
Miranda melihat El yang sedang tertidur, dengan hati berdebar dia mengamati El apakah masih ada tarikan nafas yang terlihat di tubuhnya.
"Syukurlah dia belum mati" Ucap hati Miranda, entah mengapa sekarang dia malah tidak ingin El mati. Dia bersiap-siap lalu bergegas menuju rumah wanita tua itu. Dia ingin menemuinya sekali lagi tapi bukan untuk membunuh El, melainkan untuk meminta penawar racun untuk El. Walau badannya terasa kurang sehat, tapi dia tidak punya waktu lagi untuk menunda-nunda semua niatnya. Dia takut akan terjadi sesuatu dengan El, mengingat racun yang diberikan setiap hari itu tinggal beberapa tetes lagi.
Sebelum pergi dia menatap El di pintu kamar.
"El, Maafkan aku. Aku akan berusaha menebus semua salah dan dosaku. Aku harap kau baik-baik saja, bertahanlah aku akan segera meminta penawarnya" Miranda berkaca-kaca. Rasa bersalah kian menyelimuti hatinya. Di akhir perjuangannya menyingkirkan El, dia malah tidak ingin El mati. Terkadang hati memang gampang berbolak-balik. Seperti rasa benci dan dendam yang bisa berubah menjadi cinta dan sayang dalam waktu sekejap. Ya begitulah hati Miranda, untunglah dia menyadari semua sebelum semuanya terlambat.
Setelah melalui medan yang cukup sulit, sampai juga Miranda di gubuk wanita tua itu. Rasanya baru kemaren dia meminta racun itu, tapi siapa sangka sekarang dia berada disana kembali untuk meminta penawar. Mungkin wanita tua itu akan marah kepadanya, karena ke plin-planannya. Tapi dia tidak peduli lagi, Sekarang keselamatan El lah yang utama. Keselamatan adik palsunya yang kini dianggap adiknya sendiri.
"Tok tok" Miranda mengetok pintu perlahan dengan hati yang berdebar-debar, dia takut kalau kalau wanita tua itu marah. Betapa menyeramkan wajahnya yang mengunyah sirih itu seolah mulutnya berdarah karena menghisap darah manusia.
"Masuklah" Wanita tua itu berucap dari dalam rumah.
Miranda dengan pelan mendorong pintu kayu itu.
"Ada apa kau datang kemari?" Wanita tua itu menatapnya dengan tajam
"Apakah kau meragukan racun yang aku berikan? Racun itu tinggal beberapa tetes, percayalah tepat jam dua belas siang nanti dia akan mati hahaha" Wanita tua itu tertawa, menambah keseraman wajahnya.
__ADS_1
"Deg" Miranda menelan ludah, air mata mulai menggenang di matanya.
"Mbah tolong aku" Miranda memeluk lutut wanita tua itu. Seketika wanita tua itu kaget.
"Apa yang kau lakukan? Apa maksudmu?" Dia menatap Miranda dengan wajah heran.
"Mbah tolonglah Aku, Aku berubah pikiran. Aku tidak ingin dia mati hiks hiks" Miranda menangis memohon pada wanita itu.
"Kenapa kau berubah pikiran?"
"Mbah aku telah melakukan semua syarat yang kau perintahkan. Aku berbuat baik kepadanya dengan kepura-puraan. Tapi lama kelamaan perasaanku berubah menjadi nyata. Aku benar-benar telah menyayanginya sebagai adikku sendiri. Kini aku sadar dia juga sangat menyayangiku, dia rela hanya memakan kulit roti demi memberikan isinya kepadaku. Dia rela berbohong menutupi rasa laparnya agar aku bisa kenyang. Hiks hiks" Air mata Miranda bercucuran, dia ingat kabaikan-kebaikan El padanya. Dia hanya gadis tidak berdosa yang diperalat untuk balas dendam.
"Mbah, Aku hanya ingin memberi penawar kepada Adikku. Aku tidak ingin dia mati, waktunya sudah tidak beberapa lama lagi. Jam dua belas siang nanti dia akan menghembuskan nafas terakhirnya. Aku mohon mbah, berilah aku penawar itu, Aku tidak ingin kehilangan adikku. Aku sungguh menyayanginya" Air mata Miranda bercucuran.
