
"Nyonya He, sebaiknya kau tunggu saja di kamarmu, aku akan membersihkan diri, setelahnya aku akan menghampiri Nyonya" pinta Jingga tidak enak hati.
"Tidak, aku akan menunggumu di sini" balas Nyonya He masih berdiri di pintu kamar.
Setelahnya Nyonya He langsung membawa Jingga ke satu tempat yang begitu luas, tampak terlihat olehnya ratusan anggota klan Tang sudah menunggu keduanya.
Jingga melirik Nyonya He menanyakan maksudnya.
"Aku sengaja mengatur semua ini untuk memperkenalkanmu kepada seluruh keluarga besar klan Tang supaya ke depannya tidak ada lagi kesalahpahaman yang terjadi" ujar Nyonya He menjelaskannya.
Nyonya He membawa Jingga ke tempat tinggi di ruang besar itu lalu memperkenalkan pemuda di sebelahnya dengan menceritakan beberapa hal tentang pertemuan Jingga dengan Patriark Zhang.
Jingga merasa risih dengan apa yang dilakukan oleh Nyonya He untuk memperkenalkan dirinya yang begitu berlebihan.
Nyonya He lalu meminta Jingga untuk menyampaikan sepatah dua patah kata kepada seluruh keluarga besarnya.
"Terima kasih Nyonya He untuk semuanya, tapi aku bukanlah seorang pemuda yang butuh pengakuan dari siapa pun. Aku bersyukur bisa bertemu dengan sosok yang begitu menyayangiku sepenuh hatinya namun aku meminta maaf kepada kalian semua, aku tidak akan pernah menjadi bagian dari klan Tang dan yang terakhir aku ucapkan selamat tinggal" ujar Jingga lalu menghilang dari tempatnya berdiri.
Nyonya He begitu terpukul akan kesalahannya memperkenalkan Jingga kepada semua anggota klan yang membuat Jingga begitu kesal kepadanya lalu menghilang pergi.
Jingga terus melesat terbang ke arah barat kekaisaran Xiao.
Sampai pada sore hari, Jingga melihat sebuah istana yang tidak terlalu besar di bawahnya, ia memperhatikan sekitarnya lalu turun di sebuah pemukiman penduduk di area perkebunan di luar kota kerajaan.
Beberapa orang yang melihatnya langsung berlarian ketakutan.
"Sepertinya desa ini menjadi lokasi terjadinya penculikan" gumam Jingga lalu merubah dirinya menjadi bayangan.
Jingga terus memindai sekitarnya untuk mencari kejanggalan dan rumah kosong untuk ditempatinya.
Dari satu rumah ke rumah lainnya Jingga terus memindai sampai pada satu lokasi di sebuah lembah, Jingga menemukan bilik bambu sederhana yang kosong.
Setelah membersihkannya, Jingga langsung memasang perisai iblis lalu bermeditasi. Ia memasuki alam jiwanya melihat Jirex yang bermain-main dengan beast monster yang sengaja Jingga masukkan dari desa Maotoying untuk memenuhi kebutuhan perut teman monsternya.
Raungan keras terdengar mendekatinya, Jingga begitu senang melihat ukuran Jirex sudah setinggi dirinya.
"Cepat sekali kau tumbuh besar" ucapnya sambil mengelus kepala Jirex yang terlihat senang bertemu kembali tuannya.
__ADS_1
"Bermain-mainlah sepuasmu, aku harus kembali ke alam nyata" imbuhnya lalu menghilang keluar dari alam jiwanya.
Jingga duduk di teras kayu bilik bambu sambil menikmati araknya menatap langit malam dalam suasana hening yang begitu damai dirasakannya.
Beberapa bayangan hitam berkelebat melewatinya.
"Aura iblis" gumamnya lalu berkelebat mengikutinya.
Beberapa bayangan hitam berpencar ke berbagai arah.
"Sial! Lagi-lagi aku harus memilih" gerutunya lalu memutuskan mengejar arah depannya.
Jingga membentuk energi pedang lalu melemparkannya ke arah bayangan di depannya.
Dhuar!
Sosok makhluk bertubuh hitam bersisik dengan mata merah menyala dan memiliki ekor terpelanting menabrak sebuah pohon.
"Hah! Bangsa iblis" gumam Jingga melihat bentuk tubuh iblis yang dipelajarinya dari warisan pengetahuan Yuangu Mowang.
Groar!
"Pantas saja Paman Lie Zhou sulit mengungkap pelakunya, ternyata kalian bangsa iblis yang melakukan penculikan selama ini" gumam Jingga lalu mengalirkan energi api semesta ke dalam kepalan tangannya.
Tanpa menunggu keempat iblis menyerangnya, Jingga langsung berkelebat memukulinya.
