan. Bahkan sebenarnya, ia memang tidak menginginkan menjadi seorang dewi iblis bertubuh aneh seperti monster yang jauh terbalik dari tubuh sebelumnya. Situasi ini pun membuat sang jiwa pedang akhirnya bereaksi. 


“Sialan! Gadis ini sangat cerdik. Kalau aku sampai mewariskan kemampuanku, itu berarti aku akan melebur bersamanya dan rencanaku untuk mengendalikannya harus punah … ah, sial!” rutuk sang jiwa pedang begitu dilema dengan kondisinya.


Tidak ada pilihan lain baginya selain memberikan semua kemampuannya. Meskipun, hal itu membuatnya harus merelakan semua pengorbanan dan penantian ribuan tahun menjadi sia-sia belaka.


"Kenapa aku selalu kalah oleh akal bulus wanita?" gerutu sang jiwa pedang merutuki diri.


Sementara itu, tubuh Qianmei terus melebur menjadi serpihan debu yang beterbangan hingga nyaris tidak terbentuk lagi. 


Waktu semakin tipis. Jika tidak ada lagi elemen kayu yang tersisa dari tubuh Qianmei, maka keduanya akan mengalami kepunahan. 


Sang jiwa pedang dengan terpaksa harus menyerahkan semua kemampuannya. Melalui kekuatan jiwa, sang jiwa pedang pun meleburkan diri bersama sisa-sisa dari elemen kayu dan kembali membentuk tubuh baru menyerupai proses sebelumnya. 


Pembentukan tubuh kali ini lebih cepat dari sebelumnya karena melalui semua kekuatan dari sang jiwa pedang. 


Hanya beberapa helaan napas saja, tubuh Qianmei kembali terbentuk dengan sempurna. Sama seperti sebelumnya, Qianmei bertransformasi menjadi sang dewi iblis berelemen kayu. Akan tetapi, Yang menjadi pembeda kali ini adalah Qianmei memiliki seluruh kemampuan yang diwariskan oleh sang jiwa pedang. 


Dalam posisi melayang di udara, Qianmei membuka kedua matanya. Ia merasakan sesuatu yang berbeda dari dalam tubuhnya. Namun, yang menjadi perhatiannya adalah berbagai kemampuan aneh yang didapatkannya dari warisan sang jiwa pedang.


“Kekuatan yang aneh. Tapi, ini sangat hebat. Kak Jingga pasti akan terkagum melihatnya,” gumam batin Qianmei setelah memindai berbagai kemampuan yang dimilikinya.


Pagi hari pun tiba. Sang mentari bersinar cerah menerangi alam. Qianmei yang masih melayang di langit tersadar akan dirinya yang tidak mengenakan sehelai benang di tubuhnya. 


“Ya ampun! Ha-ha-ha. Biarlah, tubuhku tidak lagi seperti manusia fana,” ucap Qianmei lalu melayang turun menghampiri kedua kakaknya.


Bai Niu yang melihatnya turun langsung mengeluarkan kembali sehelai gaun dari cincin spasialnya.


“Pakailah! Kau seorang gadis, tidak boleh terlihat polos seperti itu,” kata Bai Niu sambil mengulurkan tangan menyerahkannya.

__ADS_1


Qianmei menerimanya dengan senang. Tampak kedua matanya bersinar dengan mulutnya melengkung membentuk senyuman. Ia lalu memakainya.


“Bagaimana, istirahatnya sudah cukup?” tanya Jingga tiba-tiba kepada keduanya.


“Kita sudah ditunggu oleh ribuan beast monster,” imbuhnya setelah merasakan keberadaan para beast monster di kejauhan.


Bai Niu dan Qianmei langsung melirik pemilik suara dengan senyum yang terukir dari keduanya.  Jingga pun membalas keduanya dengan setengah tersenyum lalu berkata,


“Ingatlah! Kedatangan kita hanya untuk meminta sang ratu berhenti mengusik ketenangan sekte Teratai Langit dan Kampung Cerita Hati.”


Bai Niu mengangguk memahaminya. Sedangkan Qianmei menyeringai dingin dengan sorot mata membunuh menanggapinya.


“Apa yang sedang kamu rencanakan, Memimu?” tanya pikir Jingga merasakan aura kematian terpancar dari sorot mata adiknya.


“Ayo kita hampiri mereka!” kata Jingga lalu melayang terbang memimpin kedua adiknya ke wilayah terdalam benua Intibumi.


WUZZ!


Matahari seolah bergerak mengikuti laju terbang Jingga dan kedua adiknya yang melaju cepat di langit benua Intibumi. 


Tanpa terasa, hari pun berganti malam. Ketiganya tampak tidak memperlambat laju terbang. Jingga masih memimpin di depan tanpa terganggu dengan gelapnya malam. Begitu pun dengan Qianmei yang sekarang memiliki kemampuan unik dua ras dari galaksi berbeda. Setelah bertransformasi, ia mampu melihat dengan jelas di kegelapan malam.


Berbeda dengan keduanya. Bai Niu sedikit kesulitan melihat di kegelapan malam. Biarpun begitu, hal itu tidak menjadi hambatan berarti untuknya. Ia masih dapat membedakan objek apa pun di dekatnya.


Tepat di pagi hari, hari keempat penerbangan ketiganya. Jingga yang memimpin di depan mulai memperlambat laju terbang. 


