
Hari ini pencarian terhadap Pak Chen dihentikan. Para Tim SARS dan orang yang diturunkan oleh sekretaris Jim tidak membuahkan hasil. Meski mereka sudah berupaya semaksimal mungkin.
Erik melakukan tabur bunga di laut bersama Ibunya dan El disana juga hadir pak Baskoro dan Buk Zahra serta Sekretaris Jim dan beberapa orang star terdekat Pak Chen.
Erik menaburkan bunga di lautan lepas, air matanya bercucuran dibalik kaca mata hitamnya. Bagaimana tidak kini hanya lautan lepas yang menjadi pusara Papanya.
Dia menahan isak tangis di dadanya begitu juga Buk Mellya. air mata mereka bercucuran seiring dengan bunga yang berserakan di laut.
"Sabar ya Sayang" El memeluk Erik memberikan dukungan kepada Erik.
Dia pun tak mampu menahan air matanya. Bagaimana dalam sekejap mata peristiwa itu terjadi tanpa hujan tanpa badai Pak Chen telah hilang saja. Jasadnya pun tidak mengapung, sebagian orang berasumsi pak Chen tersangkut di karang sehingga jasadnya tidak mengambang. Hati Erik terasa pilu membayangkan apa yang terjadi pada Papa yang sangat dikasihinya itu. Masih terbayang senyuman Pak Chen, di pelupuk mata Erik. Dia sosok ayah yang begitu hangat, disiplin dan bijaksana. Sehingga jadilah Erik sosok yang sempurna.
"Semua ini sangat menyakitkan El. Bahkan aku tidak tahu pusara mana yang akan aku ziarahi bila rindu Papa" Ucap Erik serak.
"Iya sayang, aku ngerti perasaan kamu" El mempererat pelukannya.
Semua orang yang ada disana pun ikut meneteskan air mata. Merasa kehilangan yang teramat dalam akan sosok yang sangat mereka kagumi.
❤❤❤
Malam telah larut Erik belum juga tidur, dia masih merasakan kesedihan atas kepergian Papanya.
"Rik, bobok gi" El menepuk bantal disampingnya.
Erik mengikuti saja dan membaringkan diri disamping istrinya.
El memeluk Erik, berharap suasana hatinya membaik. Jantung Erik mulai berdegup lagi, dia membalas pelukan istrinya itu. Belakangan ini istrinya selalu menempel seperti perangko. Apalagi malam ini El tidak menggunakan bra seperti biasa dan menempelkan benda kenyal itu ke dada Erik membuat Erik semakin panas saja.
Erik mengangkat dagu El, memandang wajahnya lekat. Erik mendekatkan wajahnya perlahan, El memejamkan matanya seakan dia mengizinkan Erik ******* bibir mungilnya yang merah.
"Cup" Erik menempelkan bibirnya ke bibir El ********** dengan lembut El juga membalas ciuman Erik. Kemudian tangannya telah aktif di dada El. Erik sudah tidak kuat lagi dan dia ingin melakukannya malam ini. dia pun membuka baju El perlahan dan ingin melihat benda berharga milik El.
"Rik" El menggoyang tubuh Erik perlahan. Erik perlahan membuka matanya. Ternyata dia hanya bermimpi. El membangunkan Erik karena ketiduran di sofa.
"Ya El"
__ADS_1
"Pindah tidur gi" Ucap El dengan senyuman.
"Aduh kenapa tiba-tiba aku mimpi begituan sama El ya? Akhir-akhir ini El selalu menempel padaku sehingga membuat aku nggak tahan" Ucap Erik dalam hati.
El membuka branya dan mengeluarkan dari baju. El memang biasa seperti itu dia tidak buka baju kalau membuka bra. Terlihat jelas bentuk dada El dibalik piyama satin yang mengkilap itu.
"Kok bengong, Sini Bobok gi" El menepuk bantal disampingnya.
"Kok mirip sama mimpi aku" Erik semakin bingung.
Dia sudah merebahkan diri di kasur.
dan masih memikirkan mimpinya tadi.
El melihat Erik yang bengong saja, memeluknya erat. membuat benda kenyal itu menempel pada Erik.
Erik semakin berhasrat saja melihat El, namun dia telah berjanji dalam hatinya akan meminta terlebih dahulu meminta El menjadi istri sesungguhnya di depan orang tuanya. Erik juga menyiapkan hadiah dan kejutan untuk El. Semua telah ia pikirkan dan dia sudah perintahkan Reno asisten khususnya untuk mempersiapkan segalanya.
"Kenapa sih Rik sepertinya kamu tidak tertarik pada aku. Padahal aku sudah berusaha mancing kamu. Apa kamu beneran nggak cinta sama aku Rik?" Bisik hati El. Hati El mendadak kecewa telah lama pernikahan mereka tapi Erik belum pernah menyentuhnya layaknya istri.
Erik kaget menatap El yang terisak
El hanya diam, dia tidak menjelaskan apa-apa
"El kamu kenapa El? Kamu sakit? mana yang sakit?" Erik panik sendiri.
"El menggeleng dan membalikkan badannya. Sekarang dia membelakangi Erik, sementara Erik bingung harus bagaimana.
Erik turun dari kasur untuk menemui mamanya. Sepertinya dia harus bertanya kepada mamanya karena sesama perempuan Mamanya akan lebih paham.
Melihat Erik yang pergi El berasa semakin kecewa
" Ternyata Erik tidak pernah mencintaiku" Bisik hatinya pilu.
Erik mengetuk kamar mamanya.
__ADS_1
" Ma, Tok tok tok"
"Iya masuk Rik" Rupanya mama Erik sedang membaca majalah seperti tidak ada beban. Mamanya kelihatan lebih tegar dibanding dirinya.
"Iya Rik ada apa? kok tumben malam-malam begini ke kamar Mama?" Mama menyelidik menatap wajah Erik yang kebingungan
"Begini Ma, Tadi kan..." Erik menceritakan semuanya.
Mama tersenyum geli mendengar cerita anaknya.
" Sayang, bagaimana kamu bisa tidak peka seperti itu. Kamu tahu sekarang El itu sedang merajuk"
"Merajuk kenapa Ma, kan Erik nggak salah apa-apa?".
" Iya kamu pernah bilang kamu belum menyentuh El karena dia belum siap kan? Sekarang mungkin dia telah siap. Tapi sebagai perempuan dia nggak mungkin meminta sama kamu kan? Makanya dia memberikan kode sama kamu. Tapi kamu nya nggak ngerti-ngeri hahahah" Mama tertawa melihat kepolosan Erik.
"Maksud Mama El mau tidur sama Erik?".
" Iya sayang apa lagi?"
"Gitu ya Ma" Erik nyengir seperti orang bego
"Ya sudah Erik ke kamar dulu ya Ma"
"Ok sayang, selamat berjuang ya" Mama tersenyum
"Ih Mama apaan sih" Wajah erik memerah menahan malu.
Erik kembali lagi ke kamarnya. Dia melihat El telah tertidur.
Betapa istrinya itu sangat cantik seperti bidadari yang dihadiahkan Tuhan untuknya
Erik memeluk tubuh istrinya dari belakang menciumi aroma wangi shampo dari rambutnya yang terurai.
"Maaf ya sayang, tunggu besok surprice indahnya sayang" Ada perasaan bahagian di hati Erik, ternyata cintanya pada El tidak bertepuk sebelah tangan. Sekarang dia hanya ingin membina rumah tangga yang sesungguhnya dengan El. Tanpa sandiwara dan akan memberikan El nafkah lahir batin layaknya suami istri.
__ADS_1
Bersambung❤❤❤