TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Usaha


__ADS_3

"Tapi Gareth meninggal karena stroke di usia belia, kamu tahu kenapa?" Suara Toby makin bergetar.


"Karena kami berusaha sangat keras dan hanya makan makanan sampah..!!!!! Dan setelah semua hal itu kamu percaya aku hasil nepotism???!!!!" Suara Toby meledak lagi. Hingga membuat jantungku seakan berpindah lokasi.


Tapi justru Albert memandangku dingin seiring langkahku yang mundur.


Ini bukan salahku, bukan aku yang ingin menikah dengan Toby. Kalau hingga saat ini aku bertahan, ini bukan sekedar soal aku egoist tentang cinta. Tapi ada anak di antara kami. Secara hukum kami juga tidak mungkin bisa bercerai bukan?


Harusnya Albert salahkan Rizal yang physico bukan aku.


Semua mulai berputar di ruang pandangku, Toby Albert yang masih berteriak satu sama lain juga Seluruh ruangan ini.


Dan.....


*******


Toby masa lalu..


"Jeremy mendapatkan nilai tertinggi lagi, aku malas menghadiri pwrtemuan keluargamu" Mama Toby yang masih nampak muda mulai mengeluh di meja makan.


"Kenapa harus malas, tinggal datang saja"


"Sepupumu pasti akan membanggakannya dengan sangaat berlebihan sepanjang waktu"


"Kamu juga punya Toby, dia anak yang baik" Ayah Toby menurunkan korannya dan menatap putranya yang tumbuh dengan baik "Itu juga kebanggaan"


"Benar.." Mama Toby memotong "Tidak ada yanh salah dengan anak kita, seseorang bisa saja lebih baik dalam banyak hal kecuali akademis. Tapi tetap saja mereka selalu berbisik bahwa Toby tidak pantas sebagai pewarismu"


Toby yang awalnya sibuk mengoleskan selai dibatas roti panggangnya mulai terhenti.

__ADS_1


"Kalau tidak pantas, tidak usah. Banyak cara untuk mencari nafkah" Toby mulai ikut dalam percakapan keluarga kecilnya.


"Eh...tidak bisa begitu, bagaimanapum perusahaan itu di bangun dengan darah dan keringat ayahmu" mama Toby kini menatap fotonya yanh terpajang cantik di salah satu sudut ruangan "Dan juga kuburan karirku"


"ayolah Ma... Kalau tidak mau datang, tinggal tidak usah datang. Tidak perlu mengeluh" Toby mulai tidak tahan akan keluhan Mamanya sejak pengumuman nilai sudah di keluarkan.


Tanpa pamit, Toby meninggalkan ruangan makan keluarganya dan segera bergegas ke halaman di mana sopir pribadi telah bersiap dengan mobilnya untuk mengantarnya ke sekolah.


"Hari ini kita berhenti di gerbang belakang saja"


"Ok"


Toby mulai menutup matanya sepanjang perjalanan. Di pikir bagaimanapun, dia memang yidak mewarisi kecerdasan dari keluarga ayahnya.


Hampir semua sepupunya selalu mendapatkan nilai tertinggi dari tempat mereka belajar.


"uhf.... Apakah pintar itu perlu pak?" Toby ahirnya membuka percakapan dengan pak Ahmad.


"Pasti perlu, bapak ini pinter nyetir hafal jalan dan faham rambu - rambu lalu lintas makanya bisa jadi sopir" jawab Pak Ahmad yang memang sangat paham dengan keresahan tuan mudanya.


"Kalau mau jadi seperti Papa"


Pak. Ahmad mengambil jeda sesaat. Dia memahami kegelisahan Toby sebagai anak tunggal dari pemilik perusahaan multinational.


Menjadi pewaris iru bukan pilihan tapi kewajiban.


"Tidak semua raja memimpin dengan cara yang sama" jawab pak Ahmad bijak. "Ada seorang raja di negara mesir yang terlahir cacat dan tidak berumur panjag serta tidak lebih pintar dari ayahnya, tapi dia bisa mengubah mesir jadi negara makmur pada masa pemerintahannya yang singkat"


"Dia di lengserkan?"

__ADS_1


"Bukan... Dia meninggal karena penyakitnya"


"Pak, ahmad ngarang kan?"


"Tidak.. Bisa di cari"


"Kalau gitu sejarahnya yang salah"


"Lho... Kok gitu??"


"Aku rasa dia mati karena tekanan batin, lebih dari yang aku miliki" Keluh Toby


"Tapi pada ahirnya sejarah tidak bisa mmenutup mata akan keberhasilannya memakmurkan rakyat, bukankah hidup kita ini memang bukan untuk kita sendiri?"


Toby mengangguk


"Yang terpenting adalah menjadi yang terbaik dari versi kita sendiri, berlian tidak akan redup hanya karena lumpur yang menyelimutinya bukan?"


"Benar pak.."Toby mulai membuka kaca jendela mobil dan menyapu pandangan keluar jendela di sepanjang perjalanan.


" Pak..?? "panggil Toby pada pak Ahmad dengan setengah berbisik" Apakah orang tuaku selalu memastikan aku sampai sekolah? "


" Hah...?? "Pak Ahmad yang sedang konsentrasi memperhatikan lampu merah mulai menolehkan wajahnya ke arah Toby.


" Tidak pernah sih "Jawabnya dengan nada curiga.


" Kalau aku bolos sehari pasti nggak ketahuan kan? "


" Lho..jangan... "

__ADS_1


__ADS_2