“Tidak jauh di balik bukit sana. Kita akan disambut oleh banyaknya beast monster. Persiapkan diri kalian!” Jingga terus menunjuk bukit cukup besar di depannya.


“Kak, biar aku sendiri yang akan menghadapi mereka,” ucap Qianmei mengajukan diri.


Jingga langsung berbalik menatap Qianmei dengan serius lalu berkata,


"Tidak semua hal harus diakhiri dengan pertarungan. Kita sampaikan saja maksud kedatangan kita dan melihat reaksi mereka. Apa kau memahaminya, Memimu?"


Qianmei mendengus kesal lalu menyeringai tanpa mengangguk setuju. Jingga mengernyitkan wajah merasa heran dengan tanggapan Qianmei yang tidak biasanya. 


"Aku tahu kau ingin menunjukkan kemampuanmu, maka tunggulah waktu yang tepat untuk itu," ucap Jingga melanjutkan.


"Terserah Kakak saja, tapi aku akan menguji kesabaran para beast monster, ha-ha-ha," balas Qianmei terkekeh.


"Mei'er, ada apa denganmu?" tanya Bai Niu yang juga merasa heran dengan perubahan sikap Qianmei.


Qianmei yang biasanya sangat lembut dan pendiam. Kini berubah menjadi agresif setelah bertransformasi menjadi dewi iblis. Bai Niu mulai merasa cemas akan perubahan sikap adiknya.


Jingga menggelengkan kepala sedikit tidak senang melihat perubahan sikap Qianmei. Namun, hal itu akan ia selidiki setelah urusannya dengan Ratu Kalandiva diselesaikannya. Jingga lalu berbalik dan melesak ke arah bukit.

__ADS_1


Masih berada di ketinggian di balik awan. Jingga menghentikan laju terbangnya lalu memindai para beast monster yang berdiam diri di kaki bukit.


"Kak, kenapa para monster hanya berdiam saja?" tanya Bai Niu yang ikut memperhatikan area di bawahnya.


"Mereka hanya umpan, lihatlah di depan kita!" kata Jingga yang merapalkan mantra lalu menjulurkan tangan dan seberkas energi melesak ke area di depannya.


Krak!


Retakan terdengar dari perisai tak kasat mata beberapa tombak di depannya.


Kini terlihat jelas oleh ketiganya ribuan beast monster dari berbagai ras tengah berjajar rapi bersiap untuk menyerang. Dari depan barisan para beast monster, tampak terlihat seorang wanita bergaun merah dengan sorot mata yang dingin tengah berdiri tegak sambil menyembunyikan kedua tangan di punggung.


"Selamat datang di kerajaanku, Yang Mulia Penguasa Iblis," sambut wanita tersebut dengan merentangkan kedua tangannya.


Jingga dan kedua adiknya maju beberapa tombak mendekati sang wanita yang disinyalir merupakan Ratu Kalandiva.


"Kau menyambutku begitu berlebihan … ah! Tentu sangat merepotkan untuk membawa ribuan monster hanya untuk menyambut kami bertiga," kata Jingga menyindirnya. 


Ratu Kalandiva memaksakan senyum meski ia sedikit tersipu malu mendapat sindiran dari pemuda yang begitu tenang pembawaannya.


"Ha-ha-ha. Para monster hanya penasaran akan sosok penguasa alam iblis yang ramai diperbincangkan di alam dewa. Kuharap kau bisa memakluminya," sanggah sang ratu.


"Baiklah, aku tidak akan berlama-lama berada di benua yang indah ini. Kedatanganku ke sini hanya ingin mengingatkan dirimu untuk berhenti mengusik ketenangan sekte Teratai Langit di benua Matahari."


Jingga menatapnya serius dengan sedikit menggertaknya dengan aura iblis miliknya. Sang Ratu masih tampak tenang menghadapinya. 


"Kau datang jauh-jauh hanya untuk mengatakan itu saja? Ha-ha. Bagaimana bisa seorang penguasa iblis diperintah oleh kultivator alam fana hanya untuk sedikit menggertakku? Sungguh, lelucon!" 


"Jangan katakan kau ingin mengujiku. Aku malas mengotori tanganku. Ha-ha." Jingga terkekeh lalu berbalik mengajak kedua adiknya pergi.


"Tinggu, Yang Mulia Alam Iblis!" Ratu Kalandiva berusaha mengadangnya.


"Urusanku sudah selesai, Nyonya. Katakan saja apa yang ingin kaukatakan!"


"Aku tahu siapa pembunuh Long Yiban, di mana monster sanbuqu lima itu berada? Aku hanya menginginkan kematiannya, dan aku berjanji untuk tidak mengusik sekte lemah itu lagi. Bagaimana?" 


Jingga langsung berbalik dengan mimik wajah tidak percaya dan memberikan gestur merendahkan sang ratu.


"Nyonya ini ada-ada saja. Tapi, aku jadi tahu maksud Nyonya membawa ribuan monster. Nyonya ingin menguji monsterku, kan? Ha-ha-ha. Bodoh!"


"Kau! Kau berani meremehkan kekuatan bangsa monster." 


Ratu Kalandiva mulai geram direndahkan oleh ucapan Jingga. 


"Bagaimana kalau adikku saja yang menggantikannya? Aku pastikan tidak akan mencampuri pertarungan kalian," tawar Jingga memberikan pilihan mudah.

__ADS_1


__ADS_2