
Whooach... Aku memberi isyarat ke Tia dan segera berlari kecil ke Toilet.
Dan kedua kalinya aku kembali dusuk lemas usai memuntahkan isi perutku. Tenagaku rasanya sudah habis, meski hanya untuk mengumpat dalam hati.
Aku menutup mataku pelan dan menekannya sesaat, berharap mungkin aku bisa memeras otakku untuk sedikit penerangan. Antara salah satu pilihan? Tapi... Semua gelap.
Ckckck...
******
"Sand.. Sand...!!!" terdengar samar - samar dan perlahan semakin jelas suara yang amat akrab di telingaku. Apakah aku sedang mimpi?
"Sandra..!!!"
Tidak mungkin, dia sedang di Hongkong bukan?
Tapi.... Aku membuka mataku lebar.
Sentuhan ini.. Hanya....
Ttttt.. O.. By.... Pekikku ketika mendapati, sosok tidak sopan yang sedang memanggutku meski aku setengah sadar.
Tidak ada orang yang segila inj kalau bukan Toby. Meski menjengkelkan, tapi entah mengapa aku merasa senang.
"Tob..." Pekikku tertahan...
Expresi Toby yang datar memandangku curiga meski sesaat.
Perlahan aku terisak tanpa sadar. Dan berahir menagis sambil menghambur ke pelukan Toby.
Meski Toby adalah soaok yang sering membuatku marah atau terancam. Namun rasanya Toby seolah menjadi satu - satunya suaka ketika aku mulai tertekan.
Meaki solusi nya kadang di luar nalar. Tapi Toby soaok yang bisa di andalkan ketika sebuah keputusan itu be resiko. Dan dia selalu membarikan kesan tegar dan tangguh.
__ADS_1
"Ini beneran Kamu?" Tanyaku sambil masih terbaring dibranjang pasien dwngan infua yang terpasang.
Toby mengangguk dengan alis berkerut. Aku tidak peduli, itu artinya apa?
Aku hanya kembali memeluk Toby erat, dwnga isak bahagia yang sama.
"Apa kamu terjedot di dinding Kamar mandi?" tanya Toby denga suara Rendah dan datarnya.
"ah benar ini kamu" Kali ini aku tidak sopan dengan langsung menautkan bibir kami.
Namun wajah Toby makin terlihat seram mendapati sikapku. "Kamu habis keracunan?"
"Kamu kok tanya gitu sih?"
" Kita bukan pasangan yang romantis... Dan aku rasa aku tidak sedang amnesia"
Aku mencebik sesaat. Meski tanggapan Toby cukup dingin, tapi itulah Toby suamiku. Jadi aku tahu ini pasti asli.
Aku membalas sorot pandang penuh curiga Toby dengan sesikit senyum yang perlahan mengembang.
Toby pasti tahu kalau aku bohong dan dia pasti marah dengan masalah yang ada. Tapi masalah itu juga pasti di ketahuinya cepat atau lambat, karena dia adalah salah satu akar masalah.
"Kamu nggak kerasukan bukan?"
"Wrrach.."Aku menirukan gaya hari mau menerkam dan tertawa sendirintanpa ada yang terlihat lucu.
" Aku masih hamil anakmu bukan "
Toby mendengus dan mengangguk." Kandinganmu sehat, dokter sudah memberitahuku "
" Bagus!!! "
" Dan aku masih belum mengerti kenapa kamu segirang itu bertemu denganku yang sedang pulang secara mendadak karena acara pingsanmu ini "
__ADS_1
" Oh iya..!! " Aku baru ingat kalau Toby punya jadwal yang cukup padat di Hongkong." Kok Bisa?
"Hah...???!!!!" Toby seolah mengejek ku dengan sinis. "aku mengeluarkan banyak uang dwnga naik private Jet ke sini, dan begitu pula akan segera kembali melanjutkan aksi mencari harta kekayaan kita" Lanjutnya ketus.
" Tob.... Kemarahan terdasyatmu kira - kira seperti apa ya?"
Setidaknya aku punya gambaran bukan?
"Yang jelas sesuatu yang tidak bisa kamu bayangkan"
"Jadi... Kalau terjadi sesuatu padaku, kamu akan bereaksi secepat ini?"
Toby kembali mendengus heran.
Aku tertawa kecil, karena dengusan kesal itu artinya iya.
Yup..!!! Kini aku tahu apa yang harus aku putuskan. Karena aku tahu jelas resiko mana yang sanggup aku tanggung.
" I love you Tob.. "candaku sambil menjukurkan lidah dan mengerlingkan mata.
" ckckkxkc... Rasanya dokter kasih obat yang salah untumu "
" Oh ya...? " tanggapku cepat. Seiring toby yang mulai memeriksa tabung infusku.
" lihat saja, otakmu telah bergeser 25 % "
" Huh..!!"
"Action...!!!" pekik toby
Yang langsung saja aku ikuti.. "Action.. Action.. Action.."
Toby terdiam menahan tawa. "Tapi bagaimanapun kamu memang Sandra istriku"
__ADS_1
Entah mengapa kami tertawa bersama. Dalam situasi yang masih membingungkan. Hatiku rasanya sedikit terisi, meski aku tahu mungkin akan ada stress panjang dalam langkah kami. Tapi setidaknya di mulai dengan tawa.