
"Ok siap, tahan" Begitu ucapan seorang kemaramen dia mengatur gaya El sambil mengacung acungkan jempolnya. Dari pagi mereka telah mengambil beberapa photo outdoor
"Ok" Mereka memutuskan istirahat sebentar.
"Minum dulu Nek" Angel menyodorkan sebotol air mineral dan langsung memperbaiki riasan El dengan spon bedak.
"Makasih Angel" El duduk di kursi, dia merasa lelah. Mungkin sudah lama dia tidak berkegiatan seperti ini sehingga dia sedikit lelah pikirnya.
"Kenapa Nek, wajahnya kok pucat gitu. Kamu nggak apa kan Nek" Angel khawatir
"Nggak apa kok Angel" El tersenyum
"Sini Kike tambahin Lipstiknya lagi" Angel mengaplikasikan lipstik bewarna pink ke bibir El.
Tak lama mereka telah mulai lagi mengambil beberapa photo.Photo El duduk di kursi taman dengan berbagai pose.
"Ok cukup tuk hari ini" Seorang crew memberi instruksi.
"Ok terimakasih kerja kerasnya hari ini" Ucap Bos tersenyum
"Sama-sama Bos" ucap El tersenyum lalu segara memalingkan wajah dia sudah berjanji kepada untuk tidak menatap siapapun lebih dari dua detik.
Semua crew sudah membubarkan diri, kini tinggal Angel yang membereskan perlengkapan make up sementara El melihat HPnya, tertera di layar tiga panggilan tidak terjawab dari Erik. El hendak menelpon balik tapi mendadak kepalanya pusing.
"Kenapa Nek?" Angel mendadak melihat El memegang kepalanya.
"Ngel kepala aku pusing" Pandangan El mulai kabur, pohon-pohon di taman itu mulai berputar badannya melemah dan dia terjatuh dari kursi.
"El, kamu kenapa Nek" Angel yang panik langsung menelpon Erik dengan HP El.
"Halo Erik, El pingsan Rik Kike nggak tau harus apa. Kike ada di taman sekarang"
"Apa? El pingsan? , Ok Ok tunggu disana, saya akan segara ke sana sekarang" Erik Panik langsung membatalkan semua agenda rapat hari ini.
Sekretaris Jim paham ini situasi genting dia pun langsung menuju mobil.
"Maaf tuan kita mau kemana?" sekretaris Jim memandang Erik yang sedari tadi menggigit bibirnya perasaan cemas tidak bisa dia sembunyikan lagi.
"Kita ke taman" Tanpa banyak tanya lagi sekretaris Jim segera menyetir mobil menuju taman.
"Bisakah kau mengemudikan mobil dengan cepat sekretaris Jim?" Ucap Erik kesal merasa mobil melambat
"Baik Tuan Muda" Sekretaris Jim segera menambah kecepatan mobilnya.
"Ada apa Tuan Muda Anda terlihat sangat khawatir" Sekretaris Jim hanya mampu menyimpan pertanyaan itu tanpa dia lontarkan.
Tak lama mereka tiba di taman, tampak El yang masih pingsan di kursi taman.
"El" Erik berteriak dan langsung berlari menghampiri El.
"El Sayang" Dia memeluk tubuh El yang lemah.
"Angel kenapa El sampai pingsan?"
"Tadi El kelihatan pucat, lalu dia memegang kepalanya dan pingsan" Angel pun cemas melihat keadaan El.
"Baiklah Angel terimakasih kamu sudah temani El. Aku akan kirim honor kamu nanti. Ini hari terakhir El pemotretan, izin pemotretannya saya cabut mulai hari ini" Angel paham kecemasan Erik, apalagi menurut cerita El, dia diperlakukan bak putri tidak boleh bekerja apapun. Apalagi ini sampai pingsan. Alamak, gimana nasib El nanti apa dia akan kena hukuman. Angel berpikir sendiri melihat wajah Erik yang datar tadi membuat dia takut.
Erik segera mengangkat tubuh El ke mobil diikuti sekretaris Jim yang tidak bertanya apa-apa.
__ADS_1
" El aku sudah bilang kan? tapi kamu selalu keras kepala" Erik menceramahi El yang sedang pingsan. Sementara sekretaris Jim tetap mengemudi seperti tidak mendengar apa-apa.
Sesampainya di rumah, Erik segera mengangkat tubuh El ke kamar meletakkan tubuhnya di ranjang dengan perlahan.
"El, bangun Sayang" Erik mengguncang tubuh El pelan. Tidak lama dokter kintan datang dan memeriksa El.
"Tidak apa Tuan, Nona hanya kelelahan. Sebentar lagi dia akan siuman" Ucap dokter kintan dengan senyum tipisnya.
"Syukurlah Dok, tadi saya sangat khawatir terjadi apa-apa sama El" Erik memandangi wajah El yang masih pakai make up.
Dokter kintan pun pamit diikuti sekretaris Jim
"Sayang" Erik duduk disamping El dan menggenggam tangan El yang lemah.
