TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Bebas


__ADS_3

"Mau bernyanyi?"


Aku tertawa kecil "Suara tudak bagus tanpa autotune"


"Aku tidak memintamu menyanyi dengan bagus" Sambut Toby yang kini mulai memainkan intro lagu kami. "Lagi pula aku guru vocalmu, aku sudah melihat yang terburuk"


Aku tetap menggeleng, aku lebih suka melihat suamiku masih bernafas ketika aku bangun. Aku berdiri mengulurkan tamganku ke arah Toby.


*****


Tangisan Andhira mendengung sekitar jam empat pagi. Bayi mungil kami sepertinya mendapatkan kebiasaan bagun pagi orang tuanya.


Tanpa berfikir aku segeera menghampinya dan memeriksa diapers yang di kenakannya. Setelah memggantinya, aku menduga bahwa arti tangis selanjutnya adalah kebutuhan Asinya yang ingin dipenuhi segera.


Bayinyapun kembali terlelap.


Begitu pula ayahnya, tapi aku justru khawatir karena Toby sama sekali tidak terusik dengan tangisan Andhira yang cukup kencang. Reflek aku segera memeriksa nafasnya.


Namun jrmari Toby segera menangkapku.


Kamu memghawatirkanku? "


" Tentu saja "


Toby menarikku ke dadanya dan dengan segera aku mendengar degup jantungnya. Apa hanya perasaanku atau memang jangung Toby rasanya terdengar lelah.


Tidak lama lagi, jantung itu akan pensiun


Meski aku susah tahu, namun aku tetap otomatis terperanjat dan menegadahkan wajahku ke arah Toby.


"Jantung itu berdetak lebih cepat saat bersamamu?" ucapak Toby terdengar seperti pesan kematian.


Mungkin tubuh ini sama, namun jantung yang di sana akan berbeda. Toby memandang bayi kami yang lelap dalam boxnya.


"Alasan terbesarku untuk mengjadirkannya adalah agar kamu tidak pernah pergi dariku" Toby meringis "Selanjutnya, aku ingin hidup normal denganku"

__ADS_1


"Jangan berbicara yang aneh...otak dan organ yang lainnya masih sama kan" Aku mencoba mengganti suasana yang terkesan mulai sendu dengan caraku.


Toby tersenyum anggun "Apakah kamu tahu bahwa pelaku transplantasi jantung, hanya memiliki sisa hidup lima belas tahun?" kali ini tatapannya mengarah ke langit - lengit. "Kalau Tuhan mengijinkan, bisa lebih sedikit" lanjutnya dengan nada guraunya.


Aku yang mendengarnya hampir tersentak ingin bangkit, tapi Toby menekanku untuk tetap tinggal.


"Lima belas tahun terahir itu, pasti sulit bila aku harus memulai banyak hal dari awal. Misalnya, andai kamu pergi, aku harus berkenalan dengan oerempuan baru mengenalnya sekitar....." Toby seolah menghitung di angan - angan


" Satu tahun... Penyesuaian paling cepat dua tahun... "wajahnya masih menegadah ke langit." tinggal dua belas tahun" itu kalau berhasil... Kalau gagal..? "


Kali ini wajah kami saling menatap. Namun mataku yang mulai mengembun.


" Bukankah kamu sudah terbiasa denga tempramenku? "


aku mengangguk otomatis.


" Kamu juga tidak pernah keberatan atau mungkin sudah menyukai cara jemariku menyentuhmu dengan kasar saat kita sedang intim"


Aku kembali m3ngangguk otomatis.


"Dan kamu sudah berhasil melewati serbuan efek negative dari kepopuleranku"


"Bisakah kamu bertahan sedikit lagi, dan memberiku kehidupan normal yang aku impikan?"


Aku hanya diam menahan isak.


"Jangan khawatir..."


Kali ini aku bangkit.


"Jangan khawatir? Itu tidak mungkin" Pekikku dengan isak dan suara yang tertahan. "Pertama, tidak ada dokter yang menjamin keberhasilan operasimu 100%" Aku mengusap airmataku dengan cepat, berharap Toby tidak melihatnya. Tentu saja itu bodoh.


"Kamu bisa mati lebih cepat dari pada lima belas tahun"


Toby kini turut bangkit, wajahnya merendah dan menatapku sejenak sebelum ahirnya dia membantuku menyeka air mata.

__ADS_1


"Jadi bisakah kamu mengabulkan keinginanku?"


Aku mengerjap mencoba berharap air mata tidak turun lagi.


"Aku sebenarnya juga ingin memohon atas nama cintaku, tapi.... Aku sadar aku kadang tidak memperlakukanmu dengan baik. Bahkan membuat hidupmu kacau" Toby menarik kepalaku untuk membenam di dadanya. Dan kembali merasakan detak jantungnya.


"Tapi kita pernah jadi teman..bukan?" Aku merasakan Toby menarik nafas panjang "Setidaknya bisakah kamu melakukannya untuk pertemanan kita"


******


" Rupanya kamu perempuan baik - baik" Toby mendengus dan mulai berdiri.


Uhf... Aku lupa dia actor papan atas dengan kemampuan acting yang bagus.


"Sejenak aku berfikir kamu lebih buruk, mengingat begitu cepat kamu tidur semalam. Meski sroanjang hari kamu nampak stress dan terus protest, Dan kamu sama sekali tidak menyadari ketika aku tidur di sisimu"


Akupun mengikuti Toby untuk berdiri "Aku suka tidur, terutana ketika ada bantal di sekitarku" jawabku jujur "Dan itu tidak ada hubungan apakah aku wanita yang baik atau buruk"


Toby mengangguk mantap.


"Berteman..." Tawarnya tanpa rasa bersalah seiring mengulurkan tangannya yang kekar.


"Hah... Yang benar saja"


"Setdaknya kamu telah tidur dengan teman lelakimu daripada kamu telah tidur dengan orang asing?"


*****


Kenangan masa itu membuat tangisku pecah. Benar kami memang berteman, dan kami menikah dan kami punya anak. Dan bagaimanapun kami keluarga.


Aku memberanikan diri memgangkat wajahku dan menjulurkan jemariku pada wajah Toby yang masih menunduk menatapku.


Tanpa berkata, aku menarik wajah itu lebih dekat dan menautkan sepasang bibir kami.


"Bolehkan kisah kita kali ini aku yang membuat scenarionya?" bisikku lirih.

__ADS_1


"Terserah... Kamu bebas Sand..."


Kami mengangguk bersamaan dengan isak yang sama.


__ADS_2