
To Li yang gagal pada serangannya langsung memutar bilah pedang 90 derajat lalu kembali menebaskannya ke arah tubuh Jingga secara diagonal.
Wuzz!
Jingga kembali menghilang dari posisinya berdiri dan muncul di belakang punggung To Li.
"Kenapa kau begitu lambat?" Tanya Jingga membisikinya.
"Bajingan kau iblis muda!" Balas To Li lalu memutar pedang dan menghunuskannya di samping pinggangnya.
Namun Jingga telah lebih dulu menghilang dari tempatnya. Ia kembali muncul di tengah ketiga iblis hitam.
"Hei iblis telinga panjang dan mata besar! Apa kalian berdua tidak ingin ikut bermain dengan kami? Ayolah! Jadikan permainan ini seru," celoteh Jingga dengan suaranya yang nyaring.
To Mu dan To Tao tidak menanggapinya, keduanya lalu berkelebat mendekati iblis bermulut lebar To Li.
"Tao'er, Li'er, kecepatan iblis Tongzhi tidak bisa kita imbangi. Bagaimana kalau kita menariknya ke dalam alam jiwa punyaku? Di sana kita bisa mengalahkannya dalam tekanan energi alam jiwa yang kumiliki," usul To Mu berkomunikasi di alam pikir.
"Kalau dia memang benar mewarisi kemampuan Yuangu Mowang, bukankah itu tidak mempengaruhinya?" Tanya To Tao meragukannya.
"Jangan ke alam jiwa! Aku memiliki artefak yang akan membawanya ke alam fana buatan. Di sana kita bisa tahu tingkatan sesungguhnya iblis Tongzhi itu, jadi kita bisa dengan mudah menentukan strategi untuk memenangkan pertarungan dan membunuhnya. Bagaimana menurut kalian?" Usul To Li menawarkan.
"Aku setuju!" Pekik Jingga menanggapi percakapan ketiganya.
To Mu, To Tao, dan To Li langsung terkejut mendengarnya. Mereka yang berbicara di alam pikir masing-masing menjadi tersentak karena diskusinya bisa diketahui langsung oleh musuhnya.
__ADS_1
"Sialan! Berarti dia sudah mengetahui semua rencana kita." Gerutu To Mu di alam pikirnya.
"Ya iyalah. Aku gitu!" Kembali Jingga menanggapinya dengan raut wajah yang menjengkelkan.
Ketiga iblis hitam langsung naik pitam mendengarnya. Ketiganya saling melirik satu sama lain dengan tatapan penuh rasa benci ingin mencabik tubuh pemuda yang mengesalkan ketiganya.
"Jangan lupa kalian membawa aku juga!" Suara nyaring seorang wanita terdengar di udara.
Wuzz!
Tiba-tiba saja pemilik suara menampakkan dirinya melayang terbang di atas bukit. Wanita itu adalah Ratu Iblis Xin Li Wei yang sudah dikenali oleh ketiga iblis hitam.
Jingga dan ketiga iblis hitam langsung mendongakkan kepala meliriknya. Namun keempatnya memiliki pandangan yang berbeda kepada wanita yang melayang turun dengan pelan.
Sang Ratu kali ini terlihat sangat berbeda dengan apa yang dilihat oleh ketiga iblis hitam sewaktu mengunjunginya di istana iblis.
Seorang wanita yang terlihat anggun itu memiliki bentuk tubuh seperti seorang gadis remaja yang masih belia. Alisnya yang tebal seperti ulat dipadu dengan tatapannya yang sangat jeli memperhatikan setiap hal yang dilihatnya.
Hal itu membuat ketiga iblis hitam terpikat akan pesona daya tarik wanita yang telah lama tidak merasakan sentuhan seorang lelaki, meskipun ketiganya baru saja bertemu dengannya di istana kerajaan iblis.
Berbeda dengan ketiganya yang berbinar terjerat pesona sang Ratu. Jingga tidak memiliki ketertarikan sama sekali dengan wanita anggun itu. Baginya kecantikan sang istri tidak ada bandingannya dengan wanita mana pun di alam semesta ini.
Sang Ratu yang baru saja menginjakkan kedua kakinya di tanah memahami tanggapan biasa dari sang pemuda. Ia pun berjalan dengan langkah yang berbeda dari biasanya. Ia membuat gerakan yang menggoda dengan menonjolkan gerak pinggul yang terlenggang-lenggok dibuatnya. Gayanya tampak semakin memesona dan sedikit nakal untuk membuat sang pemuda tertarik padanya.
