TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Datang


__ADS_3

Papa hanya mengangkat bahu, "Aku belum memastikannya, sejauh ini pengacara masih melakukan pendampingan untuk Mama dan belum memberi kabar apapun padaku"


Toby segera berdiri "Aku pinjam mobilnya Pa!"


"Mungkin kamu bisa makan terlebih dahulu, setidaknya.."


Toby tak mendengarkan sisa ucapan pria tua itu dan segera meraih kunci mobil yang terletak di sudut jt meja kerja ayahnya sebelum segera menghilang meninggalkan Papanya sendiri.


****


Toby tercengang melihat Tia yang sedang berada di ruang tengah menikmati sajian Tv dan sedikit bersantai.


Apakah Sandra lupa, bahwa dia tidak suka orang baru untuk tinggal.


" Sandra mana?"


Tia yang juga terkejut segera menunjukkan arah ke kamar Sandra yang nampaknya terkunci.


"Sedang mandi" pekiknya tertahan yang tentu tak di hiraukan Toby.


*****


Mataku membelalak ketika Toby sudah berdiri tegak di dalam kamar mandi usai semua buih shampoo di atas rambutku memudar.


Mimpi???


Atau halusinasi??


Aku membasuh wajahku beberapa kali hingga ahirnya mematikan aliran air dari shower. Dan ternyata Sosok Toby masih berdiri tegak di tempat semula.


Jadi ini adalah nyata?

__ADS_1


Bukannya harusnya besok?


Apakah Toby sudah tahu yang terjadi?


Seharusnya sudah, Om Yoga pasti telah menghubungi nya secara langsung. Atau mungkin ibunya yang sudah mengadu karena aku telah memutuskan tidak membukakan pintu rumah, saat mencariku?


Sejuta tanya melayang di otakku dalam pandanganku yang terpaku pada sosok Toby yang nampak tidak bergerak.


"Bisa kspanpun aku mau" ahirnya Suara Toby terdengar meski dingin seperti ubin di kakiku.


Mungkinkah dia kini berubah pikiran mengenai keberpihakannya padaku? , karena ternyata ancaman rizal mengenai ibunya tercinta?


" Ah benar, aku segera meraih bathrobe dan membalut tubuhku yang mulai melangkah pelan menghampirinya.


Seperti biasa Toby bukan tipe yang sabaran. Dalam sekejap sosoknya telah mendekat dengan cepat dan segera mencengkeram pinggangku.


" Dari awal kamu memang bukan perempuan yang mudah apalagi murah "Desisnya ketika menyentuh wajahku.


Suara Toby lengkap dengan kalimat nya yang tak aku mengerti berhasil membuat jantungku seakan dalam gempa berskala 7.5 ritcher.


Tapi sayang, tawa Toby tidak seperti yang aku bayangkan. Senyumnya begitu dingin dan menakutkan.


"Jadi .. Aku mengorbankan mama demi dirimu?"


Glek...


Aku memutar manikku, keadaan saat ini memang terlihat seperti itu.


Bahkan aku tidak memberitahu Toby tentang ancaman Rizal yang justru bukan pada dirinya, tapi justru pada sang Mama yang dia cintai.


aku harus membalas apa? Uhf..

__ADS_1


" Jadi.... "Toby menarik semua oksigen di antara kami dalam nafasnya yang rupanya cukup dikuasai emosi.


Toby segera meraih pisau cukur elektriknya yang terletak di sudut wastafel, tak jauh dati tempat kami berdiri.


Apakah dia akan meyerangku, apakah dia tidak puas atau mungkin justru menyesal telah mempertahankanku?


Langkahku terpaksa mundur, namun pandangaku tentu saja ingin kabur. Namun...


Toby segera mencengkeram pinggabgku lebih keras dan segera mendorongku ke arah kaca. Sepasang matanya seperti Elang yang siap memangsa.


"Ba.. Ba.. Ru.. Empat minggu.." Suaraku muncul dengan terbata.


Toby memandang kemana jemariku mengarah.


Namun sepertinya itu tidak mempengaruhinya banyak. Dengan tanpa ragu dia menyalakan alat cukur itu tepat di antara manikku.


Dia tidak akan menggunduliku kan? atau mencukur alisku.


Tidak.. Aku tidak bisa di tekan oleh siapapun. Tidak juga Toby.


"Aku tidak salah, pilihanku benar" Aku memberanikan diri membela diri meski suaraku tak sepenuhnya berpihak.


"Kejahatan Mama kamu, cepat atau lambat, dengan atau tanpaku pasti terungkap" Bukankah itu kenyataan , dia tidak akan dalam situasi sulit kalau dia bersih " Aku menjelaskan posisi yang memang tidak salah.


Toby masih diam seolah menunggu kalimat berikutnya, hanya saja tekanan tangannya menjadi lebih kuat.


"aku...." kataku terbata sejenak. Tentu saja ada rasa takut yang menjalar. Perbandingan tubuh kami tidak seimbang, jika mungkin rerjadi perkelahian.


Aku menaruk nafas cepat serta Manikku segera menuju pisau cukur yang belum berhenti berdesis di depanku


"Hanya ingin... keluarga yang aku mau" lanjutku tanpa mengalihkan pandangan "pernikahan kita maksudku"

__ADS_1


Glek..sial kenapa Toby tak merespon apalagi bereaksi. Dia masih memaku seperti elang dengan cengkeraman yang masih sama.


Uhf Tuhan... Pleaase.. Bantu aku.


__ADS_2