
Pucuk Cinta ulam pun Tiba.
Beberapa berkas surat kuasa kini sedang tersodor di hadapan Rizal saat di panggil ayahnya.
"Kamu tahu betul, bahwa kami tentu akan memiliki status pemilik bila kami semua duduk di pemerintahan bukan?"
Rizal hanya diam dan mengamati beberapa lembar surat kuasa yang di serahkan padanya.
"Jadi aku juga punya kewenangan untuk melakukan merger dan akusisi pada perusahaan yang aku inginkan?"
"Asal kamu tidak membuat perusahaan Rugi, tentu saja"
Risal menahan senyumnya dengan mwngatuokan kedua bibirnya.
"Kamu sudah tahu rasanya hidup dalam kepailitan bersama ibu dan kakekmu bukan?"
Kali ini Rizal tak bisa menahan semyum pahitnya di kala dia menganggukkan kepalanya untuk m3nandakan dia m3mahami situasi itu.
Masa itu adalah hal yang paling sulit dalam hidupnya. Lebih dari dia melihat ibunya yang banting tulang tanpa henti, meski kesehatannya menurun. Dia juga harus melihat bagaimana kakeknya menderita gangguan mental saat itu. Setiap hari, serasa hidup di atas mata pisau, diam sakit, bergerak juga menambah luka.
Dentuman debt kolectror sudah seperti rutinitas hingga ahirnya dia dan keluarganya berhasil kabur ke kampung, dan setidaknya bisa mendapatkan keheningan. Meski suara tangis atau raungan kakeknya kadang menggema tengah malam.
Namun.. Lebih dari semua itu... Yang paling menyakitkan adalah bahwa ayahnya ternyata memiliki kemampuan seratus kali lipat untuk menyelesaikan masalahnya saat itu. Dan ayahnya memilih tidak melakukannya hanya karena dia ingin menggandakan bisnisnya dengan menikahi istrinya saat ini.
__ADS_1
"Aku pastikan perusahaan tidak akan pailit ayah" Jawab Rizal mantap, seiring jemarinya yang segera menata rapi surat kuasa itu.
'Tapi aku pastikan ayah membayar lunas penderitaan kami' Batinnya.
seraya mengenang bagaimana kakeknya berahir meninggal karena lompat dari gedung dan ibunya yang meninggal karena leukimia akibat harus selalu lembur di pabrik yang memiliki kadar Benzoa tinggi. Dan tentu saja, tidak ada dhana cukup untuk pemgobatannya.
Tetes air mata mengalur tipis saat Rizal meninggalkan ruangan ayahnya.
"Dan kini aku punya bakat dan kekuatan untuk mengubah situasi" Gumamnya ketika melintasi lobby perusahaan Adilokso.
Dia ingat sekali bagaimana dia pernah memohon dengan menangis di meja receptionist ini, hanya untuk m3minjam uang untuk biaya rumah sakit ibunya. Dan dia hanya berahir dengan tangan kosong dan dua luka pukulan satpam di perutnya.
" Bukankah lebih baik memilih dati yang paling mendesak? Star Entertainment.. I am Coming"
"Apakah hasil auditnya sudah selesai?" Tanya rizal pada seseorang di seberang sana.
"Sudah.. Aku hnaya perlu instruksimu untuk me rilisnya"
"Aku akan segera mengabarimu"
Rizal segera mempersiapkan apa yang sangat di inginkan Yoga dari awal darinya. Yup.. Investasi.
Tapi kali ini bukan hanya itu yang diberikan. Dia juga akan memberikan tambahan Uang pinjaman untuk lelaki serakah itu.
__ADS_1
Tentu saja dengan syarat dan ketentuan yang tepat.
*****
"Sungguh....?? " Om Yoga tentu saja langsung menyambut baik.
"Aku tidak tertarik lagi dengan Sandra" Jawabnya ringan "Kegigihamu mempertahankan perusahaan membuatku ingin berspekulasi untuk lebih menghasilkan lebih banyak uang"
"Benar... Duania Entertainment adalah bisnis yang sangat rentan..termasuk dalam meninggikan laba yang menjulang"
"Bahkan Pria lima belas tahun bisa menghasilkan pendapatan lebih dari seratus orqng dewasa yang bekerja 8 jam dengan tarif minimum, hanya dalam sehari"
"Kamu memeriksa pendapatan Toby?"
"Tentu saja, dia masih wajah utama perusahaanmu. Setidaknya sampai Promo Albumnya usai."
"Benar...!" Yoga mengangguk mantap, sepasang matanya tak bisa leoas dari tas kerja Rizal yang tergeletak di atas meja designernya.
"Aku akan mencetak lebih banyak lagi talent seperti Toby. Bahkan Rachel.. Celebrity cantik itu juga sudah bergabung dengan kami"
"Aku melihat pengumumannya" Kali ini Rizal mulai membuka tasnya "Hanya saja, aku ingin memaksimalkan Toby sekali lagi. Hanya untuk mengukur, siapa yang lebih berpengaruh"
"Maksudmu...??"
__ADS_1