Namun upayanya untuk menarik perhatian sang pemuda harus bertepuk sebelah tangan. Pemuda itu masih saja menatapnya dengan tatapan datar tanpa sedikit pun berubah. Sang Ratu terus melangkah mendekatinya dengan tatapan sayu yang dibuat-buatnya.
"Halo, Tampan," ucap Ratu Xin Li Wei masih berusaha untuk menarik perhatian pemuda di depannya.
__ADS_1
Jingga menyeringai sinis menanggapinya, dalam hatinya ia berkata,
"Datang lagi wanita penggoda suami orang. Sebelas dua belas dengan selir Mei Yang ... Huh, menyebalkan!" gerutunya.
Suasana menjadi canggung setelah kedatangan Ratu Xin Li Wei. Ketiga iblis hampir saja melupakan rencananya. To Mu tersadar dari lamunannya membayangkan sang Ratu.
"Li'er, cepatlah kau keluarkan artefak milikmu itu. Aku begitu jengah melihat Nyonya Xin Li Wei menggoda Iblis Muda itu," celetuknya membuyarkan lamunan To Li dan juga To Tao.
"Baiklah, di sana kita bisa melihat jati diri sebenarnya Iblis Muda itu." Ujar To Li lalu mengeluarkan artefak besar dari ruang penyimpanannya.
Artefak berbentuk persegi empat terlihat seperti lawang pintu berdiri tegak di tengah ketiganya. Dengan sedikit mengalirkan energi iblis. To Li berhasil mengaktivkan lubang portal dimensi menuju alam fana buatan. Ia pun melangkah masuk bersama To Mu dan To Tao di belakangnya. Tak lupa juga ia meminta Jingga dan Ratu Xin Wei mengikuti ketiganya memasuki lubang portal.
Jingga langsung berkelebat menyusul ketiga iblis hitam diikuti oleh sang Ratu di belakangnya. Seperti memasuki dimensi lain, kelimanya terlempar saling berjauhan.
Alam fana buatan tampak mirip dengan alam fana sesungguhnya. Suasana yang ditempati kelimanya begitu damai, sangat jauh berbeda dengan suasana di alam iblis.
Di bawah percikan air terjun yang membasahi kain yang melekat, di samping rimbunnya pepohonan yang membentang di sekeliling. Jingga berdiri di atas batu besar yang terdapat di tengah sungai yang mengalir deras membelah batu besar yang dipijaknya.
Betul saja apa yang dikatakan oleh iblis bermulut lebar itu. Jingga bertransformasi ke wujud aslinya. Rambut putihnya yang panjang terurai mulai berayun oleh terpaan angin. Mimik wajahnya berubah dingin dan tanpa ekspresi. Warna kulitnya terlihat pucat pasi seperti tubuh mayat. Tiada terlihat sedikit pun rona merah sebagaimana manusia yang memiliki darah. Tidak hanya rambut dan alisnya saja yang putih, bola matanya secara keseluruhan berwarna putih salju. Jingga begitu lain dari biasanya, ia sangat kontras dari sosok Jingga sebelumnya, bahkan tampak berbeda dari ketika ia keluar dari dimensi Siksa Raja.
Alam fana buatan berhasil mengungkapkan jati diri seorang penguasa yang sesungguhnya. Hal itu membuat ketiga iblis hitam bergidik ngeri merasakan aura penguasa yang terpancar dari tubuh Jingga setelah bertransformasi ke wujud aslinya.
Keraguan mulai menyelimuti ketiga iblis hitam, ketiganya begitu dilematik untuk melanjutkan tujuan awal untuk bertarung dengan Jingga.
Pun demikian dengan sang Ratu yang merasakan hal sama dengan ketiga iblis hitam. Akan tetapi ia mengabaikan rasa takutnya terhadap Jingga. Sang Ratu semakin bertekad untuk bisa menjadi istri sang penguasa.
Suasana tampak semakin canggung bagi kelimanya. Pertarungan sengit yang diharapkan oleh kelimanya seolah menjadi klise yang tidak akan pernah terjadi. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kelimanya saling menunggu siapa yang akan memulai pertarungan.
__ADS_1