Siu!
Dhuar!
Dhuar!
Empat iblis langsung meledak terkena pukulannya tanpa sempat melakukan perlawanan.
"Ah!" Teriak Jingga kesal karena melupakan satu hal penting yaitu melihat ingatan iblis yang terlanjur diledakkannya.
"Semoga saja iblis lainnya kembali memasuki area ini" gumamnya berharap lalu berkelebat kembali ke bilik bambu.
__ADS_1
Esok harinya Jingga kembali berubah menjadi bayangan, ia langsung berjalan ke arah pemukiman memperhatikan suasana penduduk yang sedang beraktivitas seperti biasanya.
Tidak ada keceriaan di wajah orang-orang yang dilihatnya dan tidak ditemukan satu pun keberadaan anak kecil maupun para gadis remaja yang biasanya banyak ditemukan di sebuah pemukiman.
"Aku pastikan akan membuat perhitungan dengan bangsaku sendiri untuk mengembalikan keceriaan kalian" ucapnya dengan penuh tekad.
Jingga terus berjalan mengamati setiap pemukiman yang dilewatinya sampai memasuki sebuah kota yang begitu hening bukan karena tidak ada orang yang berlalu lalang di sekitarnya namun semua terlihat diam tanpa berbicara apa pun.
Jingga menampakkan dirinya di tengah kota dan lagi-lagi semua orang berhamburan pergi meninggalkannya.
Jengkel dan begitu kesal dengan reaksi semua orang, Jingga langsung berkelebat ke istana yang berada tidak jauh dari kota.
Tampak terlihat keluarga istana bersama beberapa pejabatnya begitu serius mendiskusikan soal penculikan yang terjadi di wilayah kerajaannya.
Jingga melayang turun ke tengah semua orang yang langsung berlarian pergi setelah melihatnya, namun Jingga langsung membentuk rantai energi menahan semua orang untuk tidak meninggalkan ruangan.
"Tenanglah, aku tidak akan menyakiti kalian semua, aku tahu apa yang sedang kalian hadapi, aku akan berupaya sebisanya untuk membantu kalian" ujarnya.
Semua orang langsung berbalik menoleh ke arahnya. Jingga tersenyum simpul kepada semuanya, mencoba meyakinkan semua orang untuk tidak lagi takut kepadanya.
"Aku memang berbeda dengan kalian semua karena aku berasal dari benua lain di semesta ini, tapi percayalah kedatanganku untuk membantu kalian semua" imbuhnya meyakinkan semuanya lalu menghilangkan rantai energi yang mengikat semuanya.
"Aku Daxiang, Raja Xin Yue, siapakah dirimu anak muda?" ucap lelaki tua yang memakai mahkota raja dikepalanya bertanya.
"Aku Tang Xie Jingga dari kekaisaran Xiao, aku mendapatkan kabar dari pamanku Jenderal Lie Zhou tentang penculikan yang terjadi" jawab Jingga menjelaskan dirinya.
"Syukurlah ada seorang pendekar yang mau membantu kami, sebelumnya kami meminta maaf karena tragedi ini membuat banyak pasukan dari kekaisaran Xiao terus menghilang tanpa jejak, kami sudah berusaha mencarinya namun apalah daya, sampai sekarang kami tidak mengerti apa yang sedang kami hadapi" timpal Raja Daxiang terlihat begitu pasrah.
"Jadi bukan hanya penculikan saja, bahkan pasukan yang mencarinya pun menghilang" kata batin Jingga mulai memahami.
"Semalam aku berhasil menghancurkan empat iblis yang berkelebat di area pemukiman" ucap Jingga menyambung perkataan Raja Daxiang.
Semua orang terperangah mendengarnya, lebih terperangah lagi mengetahui pemuda asing bisa menghancurkan iblis seorang diri.
"Maaf saudara Jingga, bukannya kami tidak percaya akan ucapanmu itu, akan tetapi bagaimana kita bisa mengetahui pelaku penculikan adalah bangsa iblis yang selama ini kami anggap hanya sebuah mitos saja?" Ujar Raja Daxiang menanyakannya.
Sekarang Jingga yang terperangah mendengarnya, bagaimana bisa mereka mempercayai keberadaan bangsa dewa sedangkan bangsa iblis mereka menganggapnya hanya sebuah mitos.
__ADS_1
"Untuk itu, aku memintamu dan lainnya menceritakan semuanya kepadaku. Ada dua cara yang bisa kita coba untuk menjebak bangsa iblis, pertama aku membutuhkan seorang anak kecil atau gadis remaja dan kedua adalah mengirim pasukan kerajaan ke lokasi terakhir penculikan" jawab Jingga menjabarkan pemikirannya.