
"Is ok" Toby merespon Ringan dan kembali duduk dengan manis di kursinya.
"Kenapa dia yang datang?" tanyanya lirih padaku.
"Tanya ibumu " jawabku kesal. Bagimana mungkin ibu mertuaku yang pengangguran itu tidak sempat mengunjungi menantu satu - satunya ini.
****
Jorge menghampiri kami dengan langkah ringan, dan segera mwnyerahkan karangan bunga yang dia claim dari Mama Toby.
" Apakah Ibumu tidak tahu kamu pulang?"
"Aku berencana memberi tahunya usai dari sini" Toby memandangi bunga peony yang sudah Di Tanganku.
"Itu dari Mama-mu, aku juga tahu Sandra di sini karena beliau mampir ke studio dan memberi tahuku"
"Dia mampir ke studiomu, tapi tidak ke sinj?"
Jorge memandang ke arahku "Are you Ok?"
Aku hanya mengangguk tanpa suara, jujur aku tidak ibgin terlibat konflik keluarga yang sepertinya akan terpercik di antara mereka.
"Bibi bilang, undangannya se arah, beliau di undang untuk peluncuran Adilaksono city land"
Oh God....!!!
__ADS_1
Rizal rupanya sudah melangkah lebih cepat dari dugaanku.
"Adilaksono...? Milik keluarga adilaksono bukan?" tanya Toby hanya memastikan, kalau memang itu orangbyang sama.
Jorge mengangguk mantap " Salah satu putranya yang sudah sukses dengan bisnis propeetynya di singapore, mulai membangun bisnis property di sinj dan juga mulai memegang sebagian anak cabang perusahaan"
"Apakah ,,claimnamanya Rizal..?"
Tanyaku otomatis, karena Jorge berkata sebagian. Itu terdengar sedikit menyenangkan dari Pada keseluruhan.
Bagaimanapun, Rizal adalah anak dari istri kedua atau mungkin simpanan. Meski tetap saja, dia punya uang dan kekuasaan yang besar.
" Kamu mengenalnya?" tanya Jorge
Aku berusaha menggeleng, tapi Toby malah mengangguk.
"Kalian terlibat masalah dengannya"
"Iya" Jawabku yang mulai menyerah. Tapi...
"Tidak.." jawab Toby secara bersamaan.
"Hmmm... Apakah berikutnya adalah aku?" Jorge bersandar mulai mengambil satu kursi dan mengambil duduk di antara kami.
"Pihak public relation dari Adilaksono city land baru saja menghubungiku pagi ini tentang tawaran untuk kerja sama, untuk photography perusahaan mereka tentunya"
__ADS_1
Hmmm... Kami bertiga mulai hening. Mungkin pikiran kami mulai melayang pada runtutan peristiwa. Tapi pasti ingatanku yang paling detail.
Aku dan Rizal bertemu hanya untuk program TV, kemudian dia menawarkan investasi pada Om Yoga dimana aku dan Toby bernaung. Mengundang ibu Toby dalam acara pentingnya dan mulai mengajak sepupu Toby untuk kerja sama.
Sebenarnya manusia seperti apa Rizal sebenarnya?
Aku menjatuhkan tubuhku ke ranjang, tanla melepas bunga peonny Di Tanganku. Otakku rasanya harus bekerja keras lebih daripada berhadapan dengan Toby yang lebih banyak memberi serangan jantung.
Ckckck....andaikan saja organ tubuhku buatan manusia mungkin aku sudah harus siap untuk melakukan process pensiun untuk keduanya usai semuanya selesai.
"Jadi... Aku harus bagaimana?" Jorge melampar tanya pada kami berdua.
"Apakah bantuanmu bisa aku andalkan setelah kamu mengakui, kalau kamu nakzir istriku?" suara Toby selalu saja terasa kasar di telinga ku.
"Hmmm..." Jorge memalingkan wajahnya padaku sejenak "tergantung inti permasalahannya"
Ck... Aku berdecih dan mulai memunggungi mereka berdua. Persaingan antara laki - laki sama sekali bukan ke ahlianku.
Seumur hidupku, aku tidak pernah sekalipun mengalami peristiwa bahwa pria berebut mendapatkanku.
Mungkin pepatah itu benar, bahwa bunga memiliki waktunya sendiri untuk mekar, termasuk aku. Yang mungkin lebih mirip bunga bangkai yang sedang di perwbutkan oleh gagak seperti Toby dan Rizal, serta satu malikat penggoda seperti... Jorge, yang sudah menyefah sebelum berperang.
"Jadi apakah ini tentang istrimu?" tanya Jorge yang kembali terlontar.
"Hmmm..."
__ADS_1
"Setidaknya... Andaikan aku tidak punya kesempatan. Bukankah lebih baik aku memihak keluargaku. Meski keluarga itu menyebalkan sepertimu" sambut Jorge.