TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Harus berlalu


__ADS_3

Hari itu gerimis mengguyur, langkahku begitu cepat menyusuri trotoar.


"Sand... Tunggu.." Suara Rizal menggema..


Tapi aku tak peduli aku terus berjalan cepat untuk segera pulang. Bukan, aku tidak pulang, tapi aku mampir ke rumah sakit.


Hari itu pertama kali aku mendengar ayahku mendapat serangan jantung. Dan dalam masa kritis.


" Ayah bagaimana bu?"


Ibu hanya menggeleng, "belum bisa di jenguk, masih kritis" Ibu yang biasanya ceria, mendadak nampak loyo.


Aku yang masih remaja, tidak tahu harus berbuat apa.


****


"Jangan terus mengekor padaku" Aku mulai mengusir Rizal dari sisiku.


Sebenarnya bujan karena benci atau alasan klasik lainnya. Hanya saja saat itu aku madih belum siap menerima kenyataan bahwa ayahku menderita sakit jantung karena kecanduan alcohol yang di alaminya.


Aku berniat menyimpan masalah itu hingga ahir masa SMA ku, yang sudah tinggal satu semester lagi. Tapi sialnya aku punya pacar yang selalu mengekor dan berlindung di bawah pengaruh ku.

__ADS_1


Meski rizal adalah lelaki yang baik saat itu. Namun, dia juga tidak dapat melindungiku andai saja teman yang lain membuliku karena Alcoholism ayahku.


Dan sialnya aku tidak pandai berbohong, apalagi dengan turunnya financial keluarga kami saat itu. Aku akan sulit menjawab pertanyaan.


"Kok ngak ikut lagi ningkring?"


"Ayahmu sakit jantung kenapa? Perasaan sehat - sehat saja?"


Tahaaan... Cuma sisa enam bulan lagi, cukup menyendiri di perpustakaan. Dan waktu akan berlalu dengan sendirinya.


Hanya saja, tidak begitu dengan Rizal.


"Aku sudah capek kamu ikutin terus, makanya jadi cowok itu gedein badan, nikin macho biar ga digangguin mulu"


"Kita urus, urusan masing - masing ya?"


Aku meninggalkan rizal yang terpaku melihat keoergianku. Dan sejak saat itu kami tak petnah bertegur sapa.


Sebenarnya andai rizal menyadari, aku juga mulai jarang berbicara dengan yang lain dan mulai lebih suka menyendiri.


Dan ahirnya akhirnya Aku meninggalkan desa itu, membantu keluargaku mencari nafkah di kota metropilitan hingga...

__ADS_1


****


Sekarang.


Aku berdiri perlahan dan mulaibmembaca sekali lagi pesan pendek Toby.


"Kami baik - baik saja. Dan semua berjalan dengan baik. Aku dan bayi kita merindukanmu juga" rekamku yang segera aku kirim kan pada Toby.


Seingatku dari gossip kala aku pulang kampung, Rizal masih sering mencariku, bahkan sempat mengejarku ke bandara satu kali waktu.


Tapi aku berfikir antara kami hanya cinta monyet belaka. Dan aku merasa, harusnya dia sudah melupakanku dan memulai hidup denga yang lain. Seperti aku yang sekarang, meski pilihan saat ini hasil dati takdir yang terpaksa. Uhf..


****


"Bisa minta teh manis hangat" Aku mulai duduk Di lounge dan berharap sekedar istirahat.


"Mereka semua sudah pergi?" tanyaku laginke Tia yang usai menyampaikan pesananku ke bagian pantry.


"Iya... Mereka segera pergi usai keluar dari ruang meeting" jawab Tia "Apakah ibu baik - baik saja?"


Aku mengangguk.. "Hanya masuk angin" Aku berbohong. Karena memang kehamilanku harusnya masih beberapa hari lagi. Dan akan di umumkan saat Toby kembali dari tour. Hingga saat itu, bayi ini masih rahasia.

__ADS_1


Saat itu adalah saat pertama ayahnya kena seranga jantung. Roda ekonomi berputar. Sandra bekerja selama dua tahun dan kemuduan baru kuliah. Jadi tidak ada cela bertemuRizal di kemudian hari.


Namun siapa sangka lelaki itu masih mencari kepastian hingga saat ini.


__ADS_2