TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Seperti Robot


__ADS_3

El sangat ketakutan melihat Erik di kamarnya.


Ternyata apa yang dikatakan oleh kakaknya selama ini adalah benar. Dan yang lebih mengerikan lagi, dia sekarang berada di cengkeraman lelaki gila itu.


"Ampun Tuan" Jerit El dibalik selimut.


Erik sontak masuk selimut dan memeluk tubuh El


"Tu tuan" El berkata terbata-bata.


"Sssttt diamlah sayang, jangan bikin keributan, nanti semua orang bisa salah paham.


El terdiam dengan nafas bergemuruh. Erik bisa merasakan tubuh El yang lunak seperti kostum gabus.


"Lelaki ini benar-benar sudah gila. Dia memanggil ku sayang dan mengganggap aku istrinya" Gumam El


"Saya bukan istri anda Tuan, hentikan khalayan anda Tuan" El tanpa sadar mengeluarkan suara aslinya. Dia pun langsung menutup mulut, dengan tangannya.


"Elzia Putri Baskoro" Erik menyibakkan selimutnya.


Memandang lekat wajah El.


"Tidak saya Sheyla Tuan, pembantu anda bukan istri anda"


"Tidak El, kamu El kamu istriku" Erik memeluk lagi El dengan Erat


"Hiks Hiks" Dia terisak di pelukan El.


El tidak tega melihat Tuan mudanya sesedih itu.


"Sayang, apa kamu tidak ingat aku lagi"


"Aku Shila Tuan" El bersikeras


Erik memeluk El lagi dan meraba-raba tubuh El. Rasanya dia ingin melepaskan pakaian El saat itu juga.


"Jangan Tuan, saya mohon jangan lakukan Tuan. Hiks hiks" El terisak.


"Maafkan saya" Erik sadar sekarang istrinya mungkin tak mengingat apa-apa bahkan dirinya sendiri.


"Baiklah beristirahatlah sekarang, malam ini kita akan mengadakan makan malam" Mata Erik berbinar.


"Maksud Tuan"


"Iya aku mengajakmu makan malam sayang" Ucap Erik lembut.


"Tapi Tuan"


"Ingat kamu bekerja disini jadi ikuti saja apa yang aku katakan!" El tertunduk, dia sadar tidak ada lagi rumah tempat dia pulang. Kedinginan semalaman di tengah malam yang gelap, telah cukup membuat dia takut.


Sheyla merasakan berada dalam mimpi buruk yang selama ini ia takuti. Mimpi buruk bertemu dengan lelaki gila seperti Erik. Kini dia seakan terjebak dalam genggaman Erik tanpa ia bisa berbuat apa-apa. Pasrah, adalah satu kata yg saat ini dia jalani. Tak ada pilihan lain, dia tak punya kekuatan untuk melawan.


Erik segera menggendong tubuh Sheyla ke kamarnya. Walau dia meronta Erik tidak peduli. begitu juga dengan mata yang melihat, tapi mereka tak berani bertanya bahkan hanya sekedar menatap. Mereka lebih memilih pura-pura tida tahu. Erik dengan menggendong tubuh sheyla menaiki tangga demi tangga dengan tegap. Senyum mengambang dipipinya. Berbeda dengann Sheyla yang hanya mampu menyembunyikan wajahnya di dada Erik. Dia menangis dalam pasrah.


"Tuan, lepaskan saya" Rengeknya pelan.


"Ssst, sudah tenang saja sayang" Dia terus melangkah tanpa pedulikan

__ADS_1


Perlahan pintu kamar terbuka, Erik meletakkan perlahan tubuh El dikasur. Lalu membuka sweternya.


El menelan ludah. Dia menatap sekeliling. Kamar ini seakan tidak asing baginya, tapi sulit untuk dijelaskan.


Erik duduk disamping El sambil menatap lembut kearah istrinya yang katakutan itu.


"Sayang, jangan takut aku tidak akan menyakitimu. Aku menyayangimu"


Erik membelai rambut El.


El sontak mengibaskan tangan Erik


"Jangan Tuan" Matanya mulai berkaca-kaca.


dia ketakutan sambil memeluk kedua lututnya.


"El Sayang" Erik memeluk El lagi.


"Jangan Tuan" El meronta, namun Erik mempererat pelukannya.


"Gantilah bajumu".


" Tapi tuan"


"Lakukan Saja"


Sialan lagi-lagi dia memerintah dengan memaksa. Kadang dia panggil aku sayang. Kadang dia ketus. Dasar laki-laki gila. Hati El lagi-lagi bicara


"Hm hm" Erik menyedarkan El


El berdiri dengan wajah masam. Mengambil piyama yang ada disampingnya.


