TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Sheyla dan Syila


__ADS_3

"Juna, aku keluar sebentar ya. Mau membeli beberapa botol air mineral" Miranda berucap sambil memasang sandal.


"Biar aku saja yang belikan" Juna terkesiap


"Tak apa, biar aku saja" Miranda tersenyum gadis itu segera pergi untuk membeli air mineral. Sementara Erik masih betah duduk di samping El yang masih tidak sadarkan diri.


"Kasihan kamu Sheyla, sampai kapan kamu seperti ini. Semoga kamu bisa cepat sembuh" Bisik hati Juna kemudian lanjut memainkan HPnya.


Tak lama, tangan El mulai bergerak.


"Sheyla" Juna terkejut. Dia memandangi wajah El, berharap mata itu segera terbuka.


Kelopak mata El mulai bergerak perlahan


"Kamu siapa?" Ucap El pelan.


"Saya Juna" Dokter yang merawat kamu.


"Saya dimana? kenapa saya disini? Aw" El mencoba bergerak namun dia masih merasakan sakit di kepalanya.


"Jangan terlalu banyak bergerak dulu ya" Juna membantu El untuk tidur kembali.


"Ternyata dia benar-benar telah kehilangan ingatannya" Juna menghela nafas panjang.


Dia melihat El yang menatap kosong keluar jendela.


"Mungkin dia masih bingung dengan semua ini" bisik hati juna.


"Saya keluar sebentar ya" El mengangguk.


Juna Lalu menelpon Miranda untuk segera pulang.


"Miranda, kamu dimana? Sheyla sudah sadarkan diri"


"Oh ya, lalu bagaimana kondisinya?"


"Sayang, dia sepertinya kehilangan ingatannya"


"Sayang sekali" Ucap El padahal di hati dia sangat bersyukur.


"Baiklah Aku akan pulang sekarang"


Miranda menutup telpon dan bergegas pulang ke rumah. Sekarang dia sudah mulai bernafas lega.


"Tok tok tok" Miranda telah sampai dan mengetuk pintu apartemen.


"Ya Masuk" Juna membukakan pintu.


Miranda menghampiri El sambil membawa beberapa botol air mineral dan duduk di samping El.


"Kamu siapa?" El menatap Miranda


"Saya Miranda Syahila, Kamu biasa memanggil saya Oenni Syila. Apa kamu tidak mengingatku" Miranda menatap El dengan tatapan menyelidik.


"Oenni Syila?"

__ADS_1


"Ya Adikku Sheyla" Miranda tersenyum. Sementara El hanya menatap kosong dengan tatapan bingung.


"El, mungkin masih bingung. Kamu istirahat aja dulu ya" Juna menatap El khawatir.


"Apa kamu haus?" Miranda menuangkan air mineral kedalam gelas


"Saya bantu meminumkan ya"


Miranda membantu El meminumkan air.


"Oenni" El menatap Miranda dengan rasa terimakasih. Miranda tersenyum mengambang.


"Ingat nama saya Oenni Shila ya, nama kamu Sheyla. Ok" Miranda tersenyum.


Juna juga ikut tersenyum, meski dia merasa agak aneh Miranda memakai nama belakangnya. Tapi tak ada salahnya juga. Mungkin memang begitu sapaan akrab mereka. Pikir Juna.


"Oenni? Korban drakor ya" Juna menatap Miranda


"Hihihi" Miranda mencubit lengan Juna.


"Sakit tau" Juna menggosok-gosok lengannya.


"Mi" Juna hendak bicara.


Miranda menarik Juna keluar.


"Panggil aja aku Shila mulai sekarang Jun!"


"Kenapa?" Juna heran


"Sheyla terbiasa sejak dulu memanggail aku Shila. Aku hanya ingin ingatannya cepat kembali" Wajah Miranda berubah sedih


"Terimakasih Jun" Miranda Memeluk Juna. Itu untuk pertama kalinya dia spontan memeluk Juna. Juna juga senang, dia ikut bahagia jika Miranda bahagia seperti itu.


"Kalau begitu Aku balik kerumah sakit dulu ya. Nanti malam aku mampir kesini lagi" Ucap Juna bersemangat.


"Baiklah, jangan lupa bawa makanan buat kami!".


Miranda tersenyum kecil.


"Siap bos" Juna memberi hormat.


"Idih kayak anak kecil aja" Miranda tersenyum dengan tingkah Juna.


