TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Shock


__ADS_3

Padahal, Urusan alcohol adalah salah satu syarat utama ketika aku menjalin hubungan dengan pria. Tapi siapa sangka takdir memberiku yang sebaliknya sekeras apapun aku menghindarinya.


"Apakah kamu sudah puas... Merusak kesadaranmu dan merepotkan orang lain?" umpatku pada Toby yang tergeletak tanpa sadar.


Meski bukan sekali membuka baju Toby. Namun melakukannya ketika kesadaran Toby terganggu adalah pertama kalinya untukku.


Lantas siapakah yang melakulannya selama ini? Seeingkali pasti Albert bukan? Tapi satu kali pasti Billy Wang.


Setelah semua yang dilakukannya untuk menghancurkan Toby gagal. Aku juga penasaran bagaimana kisahnya setelah ini.


"Kenapa kamu harus tumbuh sebesar ini? Dan memilih untuk mabuk? Tidakkah kamu sadar kamu akan merepotkan banyak orang" Gerutuku pada Toby sambil mulai melanjutkan apa yang hampir di kerjakan Albett sebelumnya.


"Uh... Berat.! "


Keluhku sesekali ketika harus membalik tubuhnya saat melepas atau memasang bajunya.


Apakah keluarga Toby tahu ketika putranya yang seperti ini?


******


"Sandraa...Sandra... " suara bass Toby mengulang namaku beberapa kali.


Aku yang belum tertidur benar hanya sanggup menahan pengap dengan pelukannya yangbsemakin erat.


Ah... Seharusnya aku memberi tahu Albert untuk membawanya ke kamarnya sendiri, meski Toby secara tidak sadar mengetuk kamarku.


"Aku tidak tahu kesadaranmy saat ini tersisa berapa, tapi kalau kamu memahamiku" aku membyka mataku perlahan "Bisakah kamu memeluk kakiku seperti biasanya, ketuka menyelinap kekamarku? Atau setidaknya berpalinglah supaya aku tidak mencium bau martini dan vodca dari mulutmu?"


Meski terusik, setidaknya ahirnya aku bisa tidur nyenyak karena malam ini Toby pulang. Dan spertinya dia masih setia.


********


" Kriiiing.... "


" Kriiiing.... "


" Kriiiing.... "


" Aku sudah bangun "Mataku segera terbuka, kenapa akubyang menjawab.


" nyalakan Tv "Suara Albert menggema di seberang sana. Dan....


Wajah Toby yang sedang murung juga tersaji dengan posisinya yang bersila di atas ranjangku.


" Kenapa kamu menjawab telphoneku? "Toby memejamkan matanya sejenak" Aku saja semgaja membiarkannya "


God... Nyawaku belum berkumpul seutuhnya, geruruan Toby otimatis membuat..


" Jadi kenapa kamu nggak silent atau matiin seklaian ".. Aku mengumpat.


Toby mengambil benda pipih itu dariku dan mematikan sambungan telephone yang aku jamin Albert sedang mengomel di seberang sana.

__ADS_1


"Ayo tidur lagi" Toby merangkulku dan membuat kami berdua bersembunyi di dalam selimut.


Namun....


"Kriiing.... Kriiiing... Kriiing"


"Tapi bisakah kamu matikan dulu telphonmu?"


"Tidak bisa, aku sedang menghitung seberapa parah kondisinya berdasarkan jumlah deringnya"


Kami berdua terdiam sejenak.


"Kriiing.... Kriiiing... Kriiing"


"Kalau parah sekali?"


"Bisa seharian" Jawab Toby ringan.


Wajahku langsung terperangah, dalam otakku sudah terbayang kami akan mendengarkan ringtone menyebalkan iti sepanjang hari?


"Tob... Aku masih ingin waras"


Toby mendengua dan membuka selimut, wajahnya menatap langit - langit kamar.


"Ayo ikut aku"


Toby segerq menarik tanganku dan turun dati ranjang.


"ketempat yang nggak bisa dengat suara handphone"


"Ha....."


Seperti biasa Toby tentu tidak bisa di bantah. Dalam hitungan menit kami berdua audah berada di studio music Toby di lantai dua.


Dengan santai Toby segera menata cushion di atas Sofa. Dan...


"Sini..." Toby melambaikan tangannya ke arahku. "Tidur lagi..."


Meski bingung dan swbal aku hanya bisa menurutinya.


"Nggak kedengaran bukan?"


Aku mengangguk.


"nanti klo kita sudah bangaun secara alami, tapi handphonenya belum mati. Aku matiin"


Toby tersenyum jenaka, sangat bertolak belakang dengan ke adaan di luar ruangan ini yang sepertinya akan pecah dalam hitungan waktu.


"Kamu yakin nggak mau nyalain T V dulu"


"Kalau aku nyalakan TV sekarang, aku nggak akan bisa tidur lagi entah sampai kapan"

__ADS_1


Kali ini suara Toby membuatku iba sekaligus penasaran. Dengan apa yang terjadi di luar sana.


Karena.....


****


"Prank....!!!" Toby melempar gelasnya juicenya yang belum sepenuhnya kosong ke arah TV di ruang tengah.


Seketika layarnyapun mati, dengan retak yang berpusat pada bagian tengah benda persegi panjang itu.


Kakiku serasa beku di tempatku berdiri, meski sering melihay Toby marah. Tapi kali ini cukup....


Shock..!


Aku tidak tidak sempat memahami isi berita yang muncul, hanya mendengar beberapa kali naa Toby di sebut saat aku sedang menyiapkan juice untuknya.


Ting tong..


Baru kali ini bunyi bell membuatku merasa lega, karena ada alasan intuk menjaga jarak dari Toby.


**


"Bunga?" Aku bertanya otomatis letika swikat bunga mawar merah di serahkan ke tanganku.


"Untuk Tuan Toby, Mohon tanda tangannya di sini" seru lurir itu dengan buki tanda terima dan oen yang di serahkannya kemudian.


"Ah.. Iya.." Aku segera menandatanganinya.


Toby dapat bunga mawar.. Di sini?


Mungkin biasa paket datang ke rumahmu kalau kamu orang biasa. Tapi untuk orang popular seperti Toby. Semua surat taau paket pribady akan di kirim ke Po. Box, swdangkan kiriman dati fans akan di kelola oleh fans club.


Kadi hanya lingkungan terdekatlah yang bisa mengirim ke rumaj kami.


"Semoga kamu menyukai hadiah kecilku"


Tulisan singkat di kartu nama yang terpajang.


God... Kenapa aku tidak menanyakan pengirimnya tadi? Grrr..


"Rizal???" Entah sejak kapan Toby sudah berada di sampingku dan ikut membaca lengkap isi kartu yang tercantum di karangan bunga mawar yang bertengger di lenganku.


"I.... I.. Ni.. Untukmu, bukan aku" Aku segera membeberkan fakta,


Khawatir kalau saja Toby salah faham.


"Aku sudah tahu" Toby segera merebut bunga itu dan membawanya ke dapur.


Dengan cekatan Toby segera meraih pisau dapur dan... Memotong semua tangkainya.


Aku yang melihat hanya mampu menelan ludah kasar.

__ADS_1


__ADS_2