"Sayang, kenapa kamu bandel sih? Kenapa kamu nggak dengerin omongan aku?" Erik menggerutu sementara kelopak mata El sudah mulai bergerak .
"Sayang" Ucap El pelan.
"Sayang haus" Erik segera mengambil segelas air.
dia membantu El minum, tapi tetap diam tidak berucap apa-apa.
"Sayang" El mulai cemas, pasti suaminya sekarang sedang khawatir bercampur marah.
Erik berdiri dan membuka dasinya.
"Ganti bajumu, aku tunggu dimeja makan" Erik segera berlalu dari kamar.
"Deg" jantung El berdebar dia menelan ludah kecemasan.
Segera diganti bajunya, dari awal memang Erik sudah keberatan tapi dia tetap keras kepala. El melangkah menuruni tangga perlahan. Dengan hati berdebar dia segara duduk di samping Erik.
"Sayang" El menelan ludah, bibirnya mulai pucat.
"Iya Sayang, maafin aku" Ucapnya pelan
"Kamu tahu akibat dari kesalahan itu apa?" Erik menatap mata El, El segera menatap gelas dia takut menatap mata suaminya sekarang.
"Hukuman" El takut takut.
"Ok, berarti sekarang, kamu harus menjalani hukuman" Ucap Erik serius
El menelan ludah
"Apa sayang"
"Mulai hari ini, aku mencabut izin pemotretanmu sampai batas waktu yang belum ditentukan. Kamu tidak boleh kemanapun sendirian kecuali dengan Lela atau denganku"
Bak petir di siang bolong, El terdiam.
"Tapi Sayang, aku akan kena pinalti kalau batalin kontrak" Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Aku akan membayar pinaltinya sepuluh kali lipat. Honor Angel juga sudah aku transfer bahkan jauh di atas nominal honornya yang biasa. Aku akan mengurus semuanya"
" Tapi"
"Maaf El keputusan Aku sudah bulat. Ini perintah bukan penawaran" Erik masih teguh dengan keputusannya
"Dasar egois hiks hiks" El menangis dan berlari ke kamar.
__ADS_1
"El maafkan Aku, Aku lakukan demi kebaikan kamu" Bisik hati Erik segera menyusul El ke kamar.
"Sayang" Erik membelai rambut El perlahan
"Nggak kamu jahat, dasar suami jahat hiks hiks" El masih kesal dengan keputusan Erik.
"Aku tahu kamu tidak suka, tapi aku lakukan semua demi kebaikan kamu" Ucap Erik lembut.
"Erik merebahkan diri di samping El, memeluk tubuh istrinya dan mencium rambutnya.
" Jangan peluk-peluk" El berontak tapi Erik tetap memeluk El.
"Lepasin El menepis tangan Erik" Dia hanya menatap El diam
"El, mengapa kamu sekeras ini" Bisik hati Erik.
"Aku tidur di kamar tamu saja" El segera beranjak dari ranjang dan membanting pintu.
Erik hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah El. Dengan senyum tipisnya dia segera menelpon seorang pelayan.
"Dasar suami jahat, apa-apa nggak boleh. Memangnya aku ini burung apa? yang harus di kurung di dalam sangkar. Kebaikan apa? memangnya aku kenapa? cuma pingsan aja" Gerutu El sambil membenamkan diri di kasur.
Dia masih memainkan HPnya. Tiba-tiba lampu kamarnya mati.
"Mama" El berteriak ketakutan.
Dia mencoba menghidupkan lampu senter di hpnya yang baterainya sudah sekarat. El memanggil pelayan, namun tidak satupun pelayan yang menyahut.
"Kemana para pelayan yang seabrek itu kenapa mereka semua menghilang"
"Pelayan, hidupkan lampunya. Apa kalian tidak mendengar aku" El berteriak sambil membawa HP di tangannya.
Namun suasana begitu hening sepi, tak ada cahaya yang ada hanya gelap.
"Mama aku takut" El mulai menangis.
"Duh apa aku balik lagi ke kamar ya? Tapi Erik pasti ketawain aku nanti" Pikirnya.
Tiba-tiba saja bayangan putih melintas di jendela membuat El semakin merinding.
"Sayang" El berlari menuju kamar nafasnya tersengal.
Dia segera masuk dalam selimut dan memeluk suaminya dengan nafasnya yang memburu
Erik terkekeh melihat tingkah istrinya itu.
Dia pun memeluk El,
"Jangan takut Sayang, ada aku disini" Erik menggosok punggung El perlahan.
"Hidupin lampunya" rengek El.
"Lampunya sedang diperbaiki Sayang" Erik menciumi pipi El dalam gelap. El hanya pasrah mau lari kemana gelap-gelap seperti ini.
"Diluar ada hantu" El masih kesal tak mau memanggil Erik dengan sebutan sayang
"Oh ya" Erik menahan tawanya. Ternyata para pelayannya memang bisa diandalkan.
"Aku takut hiks hiks" El menangis.
__ADS_1
"Sudahlah Sayang, tidak apa ada aku disini" Erik menciumi bibir El lembut, El hanya pasrah dengan semua yang dilakukan Erik kepadanya.
bersambung