"Hahaha dasar gadis bodoh, penawar apa yang akan aku berikan kepadamu. Racun itu hanyalah air putih biasa yang aku masukkan kedalam botol hahaha" Wanita itu tertawa terbahak-bahak
"Jadi maksud Mbah" Miranda berdiri menatap wanita tua itu dengan mata yang berbinar.
"Aku telah memprediksi ini terjadi, Aku tahu kamu akan datang memohon penawar. Jadi aku berikan saja kau air putih. Aku juga mengajukan syarat kau berbuat baik, agar kau benar-benar percaya bahwa rasa benci dan cinta bisa saja berubah dalam waktu sekejap. Namun jika aku berikan kau racun tentu kau hidup dalam rasa penyesalan yang tidak akan pernah berubah sampai akhir hayatmu" Wanita tua itu menatap Miranda tajam.
__ADS_1
"Terimakasih Mbah, Aku memang wanita yang jahat. Aku pantas mendapat hukuman, tentang apa yang aku lakukan." Miranda menyesal atas apa yang dia lakukan. ternyata hidup dalam dendam itu melelahkan, dia ibarat membawa setumpuk kentang busuk kemana-mana.
"Wanita jahat tidak akan menangis meminta penawar dan mengakui dirinya salah. Hatimu hanya diselimuti awan kebencian karena dendam. Suatu saat awan itu pergi muncullah hatimu yang sebenarnya. Pergilah temui adikmu, dia tidak akan kenapa-kenapa" Wanita tua itu tersenyum.
Ternyata wanita tua itu tidak begitu menyeramkan, dia hanya tidak pernah tersenyum di depan Miranda.
"Baiklah Mba, terimakasih" Miranda melangkah dengan hati yang lega.
"Satu lagi, tebuslah kesalahanmu kepadanya. Pulangkanlah dia kepada suaminya. Jangan sampai kau menyesal nantinya" Wanita tua itu memperingatkan.
"Wanita tua ini tau segalanya tentang El" Miranda berhenti sebentar kemudian melanjutkan langkahnya lagi untuk pulang.
"El, Aku sangat berharap kau tidak kenapa-napa. Jika terjadi apa-apa kepadamu sungguh aku tidak dapat memaafkan diriku selamanya"
Miranda menatap matahari yang mulai meninggi dengan hati yang harap-harap cemas.
Miranda pulang dengan hati lega, meski tubuhnya terasa sangat capek dan lelah. Dia menyandarkan kepalanya kesandaran becak menatap sekelilingnya. Dia mengingat kembali apa yang telah terjadi, biar bagaimanapun mereka tidaklah salah. Dirinya dipecat karena memang tidak profesional dan telah melanggar kode etik dalam bekerja. Sementara abangnya diego masuk penjara karena telah menculik dan mencoba memperkosa El. Bahkan abangnya telah menganiaya wanita malang itu, wajarlah jika dia sekarang membayar apa yang telah dia lakukan. "El maafkan Aku. Aku sungguh menyesal" Miranda bergumam dalam hati. Kini tidak hanya sesalan yang dia rasakan, tapi juga ketakutan. Dia takut kalau El ingat kembali masa lalunya sudah pastilah El akan membencinya. Dia juga tidak tahu hal apa yang akan dilakukan Erik kepadanya, apakah Erik akan membunuhnya hidup-hidup? Yang jelas Erik akan marah besar jika dia tau Mirandalah yang telah menyembunyikan istrinya itu.
"Tuhan, tolonglah Aku, Aku harus apa? Aku menyesal telah jadi jahat"Sesal hatinya. Dia merasa perjalanan rumahnya menjadi begitu jauh, karena ketidak sabaran hatinya untuk menemui El dan memastikan El baik-baik saja.
__ADS_1
" El aku akan tebus kesalahanku padamu, aku berjanji" Hati Miranda bersuara, seakan dia ingin mengurangi kadar penyesalan yang kini menghimpitnya. Dia ingin menjalani hidupnya seperti dulu, hidup sebagai seorang gadis tangguh penuh perjuangan. Bukan gadis dendam penuh kejahatan.