TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Rencana Miranda


__ADS_3

Miranda telah sampai di depan gang rumahnya, dia hanya perlu berjalan kaki beberapa meter lagi. Meski dia belum bekerja, tapi dia merasa lelah juga.


"Tok tok" Miranda mengetuk pintu.


"Ceklek, Oenni" El langsung memeluk Miranda


Miranda terkaget dia merasa risih dengan pelukan El.


"Sheila" Miranda perlahan membalas pelukan El. Meski dia agak risih juga.


"Oenni kenapa lama sekali pulangnya Oenni?" Rengek El.


"Memangnya kenapa dik? Apa kau takut?" El mengangguk pelan.


"Sudahlah tidak apa adik" Miranda tersenyum


"Oenni tadi aku masak buat Oenni ayo kita makan" Ucap El dengan semangat


Rupanya El telah membersihkan rumah dan memasak. Meski Miranda hanya memberikan les dadakan kepada El, nyatanya El bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan baik.


"Wah, Adik Oenni memang pintar. Terimakasih ya Dik" Dia pun tersenyum


"Terimakasih telah mau jadi pembantu di rumah ini" Bisik hati Miranda.


"Ayo Oenni kita makan" El mengambilkan piring miranda, memasukkan beberapa sendok nasi dan lauk kedalamnya. Dia tidak lupa mengambilkan segelas air untuk Miranda.


"Baguslah kamu mulai mengerti posisimu" Miranda tersenyum puas dalam hatinya.


Sehabis makan Miranda pun pergi ke kamar.


"Adik, aku belikan sesuatu untukmu"


Miranda menyodorkan baju yang dibelinya tadi


"Apa ini Oenni" El menerimanya dengan senang hati.


"Ini baju tidur dan baju dirumah untukmu. Meski ini murah tapi cukup nyaman kok" Miranda tersenyum


"Yeay, Terimakasih ya Oenni" El kegirangan dan langsung memeluk Miranda.


Lagi-lagi Miranda membiarkan meski dia merasa risih.


"Aku coba dulu ya Oenni" El segera mengganti bajunya.

__ADS_1


"Bagaimana Oenni" El melihat tubuhnya di cermin.


"Walaupun aku iri, tapi aku akui dia memang cantik sekali" Bisik hati Miranda.


"Wah, cantik sekali adik. Bajunya pas" Miranda tersenyum, dalam hati dia iri dengan kecantikan El.


"Padahal iti baju murah, tapi kenapa dia cantik sekali" Miranda menatap El dengan sedikit kecewa


"Oenni, terimakasih Oenni" El menciumi pipi Miranda dan bergelantungan seperti anak kecil


"Iya Adik" Miranda sekali memaksakan senyumannya.


Miranda lalu menceburkan diri ke kasur dan mulai membuka laptopnya dan mulai menonton drakor kesukaannya.


"Oenni" El mulai bergabung


"Duh, kenapa dia ikut nonton juga sih" Gerutu Miranda dalam hati


"Oenni, lagi nonton apa?" El berteriak


"Eh, ini Oenni lagi nonton drakor"


"Aku boleh nonton juga kan?" El menatap dengan mata yang berbinar


"Ok tentu saja" Miranda mengambangkan senyumannya,meskipun terpaksa


Akhirnya mereka menonton drakor bersama, persis seperti kakak adik yang sesungguhnya. Meski di dalam hati Miranda tidaklah begitu, namun El sangat menyayangi Miranda.


Menonton film drakor memang menghabiskan waktu Miranda berjam-jam. Waktu segitu tidak akan lama rasanya jika menonton drakor kesukaannya.


"Akhirnya, tamat juga" Miranda menggeliat


"Hoaam" Rasa kantuk menghampirinya.


Dilihat disebelahnya El sudah tertidur dengan baju tidur yang dia berikan


Lalu diselimutinya El, layaknya seorang kakak dan adik sungguhan.


Dia mematikan lampu dan juga tidur disanping El.


***


Pagi-pagi sekali Miranda telah bersiap untuk pergi bekerja. Ini hari pertama baginya, dia akan bekerja dengan profesional seperti sikapnya bekerja di perusahaan dulu. Bagi Miranda, tidak peduli dimana kamu bekerja,bekerjalah dengan sepenuh hati. Begitulah motto Miranda sehingga dia dapat membangun kariernya yang cemerlang.