Namun dia sangat bahagia memiliki sahabat seperti Juna. Juna sudah pergi kini tinggal Miranda dan El.


Miranda menghampiri El.


"Adik, kamu istirahat saja dulu ya. Kalau apa-apa kamu panggil saya" El mengangguk dan kembali tidur.


Miranda mengubah tatapannya dari sayang menjadi benci.


"Kenapa kamu nggak mati aja waktu kecelakaan itu. Kenapa sulit banget nyingkirin kamu" Bisik hati El.


"Pokoknya saya harus cari cara untuk membunuhmu tanpa jejak kecurigaan" Miranda menatap El dengan tatapan benci.

__ADS_1


Dia masih memikirkan cara yang pas untuk balas dendam. Tapi sekarang dia perlu istirahat dulu, dia membaringkan diri di sofa.


Sambil memainkan HPnya, dia sesekali memperhatikan El yang tertidur.


"Kira-kira bagaimana perasaan Erik sekarang, sehancur apa dia kehilangan istrinya ini. Hahhaha saya ingin melihat ekspresinya sekarang. Makanya jangan macam-macam sama Miranda" Bisik hatinya.


Dia membuka Hpnya dan melanjutkan menonton drakor kesukaannya. Apalagi uang mau diperbuat pengangguran seperti dia. Miranda telah mencoba mencari pekerjaan baru namun hasilnya nihil.


"Jika Aku tidak bisa mencari pekerjaan kantoran. Mungkin Aku bisa bekerja paruh waktu di cafe seperti tokoh utama film ini. Iya, Aku harus bekerja lagi. Aku nggak mungkin terus-terusan mengandalkan Juna" Pikir Miranda.


Dia pun mencari informasi pekerjaan lewat internet.


"Hilangnya Istri CEO Rikzio Chen masih menjadi misteri" Begitu berita yang sedang viral.


"Berarti Erik masih mencari El, Saya harus menyembunyikan El dari orang-orang. Termasuk Juna" Pikir Miranda.


Dia segera memutar otaknya,


"Baiklah, Aku akan membawa El pergi dari sini. Ketempat yang jauh" Miranda bersiap-siap, dia mengemas bajunya. Lalu El didandani dengan tampilan baru. suapaya tidak dikenali orang-orang.


Miranda memberi El tompel dipipinya, ponis palsu dan kaca mata.


"Kamu sepeti beti la vea. Akhirnya kamu jelek juga hahhaha" Miranda tertawa puas dalan hatinya.


"Oenni kenapa saya harus seperti ini?" Dia pasrah saja dalam kebingungannya.


"Sheyla sayang, kamu tahu ada seorang CEO gila yang kehilangan istrinya. dan wajah istrinya itu mirip sama kamu. Kamu tahu, kamu kecelakaan karena dia mengejar-ngejar kamu dia pikit kamu istrinya. Untuk keselamatan kamu Oenni harus dandani kamu seperti ini supaya dia tidak mengenali kamu. Oenni tidak mau lagi terjadi apa-apa sama kamu" Miranda memeluk El.


"Oenni Terimakasih" El dengan mudah termakan sandiwara Miranda.


"Oh ya Tunggu sebentar ya" Miranda lalu menulis surat disecarik kertas untuk Juna. Dia juga membuang kartu HPnya.


"Ayo Adik" Miranda menarik tangan El.


Mereka pergi naik taksi, dengan perjalanan yang jauh. Sehingga El tertidur di bahu Miranda.


"Ih ngapain sih pakai tidur segala" Gerutu Miranda, namun dia membiarkan saja.


Ada sebuah desa yang dituju Miranda, dulu dia pernah kesana dengan teman kuliahnya. Jadi dia sudah hapal daerahnya.


Setelah lama diperjalanan akhirnya mereka sampai juga di desa itu. Miranda segera mencari rumah kontrakan.


"Adik, mulai sekarang kita tinggal disini" Mereka tinggal dirumah yang sederhana. Namun masih layak ditinggali.


Miranda segera bersih-bersih rumah, sementara El juga ikut membantu.


"Aw" El memegangi kepalanya.


"Sedikit-sedikit sakit kepala" Gerutu Miranda.


"Adik istirahatlah, biar Oenni yang membereskan"


"Terimakasih Oenni" Ucap El.


"Awas saja kamu nanti" Bisik hati Miranda sambil melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


Sementara El beristirahat dalam kamar, dia masih bingung dengan semuanya. Semua terasa seperti mimpi baginya.


bersambung


__ADS_2