
"Jadi selesaikan masalah ini, sebagai balas budimu padaku karena aku telah membantumu"
"Semudah itu?"
Albert mengangguk cepat. Jemarinya langsung merogoh handbag mahal Nora dan mengeluarkan ponsel wanita itu dengan segera.
Taoi Nora segera menggeleng. "Dia tidak akan langsung datang"
Albert mengernyitkan dahinya "Dia m3ncampakkanmu karena hamil"
"Lebih buruk.. Karena aku susah di campakkan bahkan sebelum dimulai" Nora kembali membwnamkan kepalanya.
"pergilah... Aku akan megatasinya sendiri, aku oastikan rumah sakit tidak menganggumu"
Albert mengangguk cepat dan berniat untuk meninggalkan Nora sendiri. Pikirannya semoat beralih pada beberapa perdebatan yang akan dia layangkan pada Om Yoga atas ancaman status Hiatus pada karir Toby. Namun...
Langkahnya yang sudah di ambang pintu berputar 180 derajat dan kembali kemana Nora berbaring dan memilih menutuo matanya.
Sesaat dia menatap gadis malang itu dan kemudian dia merogoh saku celananya.
"Ini kartu namaku" Sergahnya denga jemari yang menjulur ke arah Nora "Aku tidak ingin terlibat, tapi kamu bisa bertukar cerita, seperti...."
Sepasang mata mereka bersambut sesaat...
__ADS_1
"Menanyakan, dokter kandungan yang bagus dan sabar" Lanjut Albert yang masih belum mendapat sambutan dari uluran tangannya "aku menangani banyak Celebrity sebelumnya, jadi... Aku cukup pengalaman mendapatkan orang yang bagus"
Nora yang memang tidak benar - benar tidur mulai bangkit dan meraih kartu nama Albert.
"Apakaj kamu tidak begitu sibuk dengan Toby"
"Aku tidak bilang aku menemanimu, hanya akan menjawab bila kamu bertanya dan lagi pula aku akan menjawab di waktu senggang saja"
Nora tersenyum tipis dan mengangguk "bisa di terima, anyway... Terimakasih" seru Nora yang kembali merebah dan menutup matanya yang sebenarnya tidak dalam kondisi mengantuk.
Albertpun tanpa menunggu kembali memutar langkahnya ke arah pintu dan kembali pada rencana awalnya.
*****
Albert hanya mematung di tempat dia duduk memandangi bossnya yang sepertinya enggan menunjukkan rasa iba.
"Apakah sympatimu pada Toby beberapa tahun itu hanya palsu? Atau mungkin yang sekarang ini yang Asli?"
"lama tkita tidak bertemu dan aku harus berahir untuk dihakimi? Cih" Om Yoga memutar kursi kerjanya sesaat, hingga kembali berhadapan dengan Albert yang masih memaku menatapnya "ini..." Oh Yoga menyodorkan amplop coklat berukuran A4.
Albert dengan cekatan membuka isi Amplop itu dan mulai mrmbaca beberaoa lembar di depannya.
"Setelah semuanya?" Albert memilih memasukkan kembali semua lembar kertas meski belum membacanya hingga usai.
__ADS_1
"Bagaimanapun aku juga Bussinesman, bukan hanya Toby yang harus aku perjuangkan, ada banyak kehidupan karyawan lain yang masih harus aku tanggung"
"Tapi bukan berarti kamu harus bersikap tidak manusiawi pada salaj satunya"
"Kamu tahu apa? Hutang perusahaan makin membengkak dengan berjalannya waktu, penghasilan Toby pada perusahaanpun tidak cukup untuk melunasi"
"Hutang itu tidak terjadi kalau kamu tidak berusaha bertindak illegal"
"Ckck.. Lihatlah siapa yang meninggalkanku saat ini?"
"Aku tidak begitu turut campur dengan kasusmu atau membaca detail, namun aku tahu bahwa kamu menyewa property di mexico dengan uang perusahaan tanpa untuk kepentingan perusahaan.. Dan.. Beberapa hal.. Yang.." Ucapan Albert menggantung.
"Apakah hanya Hiatus yang ada di pikiranmu?" Albert mulai kembali ke subject tentang Toby.
"Toby nampak tidak begitu sehat. Dan juga konflik yang terjadi padanya mulai perlahan akan tidak menguntungkan" Om Yoga mulai mendengus kasar. Tubuhnya mulai condong ke arah Albert.
"Kalau perusahaan ini colaps, kamu juga yang kehilangan pekerjaan" suara om Yoga terdengar setengah mengancam "Aku tahu bahwa kamu adalah manager yang cukup handal, menangani perangai Toby bukan hal yang mudah, terutama kebiasaan alcoholnya itu ckckkck"
"Kamu sedang merayuku?"
"Bekerja samalah denganku, pintuku akan selalu terbuka untuk orang berbakat sepertimu"
"Hiatus pada saat tuduhan plagiat, bagi penyanyi yang sekaligus pencipta lagu itu sama dengan bunuh diri?"
__ADS_1
"Hanya satu yang mati... Tapi kita semua masih bertahan, dan hanya karena Toby yang hidup kita semua yang mati... Pilihlah!"