TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Pura pura sakit


__ADS_3

"Tuan Muda, tadi Nona El menelpon saya. Sepertinya dia kesal anda memiliki sekretaris perempuan" Sekretaris Jim mengingat kejadian tadi


"Oh ya, tapi tadi saya tanya El menjawab tidak keberatan" Erik tersenyum


"Mungkin Nona gengsi Tuan Muda. Anda tahu tahu dia menyalahkan saya kenapa merecomendasikan sekretaris cantik. Dia bahkan bilang sialan"


"Hahaha"Erik tertawa, ternyata El benar-benar cemburu


" Terus apa lagi sekretaris Jim"


"Hanya itu Tuan, kemudian Nona El mengatakan kepalanya pusing lalu mematikan telepon" Ucap sekretaris Han


"Oh ya?" Erik mendadak khawatir dengan keadaan El.


"Iya Tuan Muda"


"Baiklah sekretaris Jim,terimakasih informasinya"


Erik mendadak khawatir dan memutuskan langsung pulang kerumah.


Diperjalanan Erik terus menelpon El, tapi El tidak kunjung mengangkat telponnya


"Kenapa nggak diangkat-angkat dari tadi apa dia sedang marajuk?" Pikir Erik.


Selang beberapa lama Erik telah sampai dirumah, Bik Minah langsung memberi laporan


"Nona El tidak mau makan tuan, tadi dia hanya manatap makanan yang ada dimeja. Kemudian dia menggebrak meja sebelum pergi ke kamar Tuan".


" Baiklah Bik, terimakasih laporannya"


Erik langsung menuju kamar, dibuka pintu perlahan. Suasana kamar cukup redup, hanya lampu tidur yang dihidupkan El. Erik melangkah tampak di cahaya remang El sedang tidur dibawah selimut.


"Pura-pura tidur aja deh" Bisik hati El.


Erik menghidupkan lampu, dilihat istrinya tengah tertidur di bawah selimut yang hanya memunculkan kepalanya. Dihampiri perlahan, di lihat wajah istrinya yang begitu cantik. Erik mengusap rambut El, menciumi keningnya.


"Sayang" Erik berbisik pelan ditelinga El


"hm" El menggeliat


"Sayang, makan yuk" Erik masih membelai rambut El.


"Hm nggak nafsu makan, ngantuk" jawabnya singkat sambil membuang pandang tidak mau menatap Erik


"Apa ada sesuatu yang mengganggu kamu?"


"Nggak ada apa-apa?"


"Apa kamu terganggu dengan Miranda?"


"Nggak kok Sayang, aku cuma merasa kurang enak badan. Perutku agak sedikit sakit"


El berkilah


"Mana yang sakit" Erik menyibak selimut dan meraba perut El.


"Ini yang sakit Sayang, yang mana? ini? ini? atau ini?" Erik panik dia meraba seluruh bagian perut El.


"Udah sayang, nggak apa kok" El nggak tau mana yang harus dia katakan sakit. Erik mengambil ponsel langsung menelpon dokter Rehan.

__ADS_1


"Baiklah, datanglah secepatnya" Begitu akhir dia menutup telponnya.


"Sayang, aku nggak apa. Kenapa harus panggil dokter rehan" Gerutu El.


"Udah jangan membantah" Ucap Erik tegas.


El memanyunkan bibirnya.


"Aduh kenapa juga panggil dokter, bisa ketahuan nanti kalau aku pura-pura sakit" Pikir El. Namun sekarang dia bisa apa dia cuma berdoa dokter Rehan nanti tidak membongkar kedoknya.


***


Dokter Rehan Memeriksa El, sementara Erik masih merasa khawatir dengan keadaan El.


"Baik, permisi Nona El" Rehan Hendak menyingkap selimut El.


"Tunggu dokter biar saya saja" Erik tidak suka perut istrinya di pegang oleh lelaki walaupun itu dokter Rehan.


"Baik Tuan silahkan" Dokter rehan tersenyum walau dalan hati dia merasa geli dengan kelakuan Erik.


"Dimana periksanya Dok" Apa disini Erik mengarahkan stetoskop di balik selimut.


Dokter Rehan merasa mumet sekali memeriksa seperti itu.


Sementara El menahan tawanya dengan kelakuan suaminya yang membuat pusing dokter Rehan. Coba arahkan ke perut di ulu hati.


"Udah dok" Ucap Erik.


