
Erik berdiri menatap keluar jendela dengan tatapan hampa. Beberapa orang lelaki masuk datang menghampirinya.
"Selamat siang Tuan, Maaf Tuan kami telah melakukan pengecekan di seluruh rumah sakit dan kantor polisi. Tapi hasilnya nihil Tuan" Kata lelaki itu sambil gemetaran.
"Ahhhh" Erik berteriak dan menendang kursi didepannya hingga terjungkang.
Semua lelaki itu hanya dapat menunduk, memang sulit sekali bagi mereka untuk menemukan Nona El
"Keluar kalian semua" Teriak Erik
Beberapa pria yang berpakaian sama, mereka pun segera keluar meninggalkan Erik.
"Ahhh" Erik melemparkan semua dokumen yang ada di mejanya. Semua kertas itu berhamburan ke lantai. Dia terduduk kelantai, memikirkan dimana istrinya kini berada.
Sekretaris Jim masuk kedalam ruangan dengan perlahan, sekilas tadi dia mendengar Erik berteriak.
Dia terkejut banyak kertas yang berserakan dilantai. Sekretaris Jim lalu memungut kertas itu dengan perlahan dan menyusunnya kembali seperti sedia kala.
"Tuan muda, Aku bisa memahami perasaan Anda. Tentu Anda merasa terpukul atas musibah yang menimpa Nona" Bisik hati sekretaris Jim.
"Tuan,apa tidak sebaiknya kita pulang dan beristirahat?" Sekretaris Jim berkata perlahan Namun Erik belum memberikan respon dia masih termenung dengan tatapan kosongnya.
Lalu dia mulai bangkit dan berjalan menuju mobil.
Sekretaris Jim membukakan pintu
"Silahkan Tuan" Erik masuk mobil lalu merebahkan kepalanya kesandaran kursi.
Dia terkulai lemah disana, seperti orang yang tidak bersemangat hidup saja. Erik menatap disebelahnya, dia ingat lagi ketika itu El pingsan dan dia menidurkannya disana sambil memeluk tubuhnya.
"El dimana kamu sayang" Bisik hati Erik lirih. Dia sangat merindukan istrinya, apalagi sekarang mereka telah menjalani program untuk memiliki anak. Perlahan air mata yang sedari tadi di tahannya mulai jatuh perlahan.
__ADS_1
"Tuan, anda menangis?" Bisik hati sekretaris Jim, dia pun memberikan beberapa lembar tisu kepada Erik, dan Erik pun mengambilnya dalam diam. Biasanya Erik akan berterimakasih untuk sekecil apapun bantuan yang diberikan orang lain kepadanya. Tapi sekarang, suaranya begitu mahal. Dia lebih banyak diam, dia hidup namun seperti mati. Ya, begitulah Erik sekarang. Dulu dia ramah, sekarang menjadi dingin. Kehilangan orang-orang terkasih memang menyisakan luka tersendiri, tak jarang itu juga dapat memukul mental seseorang sehingga membuat perubahan dalam dirinya.
Mobil telah sampai dikediamannya
"Silahkan Tuan" Sekretaris Jim membukakan pintu
Erik turun dari mobilnya, menatap rumahnya yang mewah bak istana. Tapi sekarang rumah itu terasa tidak ada artinya sama sekali tanpa istri yang dia sayangi.
"El" Erik berteriak dan berlari kearah teras rumah.
"Tuan" Sekretaris Jim segera menyusulnya.
Dari kejauhan dia melihat El tersenyum menyambutnya di teras seperti biasa. Dia menghampiri El, tapi bayangan El menghilang begitu saja.
"El" Dia tertunduk, ternyata itu hanya halusinasinya karena terlalu merindukan istrinya itu.
Sekretaris Jim menatap Tuan mudanya dengan pilu, Dia sedih melihat keadaan Erik kini.
Dia langsung menuju kamar, membuka pintu berharap El telah ada di kamar dan menyambutnya. Namun sekali lagi itu hanyalah harapan kosongnya, tidak ada El disana.
Erik membuka lemari mengambil sehelai baju tidur satin yang sering di pakai El. Dia memeluk dan mencium baju itu perfume El masih tertinggal disana.
