TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Keinginan


__ADS_3

Hampir empat puluh menit kami telah membelah hujan.


Mobil mewah yang kami tumpangi berahir di garasi rumah, dan belum ada satu kata lainpun dariku atau Toby.


Rasa berdebarkupun rasanya swmakin kencang, antara khawatir dan mungkin hasrat yang gagal.


Tanpa aba - aba aku segera keluar dari mobil. Namun Toby dengan sigap telah berada di depanku. Tangannya yang kekar segera menarikku menuju pintu samping garasi.


"Jadi kamu berminat padaku?" Toby langaung bertanya tanpa berkedip begitu pintu rumah tertutup.


Aku hanya diam dan menegaskan kepalaku,


Kalau iya kenapa, ujarku sendiri dalam hati.


Hanya kurang dari lima detik Toby segera mendudukkanku pada meja makan yang hanya berjarak dua meter.


Tanpa bertanya dia sudah membalas ciumanku sebelumnya.


Tidak... Tidak... Tidak..


Tidak boleh begini, ingat... Ada janin dalam perutku.


Aku mencoba mengahiri dan memisahkan diri dwngan cepat.


Aku menggeleng "Aku.. Maaih mau hamil"


"Aku juga"


Kali ini jemari Toby sudah bersarang di pangkal pahaku dan tanpa sungkan menarik benda yang bertengger di sana.


"Sofa, kamarku atau kamarmu?"


Aku Masih menggeleng.


"Term amd condition apply"


"Kamu maaih bernego denganku saat ini"


Toby mengorek pryvaciku?


"Lancang.." Aku mencoba menarik jemarinya dari sana.

__ADS_1


"Kamarku" putusan Toby.


"Fine..." Aku ahirnya berhasil membuat jemarinya meninggalkan area pryvacyku.


Toby segera menurunkany dan menarikku ke tempat yang telah di tetapkan.


"Pelan..." Bisik ku ketika Toby langsung mendorongku ketepi ranjang.


"Dan tidak terlalu"


"Cepat dan dalam" Toby menarik pinggulku "Dan pengaman?"


Aku mengarahkan wajahku ke Toby dengan raut yang sinis.


Bagaimana mungkin dia menyebutkan semua itu ketika dia sudah memulai.


"Tenang.. Aku suami dan ayah yang baik"


Toby segera mengeluarkan persyaratan terahir kami dari laci nacas dan memasangnya segera setelah menarik dressku.


"Atas atau bawah..?"


" Aku tidak masalah sweet heart" Toby memutar tubuhku dan memgisyaratkan untuk menaiki ranjangnya.


Ini curang, bagaimana mungkin dia maaih memakai kemejanya, sedang aku...


Damn!!


"Lihatlah dengan seksama karunia Tuhan apa yang di hadirkan lewat suamimu yang sinting ini"


Toby perlahan memperlihatkan garis tubuhnya yang rapi, membiarkanku menyentuh dan menakannya sesekali.


Sungguh kokoh.. Pantas saja gigitanku tidak begitu mempan.


"Jangan terpukau terlalu lama, bagian tubuhmu yang lain sedang tidak sabar"


Toby benar, meski emosi bisa aku kuasai. Tapi reaksi kimia tubuhku tidak bisa mengingkari.


Aku memyambut pelukan Toby dengan cepat.


Hmmmm... Aku menarik nafas dalam... Menghabiskan udara di antara kami yang tidak berjarak.

__ADS_1


Toby melakukan tepat seperti pesanan, dan sungguh ini tidak buruk.


Vanilla, musk... Aroma Tubuh Toby memenuhi indera penciumanku dan...


" walnuts" Aku mwndongak ke arah suara Itu berasal "Mouthwashku hari ini" Toby menghembuskan udaranya ke wajahku dengan satu kerlingan.


Aku seperti tersedot magnet yang segera menerima tawarannya tanpa syarat.


Namun posisi segera berubah, Toby berhasil membuatku kini berada di atasnya dan membuat gravitasi menguasai tubuhku, yang semakin tenggelam dalam pesonanya.


Dan tentu keahlian Toby sebagai laki - laki.


****


Apakah aku sudah mengobral diriku pada Toby? Kami sudah hampir seperti kucing dan anjing meski sedang bercinta.


Namun tiba - tiba, hari ini berbeda.


Apakah estrogenku begitu kuat, atau seluruh testoren dalam tubuhku sudah lenyap?


Aku kini duduk membungkus diriku sendiri dengan seprei memandangi Toby yang bersandar di antara tumpukan bantal dengan wajah sumringah.


Ada rasa puas, tapi ada sedikit ganjalan di hati tentang expresi Toby yang terlalu senang.


"Its.. Over" seru ku dengan nafas yang kacau "one and never"


"Don't ever with anyone, darling" Toby segera menarik ujung sprei. Yang membuatku terjerembab ke pelukannya.


"Aku ketagihan setiap detiknya" Toby menatapku "Aku mengatakan itu pada Rizal ketika dia memgungkit soal urusan seperti ini di antara kita"


Dasar laki - laki.. Apakah mereka merasa tabu membahas hal seperti itu?


"Saat itu, aku butuh keahlianku dalam berakting" Toby menyisir suraiku dengan jemari panjangnya. "Tapi lain kali ketika aku mengatakannya, aku sudah bisa jujur"


Cih...


Toby mencengkeramku" Anak ini punya selera yang bagus "


Hah..!!


Otak Toby memang kadang tidak normal.

__ADS_1


__ADS_2