
Aku lupa bahwa aku di keluarkan dari Radio bukankah karena haters yang membludak.
Reputasi seseorang yang tampil di TV tentu harus lebih bagus dari orang yang hanya di radio. Apakah hatersku sudah menurun seiring berita positive tentang Toby?
****
Beberapa jam sebelumnya...
"Seorang pembawa berita biasanya, melamar pekerjaan seperti staff pada umumnya"
"Atau audisi?"
Hmm.... Tia menggeleng
"Hanya melamar, kecuali kalau presenter kamu bisa di audisi. Tapi sayangnya tidak ada presenter berita"
"Bagaimana dengan talk show?"
"Kamu hanya pendatang baru, wajahmu dan keahlianmu terlalu minim untuk memiliki program sendiri, kecuali..."
"apa?"
"Kamu menerima tawaran Rizal"
"Nggak mungkin"
Jadi aku harus bagaimana?
Apakah menyerah saja jadi artist endorse karena Mengandung anak Toby. Dan hanya mengeluh ketika menerima kabar tentang bagaimana Rizal menyerang.
Bahkan om Yoga yang sempat menyatakan Toby seperti anaknya sendiri, ahirnya malah ingin membunuh anak Toby yang ada padaku, hanya karena nilai investasi yang tinggi.
__ADS_1
*******
Baru kali ini Toby sala memilih baju untuk ukuran tubuhku, dia pasti lupa bahwa ibu hamil akan mengalami pembengkakan bagian tubuh tertentu seperti dada.
"Kamu baik - baik saja?" tanya Toby yang melihatku menahan nafas beberapa kali sebwlum kami keluar dari mobil.
Aku hanya mengangguk, meminta gaun baru juga sudah tidak mungkin.
"Kenapa acara Premiere filmmu sangat mendadak?" bisikku yang sebenarnya adalah keluhan.
"Film ini ahirnya di tayangkan karena aku terbukti tidak memiliki hubungan tidak wajar"
"Jadi ini salah satu efek dari kehamilanku"
Toby yang menggenggam erat tanganku mengangguk dengan mantap.
Aku mengerti kenapa kali ini Albert berpihak padaku. Paati dia mendapat banyak keuntungan dari terpatahkannya gossip negative tentang Toby.
Riuh wartawan segera menyorot kami ketika kami tiba. Kami berhenti seswkali agar kamera bisa menyorot kami dengan baik.
Tak lama pemai film yang lai juga mulai muncul, dan seiring itu kami berpisah. Toby bergabung dengan para pemeran yang lain dan aku menuju area VVIP.
Toby nampak bahagia dan menjawab semua pertanyaan dengan penuh semangat. Di dunia hiburan sepertinya Toby cukup di sukai, hampir semua memuji actingnya dan juga cara dia bekerja sama dengan para crew.
"Bekerja sama dwnga Toby sangat mengesankan. Dia sangat detail dan total, sebagai sutradara aku cukup terbantu" jawaban sang sutradara pada wawancara.
" aku pikir awalnya membangun chemistry dengannya akan sangat sulit. Penampilannya di panggung dan dunia musicnya cukup bold dan terlihat tidak ramah. Tapi ternyata, itu semua berbeda ketika dia bermain film" Jawab lawan main Toby
****
" Apakah begitu menyenangkan menjadi pemilik lelakinyang menjadi pujaan para wanita negeri ini?" sebuah suara mwmbuyarkan konsentrasiku.
__ADS_1
"Siapapun dia aku pasti senang" Jawabku yang mulai mengalihkan peehatianku pada asal suara.
"ka.. Mu? Ngapain di sini?"
Soaok Rizal berdiri tegak di sampingku dengan segelas champagne di tangan kanannya.
"Tentu saja memenuhi undangan" Rizal memandangiku dari atas ke bawah "Kamu lebih cantik ketika hamil" Desisnya.
Aku mundur beberapa langkah namun gaun panjang ini menghalangiku, hampir saja aku kehilangan keseimbangan.
Ups!! Rizal menangkap tanganku.
"sebagai calon ibu seharusnya kamu berhati - hati"
Aku segwra berdiri tegak dan menarik tanganku sekuat tenaga.
"Hei... Aku hanya membantu" Rizal mengomentari perlawananku "Lagi pula, nisa jadi nanti anak itu jadi anakku, setelah kamu mendendangkan namaku dengan sangat merdu" tawa licik segera terukir sebwlum dia meneguk champagne di tangannya.
" Sinting....!" Aku memaki otomatis "Lihatlah banyak wanita cantik di sini, pilihlah salah satu untuk kebutuhanmu, jangan berlagak seperti bujang yang tak laku"
"Oh... Ya?" Rizal menebar pandang sejenak "Mereka tidak sulit untuk aku dapatkan, tapi aku sedang mengincar apa yang pernah lolos dariku"
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu tapi..."
"Tidak perlu tahu" Potong Rizal "tapi yang jelas kepopuleran suamimu ini akan segera padam, seiring berapa lama kamu bertahan dengannya"
"ka.. Ka.. Mu.."
"Aku ingin tahu.. Seberapa egoist kamu saat ini, apakah masih sama seperti waktu itu?" Rizal menatapku penuh arti dan kemudian perlahan pergi.
__ADS_1