
Brak..!!!
Kali ini ponsel Toby yang jatuh. Reflek akupun segera kembali mengarahkan manikku padanya.
Wajah Toby menegang dengan tangan yang bergetar.
"Are you Ok..?"
Toby tersenyum penuh kecewa.
"Hanya komentar buruk lainnya" jawabnya dingin.
*****
"Kamu yakin berita ini akan berlalu?" Albert yang datang satu jam usai kami saraoan langsung membahas topik yang sedang panas.
"Semua berita pasti berahir pada saatnya" Tidak seperti sebelumnya kali Toby nampak lebih tenang.
"Hi Sandra!" Sapa, Albert yang begitu melihatku melintas di area Bar.
" Mau kemana?"
"Ke dokter kandungan, kemudian bertemu Papa" jawabku jujur.
"Papa?" Toby mengulang kata terahirku "Aku tidak tahu soal yang itu"
"Tapi...."Aku mengorek pesan Papa yang masuk pada ponselku" Ini nomor Papa bukan? "
__ADS_1
Toby segera meraih ponselku" Tidak salah "
Toby mendengus kesal" Dia memanfaatkan kondisiku yang tidak bisa muncul ke publik "
Benar... Karena kondisi di luar yang kurang bersahabat. Rencanaku dan Toby untuk mengetahui jenis kelamin bayi kami batal.
Berpura - pura lagi seperti ketika menemui Mama? Tenaga Toby juga perlu di hemat, mengingat dia baru saja tiba kemaren malam.
"Jadi aku bagaimana?" Aku juga ingin jadi istri yang baik. Meski sebenarnya lebih ke takut karena mungkin Papa memiliki maksud tersembunyi untuk menemuiku tanpa mengajak Toby.
Toby dan Albert saling bertukar pandang, mereka sama - sama merenung pada hal yang aku tak bisa perkiraan.
"Aku ini ibu hamil, jangan kelamaan berfikir" Aku mulai sebal dengan keakraban mereka yang seakan bisa saling mengerti tanpa harus bicara.
"Kamu pergi dengan bodyguard bukan?" tanya Toby ahirnya.
"Tentu saja, kamu yang meminta mereka bukan?"Aku mengingatkan Toby bagaimana hidupku selama dia pergi" Tapi ketika di ruangan Papa para bodyguard tidak mungkin ikut "
Toby memejamkan mata seketika, seperti ada sedikit beban berat yang mulai menggelayut di otaknya.
" Persiapkan beberapa hal untukku"Toby memberi perintah ringan pada Albert dengan menuliskan beberapa catatan pada kertas di sudut meja Bar.
"Berangkatlah ke rumah sakit Dulu, kita ketemu di gerbang kantor Papa" lanjut Toby kepadaku.
"Yakin?" Aku dan Albert menggaung bergantian.
"Kamu tidak nampak begitu baik pagi ini"
__ADS_1
"Tidak sekarang, pasti juga akan terjadi berikutnya"
"Kamu harusnya sadar kamu sedang bersuami siapa Sandra!" Albert mengangkat Alisnya dan menatapku dengan bibir terkatup. "Toby tidak pernah libur bertahun tahun pada masa awal karirnya, dengan jadwal yang padat dalam setiap harinya"
Albert kembali menatap Toby, "Aku siapin ini dulu" Albert menepuk pundak Toby dan segera beranjak menghilang di balik pintu utama.
"Aku pergi dulu..?"
"Pergilah, kabarin aku ketika kamu dalam perjalanan ke kantor Papa" sambut Toby dengan meneguk segelas whisky di tangannya yang kalau tidak salah sedikit bergetar. Atau mungkin dia hanya memutar gelasnya?
****
Sepanjang peejalanan kerumah sakit, aku sedikit terusik dengan jemari Toby yang selalu membuatku curiga. Apakah benar jemarinya sungguh bergetar tanpa sengaja atau justru sengaja?
Kulitnya yang selalu cerah, tubuhnya yang rapi dan nampak sangat sehat, sepertinya tidak mungkin dia menderita penyakit tertentu. Apalagi paras tampan yang arogan itu, virus saja mungkin enggan muncul melihat kegarangannya.
Ah sudahlah..
******
"Kamu mendengar Rumor yang mulai mencuat tentang anakmu?" tanya Dokter ginekolog yang mulai mengoleskan Gell pada perutku.
"Aku sudah menitup kupingku tentang rumor apapun dati sejak awal" Jawabku yang sudah malas menanggapi berita tidak berarti.
Dokter tersenyum tipis "Itu pilihan yang tepat, kesehatan bayimu yang utama" Kali ini dokter mulai menempelkan alat usg di perutku. "Aku tidak keberatan bersaksi ataa siapa ayahnya, karena bagaimanapun aku ikut andil dalam processnya"
Aku sudah menebak issue apa yang di maksud.
__ADS_1
"Bayi yang Cantik... Dia perempuan"
Kami sama sama memandang bayi dalam kandunganku yang bergerak lincah di dalam perutku. Memang tidak begitu jelas seperti melihat manusia, tapi sebagai ibunya aku tahu bahwa kata Cantik sangat tepat untuknya.