TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Nama


__ADS_3

"Tapi, aku ingin jelas tahu bagianku agar kita bisa mengatur presentasi yang akan kita dapat dalam perkiraanku menyelamatkan kalian berdua"


"Maksudmu??"


"Sederhana saja, kita blow up beritanya dan kita beli semua sahamnya..." Aku menarik semua oksigen semampuku... Berfikir seperti ini setelah melahirkan dan menyusui benar benar tidak pernah aku bayangkan. "Kita bisa melempar om Yoga dengan mudah saat itu, meski kita harus menanggung dosanya pada pemerintah"


Keduanya tertegun memandangku dengan tatapan antara heran dan bangga serta tak terduga.


"Kepemilikan public hanya sekitar lima persen, itu terlalu kecil untuk membatalkan ancaman mereka" Albert menyadari celah.


"Private placement bisa mendapatkan lebih banyak"


Sejenak kami terdiam, hingga berahir menatap Toby yang masih termenung.


"Aku...?"


"Ayahmu.." Jawabku dan Albert serempak.


"Susah payah aku berusaha menjadi Celebrity dan menghindar dari dunia bussiness, kenapa aku harus bertekuk Lutut untuj memohon bantuannya, tua bangka itu juga tidak akan mau hal yang gratis"


"Jadi.. Papa sudah berdiskusi denganmu?" tebakku.


Toby mendengus dan berbalik seeta mengambim duduk fi sofa.


"Kind of"

__ADS_1


"ckck..."


Suasana ruangan hening, tubuhku juga mulai lemas.


"Kita gunakan Rizal..."


Nama itu langsung memacu andrenalinku lagi "Pria brengsek itu lebih baik menjauh" sergahku otomatis yanh segera kembali merebah.


"Bukankah dia sebelumnya berprofesi sebagai akuntan public?"


"Hubungannya?" aku beeusaha menolaknya.


"Ckckkc... Manusia jenis Sandra, tidak akan tahu bahwa baik musuh atau teman itu ada masa expirednya"


Albert tertawa kecil seolah mengejek sisi kehidupan yang belum aku mengerti.


"Pantas saja kamu enggan kaya" sambut Toby lirih.


"Kamu hubungi Rizal, kalau audit Gallery Mama bisa menyeret mama ke penjara, terasa janggal bila om Yoga masih aman hingga saat ini"


"Itu masuk akal, mengingat keduanya adalah partner" Albert langsung setuju.


"Hey... Kalian mengabaikan pendapatku"


"tentu saja, karena dalam rencanamu ada perceraian kita. Aku jelas tidak setuju"

__ADS_1


Aku hanya melongo sesaat "Aku juga berhak kaya bukan"


"Kamu sudah cukuo kaya menjadi istriku, di tambah lagi menjadi ibu dari anakku yanh adalah cucu Papa"


"Ckckkckc... Aku kira setelah sekian lama dengan anak yang ada di antara kalian, hubungan kalian akan membaik"


"Hampir.. Sampai aku tahu..." Aku menggantung ucapanku ketika mendengar Albert.


"Andhira.. Kuat dan berani" Albert menarik nafas dan mengelus tepian box bayi kami "Anggap saja itu doaku untuknya mengingat sebeerapa banyak aku mengenal orang tuanya"


Andhira? Nama itu terdengar manis dan tidak buruk. Dan memang dengan suratan takdir orang tuanya, dia sangat membutuhkan dua hal itu sejak dini. Kekuatan dan kebeeranian, karena hiduo ini sering memiliki kejutan, seperti...


Toby mengecupku... "Tidurlah... Masalah nama sudah selesai, urusan sisanya aku akan menyelesaikannya. Cukup jadi istri dan ibu dari anakku saja.. Ok?" Toby mendorong bahu ku untuk merebah dan membenarkan selimutku.


"Tunggu..." Aku mencoba memoting langkah Toby dan Albert yang seakan segera pergi. Namun Sepertinya Toby memilih abai.


"Saham 3persen di radio tempatku bekerja masih berlaku bukan?"


Toby memutar lehernya.


"Setidaknya aku bisa membantu secara media bukan?"


Toby kembali menatap lurus ke depan.


"Akan aku urus soal sahammu, tapi urusan sisanya kita bahas lagi nanti"

__ADS_1


Toby dan Albertpin segera menghilang di balik pintu. Entah mengapa serasa pinggung Toby yang kitatap tadi terasa cukup dingin.


"Andhira.. Bukan nama yg buruk" gumamku yang mulai menelan lelah dengan lelap.


__ADS_2