TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Kerja


__ADS_3

Langkahku melaju cepat, di iringi Tia yang cekatan mengikutiku. Suata pump sepatu ku menggema ketika aku mulai memasuki lantai dua gedung management.


Seolah semua orang seperti berhenti sejenak untuk melihat ke arahku. Uuhf...


Aku memang tidak seperti Celebrity yang lain, yang beroenampilan super Wah. Tapi mereka juga tidak berhak untuk menghakimi penampulan fisikku.


Aku beberapa dari mereka juga tidak lebih baik dariku. Seperti wanita yang sedang berdiri di dekat mesin foto copy. Dia memuliki tubuh yang tidak lebih tinggi dariku dan juga gendut. Rambutnya lurus membingkai pipi chubby dengan beberapa jerawat yang sedang meradang.


Namun bagaimana mungkin dia menatapku dengan sinis, ketika satu - satunya yang nyaman dibpandang darinya hanya warna lipstick yang cukup serasi dengan warna kulitnya.


Ccck... Cck...


Salah satu wanita juga muncul dari lorong, dan segera tersenyum sinis ke arahku. Meski dia juga beroenampilan cukup kuno dan norak. Padahal dia bergaul dengan dunia penuh gaya bersama para Celebrity.


Aku berhenti sejenak, mengumpulkan rasa percaya diriku.


Aku ramping, oke... Myngkin kurus. Tapi itu bagus bukan?


Aku memiliki leher jenjang, alis tebal alami, yang menggaris panjang di atas mata sedang dengan bulu mata yang lentik dan lebat.


Mungkin hidungku tidak begitu panjang, tapi juga tidak besar. Tapi yang jelas ini Asli sejak aku di ciptakan, original buatan tuhan.


Aku kembali berjalan dan melempar senyum sesaat, kepada siapapun yang berpapasan. Serasa sedang menerka, apakah bibirku yang tidak tipis ini juga bermasalah?

__ADS_1


Aku sudah bersiap untuk menyombongkannya andai ada yang mengatakan hal buruk tentangnya. 'Tahukah kalian bahwa Toby sangat ketagihan dengan bibirku ini? "


Aku tertawa sendiri membayangkan ketika wajah terkejut mereka, dan mungkin otak mereka ikutan terobsesi memiliki bibir rebal dan mulai melakukan filler. Huh... Tentu saja yang alami akan tetap menang.


" sebelah sini " Tia menunjukkan satu ruangan meeting kecil yang berjarak 5 meter dari ujung lorong.


Aku mengngguk dan segera memasuki ruang kosong itu.


"Apa aku harus menunggu seseorang"


"Benar.." Tia memeriksa jam tangannya "Kita menunggu pak Yoga dan perwakilan dari sponsor.


Ok... Aku menarik salah satu kursi. Dan mulai mengambil duduk. Begitupun dengan Tia yang mengambil posisi di sebelah ku.


Hmm.... Aku gagal mengingatnya....


"Apa kabar Sandra...?" Om Yoga langsung mengulurkan tangannya begitu usai menarik salah satu kursi.


"Baik pak.." jawabku singkat


"Kamu juga apa kabar Tia...? "


"Baik Pak.. "

__ADS_1


Om Yoga mengangguk "Bagus" Ucapnya sebelum mulai mengambil duduk bersama yang lain.


"ini adalah kerja sama pertama kamu dengan Agency kami. Aku harap kamu tidak keberatan untuk turun langsung dalam menanganinya" Om Yoga membuka pertemuan.


"Sama sekali tidak, justru saya yang merasa terhormat" jawabku diplomatis.


Ah beliau - beliau ini adalah dari pihak sponsor, Pak Rizal selaku CEO dan juga pemilik serta Pak Anwar adalah team pemasaran.


Aku mengangguk ke arah keduanya dan kembalj fokus pada Om Yoga yang mulai menyalakan proyektor.


"Acara inj adalah talk show mengenai topik - topik kesehatan. Dilakukan secara live dan dengan durasi satu jam saja" Om Yoga menjelaskan. "Sponsor utama acara ini adalah produk vitamin C milik pwrusahaan pak Rizal"


Om Yoga segera mengarahkan pandangnya dan segera mempersilahkan pihak sponsor untuk mengambil alih.


Pria bernama Rizal itu menunduk sejenak dan mulai membuka mulutnya, Tapi..


"Senang ahirnya berjumpa lagi... Apakah kamu tidak mengenaliku?" Tanyanya pada.... Mungkin Tia, karena aku sangat masih baru dalam dunia ini.


"Nona Sandra?"


Aku mengangkat alis tinggi.. "Saya...?"


"Iya.. Anda.."

__ADS_1


Ha..? . Apakah aku Mengenalnya.?


__ADS_2