"Sayang" Dia memeluk baju El dan membawa tidur bersamanya.
Erik memejamkan mata, menghirup aroma yang keluar dari baju itu, seakan El masih berada disampingnya. Begitulah yang dia lakukan untuk sedikit mengobati rasa rindunya.
"Tok tok" Buk Mellya mengetok pintu kamar Erik, namun tidak ada jawaban sama sekali.
"Erik, kamu sudah pulang Nak? Boleh Mama masuk?" Ucap Buk Mellya perlahan tapi Erik tetap tidak menjawab. Buk Mellya lalu masuk perlahan karena pintu memang tidak dikunci.
"Erik" Dia merasa miris melihat Erik memeluk baju El sambil tertidur. Erik tampak begitu terpukul. Buk Mellya menelan ludah dan berusaha menahan air matanya yang mengalir. Dia lalu menyelimuti puteranya, dia juga sangat berharap El segera ditemukan dan kembali lagi ke rumah seperti dulu.
__ADS_1
"Sabar ya Sayang, Mama yakin suatu saat El akan kembali lagi ke rumah ini. Kita berdoa supaya El baik-baik saja dimanapun dia berada" Ucap Buk mellya sambil membelai rambut Erik yang tertidur.Buk Mellya lalu pergi dan mengunci pintunya.
"Ceklek" Erik terbangun dengan suara pintu dan mendapati dirinya telah ditutupi selimut.
"Mama" Erik tahu mamalah yang menyelimutinya.
Dia bangun dan masih duduk di ranjang. Ditatap foto pernikahan mereka di dinding.Di dalam foto itu El tersenyum dengan cantiknya.
"Sayang" Erik berdiri dari duduknya dan mengusap foto El. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke meja rias,di sana juga ada foto El berukuran kecil, diambilnya foto itu.
"El ku Sayang" Dicium foto itu perlahan.
"El, maafkan Aku yang tidak bisa menyelamatkanmu waktu itu. Selama ini Aku selalu datang tepat waktu saat kau dalam bahaya dan membutuhkanku. El Maafkan suamimu, yang lengah menjagamu. Maafkan Aku, Aku yang salah El" Erik dirundung rasa bersalah karena merasa tidak dapat menyelamatkan istrinya ketika itu.
Ditatapnya langit melalui jendelanya, banyak bintang yang bertaburan disana, perlahan dia berjalan ke balkon.
"El, dimana kamu Sayang? Aku sekarang sedang menatap bintang. Apa kau juga sedang menatapnya? Apa kita masih berada di langit yang sama?" Pertanyaan-pertanyaan itu menghujam hati Erik,membuatnya semakin pilu.
Dia ingat kembali ketika menatap bintang dan bulan bersama El.
"Sayang, Maafkan Aku yang tidak bisa menjadi bulanmu. Maafkan Aku yang tidak bisa lagi menerangimu. Namun Apakah kau masih menjadi bintang kecilku sekarang?" Erik berteriak-teriak di balkon rumah.
Semua pelayan hanya tertunduk sedih menyaksikan keadaan Tuan Mudanya.
"Tuan Muda pasti sangat terpukul kehilangan Nona El" Begitu bisik hati para pelayan itu, bahkan tak jarang merekapun ikut menangis sedih mengingat kembali kebaikan Nona El selama ini. Nona El seorang yang cantik, ramah dan juga baik hati. Dia yang selalu membela mereka jika Erik akan memecat mereka jika melakukan kesalahan.
"Dimana Nona El sekarang, kami juga sangat merindukan Nona" Para pelayan menahan haru bahkan mereka ada yang sampai terisak pilu.
Dulu mereka sering disuguhi dengan kemesraan Nona dan Tuan Muda. Tuan Muda sering menggendong Nona untuk sekedar pergi kemeja makan. Tuan muda juga selalu mengajak Nona berjalan di taman belakang, Menghibur Nona ketika dia sakit. Tuan Muda Juga memotong kuku Nona El dan sering menyisiri rambutnya. Namun semua itu tiada lagi mereka saksikan, yang ada hanyalah Tuan Muda yang sering murung, tak banyak bicara dan sering berteriak-teriak di balkon atas.
bersambung
__ADS_1