Dokter Rehan mencoba menganalisa


"Kriuukk" Tapi yang di dengar dokter Rehan, hanya bunyi perut yang keroncongan.


"Nona apa yang kamu sembunyikan? kenapa kamu pura-pura sakit?" Bisik hati dokter Rehan


"Duh, kenapa dokter Rehan menatap gue? apa dia bilang gue pura-pura sakit ya? mati gue" pikir El.


"Ok Baiklah Tuan, Ini resep untuk kesembuhan Nona El" Dokter Rehan menulis di kertas.


"Baik dok, Tapi bagaimana dengan keadaan istri saya Dok?" Ucap Erik khawatir.


"Tidak apa Tuan Muda, semua akan baik-baik saja" Dokter Rehan tersenyum sekilas memandang kearah El.


"Baiklah, terimakasih banyak Dok" Erik melepas kepergian Dokter Rehan yang diikuti para pelayan.


"Resep apa?" Kenapa dokter memberikan resep, gue kan cuma pura-pura sakit" pikirnya.


Erik membaca secarik kertas yang diberikan dokter di depan pintu.


"Penyakit Nona El : Hanya sedikit merasa tidak enak perasaan


Obat yang harus ditebus: Ajak Nona El makan malam bersama lalu buatlah dia bahagia" Begitu bunyi resep yang diberikan dokter Rehan. Erik seketika terkekeh membaca secarik kertas itu.


"Apa El pura-pura sakit untuk menarik perhatian gue ya" Pikir Erik. Lalu masuk ke dalam kamar dan mulai berbaring disamping El.


"Sayang" Erik memeluk El dari belakang.


"Sayang, kita makan yuk Sayang"


"Nggak Mau" El merajuk.

__ADS_1


"Ayolah Sayang"


"Nggak Mau"


"Ya sudah kalau mau di gendong" Erik langsung menggendong El menuju meja makan


"Lepasin Sayang" El merengek tapi Erik tak peduli.


Para pelayan telah biasa menyaksikan hal demikian berupaya bersikap seolah tak terjadi apa-apa.


Erik mendudukkan El di meja makan, mengambilkan nasi El dan segelas air. Kemudian mulai menyuapi El.


"Ayo Sayang"


"Nggak Mau makan"


"Ayolah"


"Nggak" El masih membatu.


"Cup"


tiba-tiba Erik menciumi bibir El di depan pelayan.


"Sayang, malu ah" El segera menyudahi


"Kalau nggak makan, aku cium lagi ya"


"Iya iya aku makan" Akhirnya El membuka mulut dan menerima makanan yang disodorkan Erik


"El, aku sayang benget sama kamu. Aku nggak mungkin khianati kamu. Kamu jangan berpikiran yang macam-macam sampai nggak makan. Tentang Miranda kami memang seruangan tapi kami tidak pernah kontak fisik kok" El terdiam, mungkin memang dia yang kekanak kanakkan. Kenapa dia cemburu harusnya dia percaya pada suaminya sesal El.


"Kamu janji nggak akan ada kontak fisik ya" El merengek.


"Iya-iya Sayang" Erik tersenyum sambil membelai rambut El dan menyelipkan kebelakang telinganya.


"Satu lagi, kamu tidak boleh menatap wajahnya lebih dari dua detik" El mengacungkan dua jarinya.


"Iya iya Sayang, aku janji" Erik memegang tangan El menciumi jemarinya.


"El ternyata begini kalau kamu cemburu ya. Kamu lucu banget bikin aku tambah cinta. Terimakasih atas rasa cemburunya Sayang. Aku sangat bahagia dicemburui seperti ini" Bisik hati Erik.


***


Akhirnya El selesai makan, dan kembali lagi ke kamar.


El megambil salah satu baju tidur di dalam lemari. Baju transparan itu bewarna hitam. El menyisir rambutnya dan memakai parfum.


Dada Erik berdebar melihat penampilan El. El tersenyum dia segera merapat ke Erik yang sedang memainkan HP nya. El mengambil hp Erik dan menaruhnya di nakas.


"Sayang kamu cantik sekali" Erik membelai bibir dan El dan menghirup wangi tubuhnya.


"El memeluk pinggang Erik"


"Sayang, Siap ya" Erik menggelitik pinggang El.


"Sayang geli" Teriak El, jeritan El sampai ketelinga para pelayan yang kebetulan sedang membersihkan area sekitar kamar. Seketika dia tersenyum dan membayangkan apa yang akan terjadi.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2