"Apa perlu aku yang pakaikan bajumu?" Erik mencondongkan wajahnya ke El


El menelan ludah, Dia ketakutan dia panik. Sebentar lagi penyamarannya akan terbongkar


"Tuan, Hiks hiks" El menangis sambil meneluk lutut Erik


"Maafkan aku tuan, sebenarnya aku sudah bersandiwara, aku telah berbohong. Sebenarnya aku tidak gendut. Ini hanya kamuflase. Maafkan aku Tuan" El sangat ketakutan


"Untuk apa kamu melakukannya" Erik sebenarnya sudah lama curiga.


"Saya takut Tuan nanti mengira saya istri Tuan. Kakak saya bilang Tuan Frustasi karena kehilangan istri".


Erik kaget. " Oh ya, jadi kakakmu tahu aku telah kehilangan istri. Bentar, Kakakmu itu cantik, kurus tinggi"


"Iya Tuan".


"Jadi perempuan itu" Erik mengepalkan tangannya


"Tuan, hiks hiks jangan marah Tuan. Maafkan saya"


"Kamu tahu, penyamaran yang kamu lakukan ink bisa membuatmu masuk penjara?" Erik bicara ketus. Dalam hati dia senang El sudah masuk dalam perangkapnya.


"Sungguh Tuan, saya tidak tahu, maafkan saya Tuan". El lagi-lagi merengek.


" Baiklah, saya akan memaafkan kamu, tapi dengan satu syarat"

__ADS_1


"Apa tuan?"


"Kamu harus mengikuti segala yang aku perintahkan" Erik tersenyum dengan penuh kemenangan


"Baiklah Tuan" El menyeka air matanya. Dia sangat sedih. Ternyata apa yang dikatakan kakaknya benar pikirnya. Sekarang dia harus menuruti pria gila ini.


El segera mengganti bajunya di kamar mandi. Dia mengganti bajunya perlahan. Tubuhnya langsing yang indah berbalut kain satin berwarna peach. Entah kenapa dia suka sekali warna itu. Tapi dia seakan berat untuk melangkah.


"Cepetan Sayang, kok lama kali" Erik berteriak dari luar.


"Iya iya Tuan" Enteng kali dia memanggilku sayang. Ternyata dia benar-benar sudah gila. El menggerutu sendiri.


Mau tak mau dia harus keluar, sampai kapan juga dia akan berada di kamar mandi. Dengan perlahan dibuka pintunya. Ternyata Erik telah menunggunya diluar.


Erik memandangi tubuh El dari ujung kaki sampai ujung kepalanya.


"Istriku" Matanya berkaca-kaca dia memeluk El dengan Erat


Ternyata Tuan ini benar-benar sudah gila karena kematian istrinya.


"Tuan"


Erik menggendong tubuh El ke ranjang..


"Tuan mau apa?" mata El terbelalak ketakutan


"Baiklah, tugas kamu yang pertama. Tidur bersamaku". Erik tersenyum genit.


" Apa tuan?" El terkejut dengan wajah ketakutan. Membuat Erik makin semangat menjahilinya.


"Ya nggak apa kalau kamu nggak mau. Berarti kamu mau masuk penjara" Erik tersenyum penuh kemenangan.


"Baik baik Tuan" El tertunduk lemas.


Erik segera mengganti bajunya dengan baju piyama. Dia dengan santai membuka bajunya di depan El. Memperlihatkan dadanya yang bidang dan tubuhnya yang atletis .


Sementara El sama sekali tidak tertarik dia masih dalam ketakutan sambil kembali memeluk lututnya.


Erik telah naik ke ranjang, tidur disamping El.


"Sekarang tidurlah"


Sialan aku benar-benar dibuat seperti robot gerutu El.


 Dengan berat hati dia menggeser tubuhnya perlahan.


Kini dia tepat berada di samping Erik, yang dari tadi senyum memandanginya.


El benar-benar takut dia menggigit bibirnya sendiri. Badannya kaku layaknya robot.


"Tuan, anda orang baik kan. Saya yakin anda orang baik. Orang baik tidak akan tidur dengan wanita lain" El bicara terbata


"Sssttt, sudah malam jangan berpikir yang macam-macam. Tidur saja" Erik menempelkan telunjuknya di bibir El.


Erik mendengar jantung El yang begitu kencang, bahkan dia dapat menghitungnya.


Erik tersenyum. dia merasa sangat bahagia. memeluk istrinya lagi meski sekarang dia tidak mengingat Erik seperti dulu. .

__ADS_1


Bersambung🄰


__ADS_2