__ADS_1


"Oenni, apakah Oenni akan berangkat sepagi ini?" El melihat jendela yang masih agak gelap.


"Iya Adik, Doakan Oenni supaya dapat rezeki buat kita


" Iya Oenni, Aku selalu berdoa semoga Oenni selamat dalam bekerja dan cepat oulang kerumah" Ucap El.


Miranda menatap El sejenak, dia tersentuh dengab kata-kata El. El yang selalu mendoakan kebaikan untuknya.


"Terimakasih Adik" Miranda pun segera pergi untuk bekerja.


Di cafe Miranda bekerja dengan giat, dia bekerja dengan rajin dan ulet.


"Shila tunggu sebentar" Wanita paruh baya itu segera menghampirinya


"Iya Buk, ada apa buk?" Shila bertanya heran, karena dia sudah menyelesaikan seluruh pekerjaannya dan bersiap untuk pulang.


"Ini aku ada sedikit makanan untukmu, bawalah pulang" Ucap wanita itu.


"Iya terimakasih Buk" Miranda membetulkan posisi kacamatanya.


"Hati-hati di jalan ya" Wanita itu tersenyum ramah, berbeda dengan ketika Miranda pertama bertemu dengannya.


Miranda segera menyetop becak motor, dia membawa bungkusan yang diberika oleh wanita paruh baya itu.


"Nanti Aku akan berikan kepada El, dia pasti akan senang" Ucap Miranda dalam hati


Miranda menikmati perjalanannya diatas becak mtor itu, sekarang mulai menikmati hidupnya yang sederhana. Ya, tidak ada gunanya dia mengeluh semua itu hanya akan menambah kegundahan di dalam hatinya. Lebih baik dia berusaha bangkit, dan kembali menata hidupnya meski entah kapan kariernya akan sukses lagi seperi dulu.


Miranda telah sampai dirumah dan disambut El dengan wajah gembira. Lagi-lagi El kegirangan fia seakan tidak punya beban.


"Kenapa dia setiap hari bahagia? Padahal aku sudah memisahkan dia dengan suaminya dan merubah kehidupan putrinya menjadi babu. Tapu tiap hari yang Aku lihat hanyalah kebahagiaan dan keceriaannya" Gerutu hati Miranda.


"Dengan cara apa ya, Aku membalas dendamku pada Erik. Apa Aku harus benar-benar menyingkirkan wanita ini. Tapi Aku tidak tega kalau membunuh dengan berdarah-darah. Aku fobia fengan darah" Miranda masih memutar otaknya malam itu.


"Ahhh sial, Kenapa jadi sesulit ini ya?" sesal Miranda.


"Oh ya, besok hari Minggu. Bagaimana kalau Aku pergi ke orang pintar di seberang sungai sana. Dulu waktu aku main kesini, Orang-orang mengatakan diseberang sungai sana ada nenek Tua yang pintar. Bagaimana kalau Aku meminta racun yang mematikan dari nenek itu, nanti setelah El tiada Aku akan pergi ke kota lagi" Pikir Miranda.


Kebetulan setiap hari Minggu Miranda dapat jatah libur, jadi dia mempergunakan kesempatan itu untuk mencari cara menyingkirkan El.


Malam itu dia mencoba memejamkan matanya namun dia masih terbayang Erik ketika memarahinya, dia juga ingat waktu sekretaris Jim menarik tangannya dengan kasar dan melemparkan tunbuhnya hingga tersungkur ke kaki El. Meski saat itu dia sudah mengakui segala perbuatannya dan meminta maaf, tapi dia tetap dipecat dan kehancuran kariernya membuat dia dendam dan ingin membalas segala perbuatan Erik kepadanya.


"Erik, Tuan Muda yang sombong. Bagaimana sekarang Apa kamu mulai gila ha" Teriak hatinya puas.

__ADS_1


"Ingat ini baru permulaan, nanti akan ada permainan yang lebih menyakitkan untukmu. Tunggu saja waktunya. Aku tidak sabar melihat kau hancur berkeping-keping, seperti Aku dan abangku yang telah kau hancurkan. Tuan Muda kau harus membayar semuanya dengan mahal" Miranda tidak sabar menjalankan semua rencana yang telah tersusun di otaknya, dengan senyum tipis dibibirnya dia yakin akan bisa membalaskan dendam dia dan abangnya.


__ADS_2