
Kucuran white wine meliuk indah di gelas crystal Toby yang telah membungkus tubuhnya dengan kimono bermotif batik.
Aroma pesto mengjsik hidungku dan merongronh isi perutku. Setelah tinggal di rumah Toby pantas saja kalau pria ini pandai mengenali banyak makanan.
Namun memasak?
"Jangan buruk sangka, aku tidak memasukkan wine dalam menuku, ini hanya grilled pesto ravioli" Toby menunjuk ke arah lemari es yang aku fahami bahwa aku menyetok banyak ravioli sebelumnya.
"Aku tidak pintar mencari subjek obrolan dengan konsen yang berbeda, kebetulan Tia suka italian food" Aku mencoba menjelaskan situasinya, kenapa kami memiliki ravioli. "Aku belajar dari cheff piere saat di rumahmu.
Toby meneguk wine nya.
" Hampir saja aku cemburu dengan pria prancis itu "
" Aku bukan tikus yang makan sembarangan "Aku memasukkan satu potongan ravioli ke mulutku.
" Satisfy? "
" Good menu "
" Kalau yang sebelumnya? "
Aku menelan makanan di mulutku lebih cepat tanpa mengunyah lebih lama.
" Good "Jawabku
" Just Good? "
Aku memutar lidah didalam mulutku yang terkunci. Haruskah aku jujur dengan kata awesome?
Toby mengangkat kedua alisnya dan kembali meneguk white wine di tangannya.
" Secara anatomy aku memiliki dua setengah lebih besar otak hiphotalamus di banding dirimu"
Ruangan hanya sunyi selain bunyi degup jantungku yang enggan menyerah.
"Mengetahui tingkat kepuasan istriku, merupakan bagian untuk menjaga seleranya?"
Jadi... Haruska aku mengatakan dia luar biasa?
" i Was satisfy"
"Berilah penghargaan pada suamimu ini, aku tahu kita tidak berawal mulus. Tapi kita sudah ada dalam satu kata sepakat bukan? " Toby menyelesaikan sisa winenya dan segera menyantap ravioli di hadapannya.
__ADS_1
"Sejujurnya.. Itu mengagumkan"
"Good to know.."
Aku ahirnya luluh, seiring dengan pilihanku yang tak mungkin beralih dari Toby.
"Kira - kira sebesar apa kekuasaan dan kekayaan keluarga Adilokso?" Aku memulai subject yang membuat kami stress beberapa jam lalu.
Toby menerawang sejenak seolah menghitung beberapa hal.
"Yang jelas cukup sangat bisa diperhitungkan" Toby menetap lurus padaku "Kalau kamu di posisiku, mungkin butuh hidup dua atau tiga kali untuk memeiliki kekayaan seperti mereka, dengan catatan tidak ada hambatan"
"Itu banyak sekali..."
"Tapi belum bisa masuk dalam 20 besar orang terkaya di Asia, aku tidak begitu khawatir"
Kenapa Toby tidak perlu khawatir... Bukankah kami sedang melawan salah satu taipan kawakan?
"Sebenarnya Papa ingin membantuku untuk mendukung salah satu calon orang nomor satu di kota ini, uhf..." Toby kali ini mengisi gelasnya dwnga air mineral bermerck asing.
"Aku sudah menolaknya saat itu" Hampir sama dengan kebiasaannya meminum wine Toby memutar benda crystal itu terlebih dahulu.
"Haruskah aku berubah pikiran?"
"Aku koreksi... Rizal hanya sepertiga, bukan keseluruhan dan" Toby mendesis pelan "Apakah kamu sungguh membaca hal lain selain naskah beritamu?"
"Kamu tidak ingat dengan jelas nama suamimu dan mertuamu, maksudku tentu Papa" Toby memutar bola matanya.
Aku segera berdiri dan kembali ke ruang tengah di mana tasku bersandar di salah satu sudut sofa.
Tanpa menunggu, aku segera mengetik nama Toby dengan lengkap dan memastikan tidak ada spelling yang salah.
".... Keluarga.." Ketikku selanjutnya.
"Aku tahu penampilan Papa terlihat lebih muda di internet, ada teknologhy photoshop dan saat itu rambutnya belum sepenuhnya memutih atau.. Dia mungkin mewarnainya" Toby menjelaskan dengan segera ketika aku kembali ke hadapannya.
Aku mengusap wajahku kasar,
"Aku..."
"Jadi aku adalah bunga bangkai yang terjebak di antara dua burung pemangsa "
"Bunga bangkai?" ulang Toby yang aneh dengan perumpamaanku.
__ADS_1
Aku segera kembali ke kursiku semula. "Bila para wanita selalu di umpamakan sebagai bunga, maka bunga bangkai adalah aku"
"Jadi aku apa?"
" Burung Hering atau Condor?"
Toby menyentil jemarinya ke dahiku "Maksudmu aku burung bangkai?"
Auch... Iti sedikit sakit.
"Bukankah itu lebih bagus daripada lalat?"
Kali ini Toby menarik pipiku. "Lebih baik isi penuh perutmu agar bisa berfikir lebih baik"
"Sakit.. Tob.." Keluhku meski ahirnya menurut.
Toby hanya menyunggingkan senyum tipis.
******
Kriiing...
Toby hanya diam dan tak menghiraukan bunyi handphonenya yang masih mengerikan.
Kriiiing.... Kriiing...
Ini sudah kesekian kali.
Klik,...
Iti sepeeti suara message atau chat,
Dan...
Klik... Klik.... Klik....
Suara itu datang bertubi - tubi.
Ahirnya Toby mulai memberikan perhatian pada layar ponselnya.
Sepasang alisnya yang panjang segera menyatu sesaat. Namun Toby segera membalik layar handphonenya. Dan handphone itupun masih berbunyi beberapa kali.
"Kamu tidak mengangkatnya?"
__ADS_1