
"Benar...!" Yoga mengangguk mantap, sepasang matanya tak bisa leoas dari tas kerja Rizal yang tergeletak di atas meja designernya.
"Aku akan mencetak lebih banyak lagi talent seperti Toby. Bahkan Rachel.. Celebrity cantik itu juga sudah bergabung dengan kami"
"Aku melihat pengumumannya" Kali ini Rizal mulai membuka tasnya "Hanya saja, aku ingin memaksimalkan Toby sekali lagi. Hanya untuk mengukur, siapa yang lebih berpengaruh"
"Maksudmu...??"
"Toby atau agency mu?"
"Aku tidak mengerti.."
Rizal mulai meraih dua buah map dengan warna yang berbeda.
"Aku lebih daripada berinvestasi, tapi aku juga akan meminjamimu dhana dari Bank kami agar perusahaanmu lebih berkembang"
Om yoga yang sudah tak sabar segera mengambil kedua map itu. Sepasang maniknya berbinar untuk sesaat, namun seketika meredup.
"Aku harus menerbitkan Single Toby?"
"Rizal mengangguk"
"Common... Saat ini dia adalah plagiator"
"Aku tahu... Aku memberikan tambahan dhana agar itu menjadi kesempatan untukmu menunjukkan kemampuanmu untuk mempertahankan nilai seorang Celebrity di agency"
Om yoga kembali mencermati kertas di dalam map itu satu per satu.
"Kasus Toby mungkin yang pertama di perusahaanmu, tapi kasus hak cipta selalu ada dalam setiap masa" Rizal mulai memandangi deretan penghargaan yang t3rpajang di salah satu rak di sisi ruangan "Sebagai investor aku ingin tahu seberapa cakap team mu mempertahankan nilai uangku apabila menghadapi kasus yang serupa"
"Hanya satu single saja bukan?"
Rizal mengangguk
"Tapi..." Mimik Yoga terkesan hawatir "Kenapa aku harus menjaminkan sahamku pada pinjaman ini"
"Sederhana... Aku lebih kaya darimu. Aku tidak tertarik dengan gedung, obligasi atau hartamu yang lain. Karena aku pasti sudah punya"
"Ah iya... Benar.."
__ADS_1
"Satu satunya yang aku belum punya adalah perusahaan di bidang entertainment. Dan aku rasa itu akan sangat menguntungkan mengingat kami juga memiliki merk cosmetic yang menghunakan jasa Celebrity lebih sering dari produk yang lain"
Yoga segera menepuk tangannya "Benar...!" wajahnya kembali berbinar. "Pilihanmu memang tepat, ini lebih menguntungkan dari pada mendapatkan wanita biasa seperti Sandra"
Yoga tersemyum tipis.
"Jadi.. Semua sahamku akan jadi milikmu bila nilai sahamnya turun"
Rizal mengangguk mantap tanpa mengedipkan maniknya.
Sejenak Yoga mulai ragu.
"Bukankah kamu cukup pengalaman dan piawai? Jadi hal sepele seperti itu tidak akan masalah bukan?"
Yoga hanya diam sejenak otaknya sedang terperas.
"Kasus Toby hanya akan milik Toby kqlau itu benar. Kamu hanya butuh merilis keterangan bahwa Agency juga merasa tertipu"
"Ah iya..." yoga segera memotong ucapan Rizal.
Rizal mulai memandang lurus wajah Yoga yang mulai cerah lagi.
Setelah menarik nafas dalam - dalam. Tanpa ragu...
Kedua perjanjian itu segeera memiliki bubuhan tanda tangan Yoga lengkap dengan materai yang tertempel.
"Agree..."
*****
...Tahun - Tahun penuh semangat, ...
...Bakatku adalah emas yang di tambang dan dijadikan aset, kekayaan serta perhiasan....
...Masa mudaku adalah ornament yang direbutkan banyak insan. ...
...Namun emosiku hampir terus terlantarkan...
...Aku tertatih Ketika mentalku meluncur ke tajamnya di turunan. ...
__ADS_1
...Dan aku terus mencoba tetap meraih kehidupan. ...
...Meski aku tak mengerti bagaimana masa depan....
... Karena aku tahu bagaimana nada harus berjalan. ...
...Aku akan terus berjuang hingga climax...
...Dan meledak bersama kejayaan di setiap generasi. ...
...Akan aku buang amarah dan trauma, ...
...Membasuh wajahku dengan airmata masa lalu. ...
...Hingga semua itu runtuh untuk kecerahan hari esok. ...
...That's my Live. ...
"Bagaimana menurutmu?"
Aku tertegun sejenak, dan memutar kembali bagian reffing lagu Toby.
"Kamu cukup Optimist, itu bagus"
"Tentu saja" Toby nampak Puas. "Jadi seharusnya kamu tidak ragu padaku bukan?"
"Namun nampaknya hatimu yang pessimis padaku"
Toby mengusap kepalaku cepat dan kemudian mengecup kening Andira yang tertifur lelap di gendonganku.
"Tuuut... Tuut" sebuah suara aneh terdengar dari kantong Toby.
"Kamu mengganti Ringtonenya?"
Toby segera merogoh isi kantongnya dengan cepat tanpa mempedulikan pertanyaanku.
"Om Yoga menyutujuinya?" Wajah Toby sumringah seketika "Tanpa Syarat!!"
"Ssst...." aku memcoba menghentikan ledakan semangatnya yang hampir membangunkan putri kami.
__ADS_1
"Ok.. Aku ke sana" Kali ini suara Toby langsung berubah jadi bisikan. Dan segeera berlari dengan berjinjit meninggalkanku tanpa menoleh kebelakang.