
Selamat pagi para pendengar setia Radio Panorama FM // Pagi ini / seperti biasa / bersama saya Sandra akan menemani aktivitas anda // Tetap semangat dan optimis / karena pagi ini matahari bersinar lebih cerah //
Baik / mengawali berita pagi ini / ada hal yang hangat tentunya yang akan kami informasikan kepada pendengar //
*****
"Nora... Maukah kamu menikah denganku?" Aku segera mengankat kedua tangan Nora sejajar dengan dadaku. Berlagak seorang pria yang sedang melamar.
"Apa apan sih Sand..!"
"Hanya sebuah contoh, setelah serial kopi yang kamu terima, apakah kamu akan mudah memvatakan iya. Andai saja Toby melamarmu?"
"Temtu saja..!! Jawab Nora tanpa ragu" Apa harga dirimu hanya sebatas kopi? "
" Eh..!! "Nora baru sadar akan keputusannya beberapa detik lalu.
" Iya... Iya... Kamu murah banget Nora.. Cuma seharga kopi.. " ejek Jody yang mulai memahami perkataanku.
" Enak aja...!! "Nora melepaskan gemggaman tanganku dan segera melempar botol mineral kosong ke arah Jody." Ya enggak dong... "
" lha.. Yang ngambil keputusan situ... Aku yang di timpuk "Jody segera memungut botol mineral kosong dan segera melemparkannya pada kaleng sampah di sudut ruangan.
Dasar Nora kalau ada yang ganteng dan kaya aja, main ambil. Padahal kebanyakan orang dengan spesifikasi seperti itu biasanya hidupnya rumit.
" Tapi ini Toby... Jod..! Celebrity kebanggan negeri kita"
"Eh.. Iya.. Iya.."
Kali ini giliran aku yang segera memukul kedua wajah temanku, "Dia itu suamiku, bapak dari anakku. Nih..!!" Aku menunjukkan perutku yang sudah tidak rata "Benihnya udah nangkring di sini masih aja kalian mgarep ada lowongan"
Keduanya mulai cekikikan "oh iya.. Iya.."
"Oh iya.. Ya..??" Aku memukul merela sekali lagi. Dan untuk ke sekian kalinya mereka tertawa cekikan lagi.
"Ya maaf... Khilaf namanya" jawab Jody dengan enteng.
"Lha kamu juga laki Jod... Emamg doyan laki?"
__ADS_1
"Oh iya.. Ya..."
"uuuuh... Bilang ja klo kamu pembelot dari kejantananmu selama ini" Ejek Nora penuh semangat.
"Yah... Nyoba dikit boleh kan.. Abia Macho sih.."
"Hush...!!" Nora segera memotong ucapan Jody "Nggak Jadi nih naksir Sonia"
"Kamu pedekate sama Sonia?"
"Maunya sih... Tapi malas sama pamannya.." Jody mencibir.
"dasar...kamu udah terkenal buaya sih di luar, beraninya cuma sama yang ingusan"
Canddaan kami berahir ketika suara bell mulai berdering.
"Wah... Pangeranku udaj jemput nih..!" Nora segera meraih handbagnya.
"Jorge...??" tanyaku yang harusnya tidak perlu.
"Ckckkckc... Kalian para cewek, gampang banget deh jodohnya. Sedangkan aku nih... Masih Jomblo aja"
"Kebanyakan kriteria sih.." Goda Nora yang sudah siap beranjak.
"Takdir Jod... Klo udah waktunya juga dateng"
"Kayak Takdir kamu yang jedaaar... Langsung gempar"
Aku hanya meringis.
"Ikut aku ma Jorge yuk... Kali aja ada cewek temennya Jorge yang nyantol sama kamu"
"Emang kamu mau ke mana?" Kenapa aku kadi penasaran?
"Parti... Ada temennya Jorge ulang tahun"
"Boleh deh... Nanggung klo pulang." Jodypun langsung meraih tas ranselnya dan malah lebih dulu melenggang menuju pintu utama.
__ADS_1
Ckckkckc.. Ga nyangka klo Jorge naksir Nora yang seperti itu. Padahal....hush..aku mengusir isi otakku.
Namanya takdir..... Siapa yang tahu.
******
Kembali saat beberapa jam sebelum kejadian di lift..
"Menikah???" Toby menggeleng ringan dengan tawaran solusi dari Albert. "Masih juga membahas itu"
"Tapi itu solusi paling cepat saat ini" Albert mengeluarkan tabletnya, dan mullai mencari sesuatu di dalam folder drivenya "Nih...!!"
Albert menyodorkan deretan list wanita yang sudah pasti bersedia menikah dengan Toby dan juga berpotensi mendongkrak popularitas Toby sekaligus.
"Sekali mendayung dua, tiga pulau terlampui" Komemtar Albert dengan semyum manisnya.
"Kita di sini.. Buat promo iklan.. Bukan promo cewek" Toby segera mengembalikan tablet itu pada Albert.
"Habisnya... Sulit banget kita ngobrol dengan tenang sejak kasus kamu dan Billy mencuat. Hidung para wartawan sudah seperti anjing pelacak. Bahkan untuk promo brand sponsor aja harus subuh... Ckckckkc" Albert menwrima tablet itu dan mulai memgamati wajah - wajah para wanita yang sudah di swlwksinya.
"Mereka bukan hanya cantik, tapi juga luar biasa..." Albert mulai mengermyit dan menatap Toby yang melempar pandang keluar jendela "Kamu nggak Homo kan?"
Toby tersemyum miring... "Kamu akan lihat seberapa normal aku.." Toby mendekati Albert "Aku bersedia menikah tapi dengan pilihanku"
Toby segera berlalu melewati Albert dan beejalan menuju ke arah lift.
"Eh tunggu.... Wartawan mulai banyak da.."
TING....
Pintu lift terbuka
Toby yang sudah lelah berdepbat demga Albert managernya melangkah secepat mungkin untuk masuk ke dalam lift..
Tapi...
Brak..
__ADS_1