
Erik mengambil telponnya dan mulai menghuhungi Reno.
"Hallo Reno apa semua sudah siap?"
"Sudah Tuan"
"Baiklah Terimakasih Reno"
"Ting" Sebuah kiroman gambar dari reno. Mulai dari foto taman, kolam dan semua yang telah dipersiapkan disana. Erik menatap foto itu puas. seperti biasa Reno selalu bisa diandalkan. Tak rugi rasanya Erik membayar Reno berkali-kali lipat dari karyawan kantornya.
Erik mengeluarkan kotak kecil bewarna merah dari dalam jasnya.
Dia membuka kembali kotak yang berisi cincin tersebut. Cincin itu akan dipersembahkan untuk El saat makan malam di taman nanti. Tamannya juga sudah dipersiapkan sedemikian rupa. Dihiasi dengn lilin yang menyala di kolam teratai berbentuk hati. Kemudian Erik juga tidak lupa meminta setiap sudut taman dihiasi balon berbentuk hati bewarna-warni. Erik telah mempersiapkan segalanya untuk menyatakan cinta yang sesungguhnya untuk istrinya itu. Tifak lupa Erik menghubungi orang tua El sebagai saksi pernyataan cintanya kepada El.
Air kran sudah tidak terdengar lagi, Erik segera menyimpan kotak kecil itu kembali kedalam jasnya.
El telah siap mandi, dia mencari baju yang pas untuk di pakai jalan bersama Erik. Dia tidak tahu akan diajak kemana? tapi dia tak berharap banyak mengingat dia merasa Erik tidak pernah mencintainya
"Pakai ini El" Erik menyodorkan 2 buah kantong berisi gaun dan satunya lagi sepasang sepatu cantik.
"Makasih ya " El melihat gaun Indah bewarna peach kesukaannya. Dia mengambilnya dalam diam dengan wajah datar.
dia segera memakai **********. dia pun membelakangi Erik.
Erik memperhatikan tubuh El yang begitu sempurna membuat hasratnya terpancing lagi. Namun dia selalu bisa mengendalikan dirinya. Dia akan mendapatkan Istrinya itu dengan cara yang berkesan bukan karena pancingan nafsu semata. meski dia kerap menutupinya.
El tiba-tiba membuka handuknya betapa tubuhnya sangat seksi hanya berbalut bra dan celana ketat pendek.Erik terpanah memperhatikan istrinya. El berusaha memasang resletingnya sendiri dan dia terlihat kesusahan
"Sini aku bantu" Erik segera menolong memasangkan
"Makasih" Ucap El datar
Lalu Erik juga membantu memasangkan sepatunya.
"Sikapnya sangat manis terkadang membuat aku meleleh, tapi dia juga menunjukkan sikap tidak tertarik kepadaku. Oh Tuhan kenapa hatiku galau begini ya. Lama-lama aku bisa tersiksa seperti ini" Lirih hati El.
"Kenapa ngelamun El?" Erik membuyarkan lamunannya
El menggeleng, sepertinya El agak jutek pagi ini. Mungkin efek kekecewaannya tadi malam.
Erik tersenyum tipis sepertinya pernyataan cintanya ini benar-benar akan menjadi kejutan buat El.
El terlihat sangat cantik dengan gaun yang diberikan Erik. Sementara Erik juga terlihat begitu ganteng.
Erik memegangi tangan El menuruni tangga. Tuan dan Nona muda pamer kemesraan lagi membuat semua orang yang menatapnya menjadi iri.
__ADS_1
"Anak Mama udah ganteng dan cantik ini. Mau kemana Rik?" Mama yang sedang membaca majalah berhenti sejenak
"Erik mau mengajak El keluar Ma" Erik tersenyum
"Ya sudah kalian hati-hati dijalan ya" Ucap Buk Mellya dengan hati yang bahagia
"Iya Mama sayang" Erik menatap mamanya bahagia
"Sepertinya ada yg udah" Mama menatap Erik dengan wajah bersemu.
"Apaan sih Ma" Wajah Erik bersemu menahan malu
"Udah apaan Ma?" Tanya El penasaran
"Nggak apa Sayang, ayo kita pergi" Erik menarik tangan El
"Kita kemana?" Tanya El datar
Tapi Erik hanya tersenyum tipis
Disepanjang jalan El hanya diam, tak banyak berharap apa-apa
Mungkin Erik memang seorang gay, yang memperistrinya hanya untuk sebuah topeng. Tapi waktu itu Erik tegas membantah dugaannya.
"Rik, Ayo kita berpisah" Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutnya. Seiring dengan air mata yang sudah menganak di matanya.
Seketika Erik menghentikan mobilnya menatap El dalam mencari perasaannya yang sesungguhnya. Dia tidak percaya apa yang di dengarnya.
"Apa tadi El? Bercerai? Kenapa kamu ingin bercerai?" Erik menatap El dalam
"Untuk apa kita melanjutkan sandiwara ini Rik. Mau sampai kapan?" El menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.
"Maksudnya"
"Mau sampai kapan kita menjalani pernikahan tanpa cinta" Air mata El mulai berjatuhan
"El tatap aku, kamu sebenarnya cinta nggak sama aku?" Erik memegang pipi El menyeka air matanya dengan ibu jari.
"Tidak" Jawab El menunduk.
"Tatap aku dan bilang tidak" Bola mata Erik yang tajam menghujam El. El tak sanggup berbohong jika di tatap Erik seperti itu.
El keluar dari mobil, dia tak sanggup berlama- lama dengan posisi seperti itu.
"Jangan cengeng El" Seru hatinya
__ADS_1
El Terus berlari kearah taman. Erik mengejarnya dan segera duduk disebelahnya.
"Baiklah El. kalau kamu ingin berpisah denganku. Tapi untuk yang terakhir kalinya aku ingin mengajakmu kesuatu tempat. Please kamu mau ya. Erik memohon sambil memegang tangan El"
"Baiklah" El merasa kecewa Erik tidak mempertahankannya. Dia pun tidak mengetahui rencana Erik selanjutnya.
"Ayo kita pergi"
Mereka kembali berjalan dalam diam. Erik melihat Orang yang menjual bunga di seberang jalan. Dia ingin membeli bunganya untuk El.
"Kamu tunggu disini ya" Erik segera menyebrang tanpa melihat kendaraan yang melaju kearahnya.
"Awas Rik" El segera berlari dan mendorong tubuh Erik.
"Brakk" Tubuh El terpental ditabrak sebuah mobil yang melintas dengan kencang. Tubuh El terlempar beberapa meter.
"El" Erik segera menghampiri El. Betapa syoknya Erik melihat darah mengucur dikepala El. Tangannya bergetar memeluk El.
"Rik, Mungkin ini kesempatan terakhir aku untuk mengatakan perasaan aku yang sebenarnya sama kamu. Aku sebenarnya mencintai kamu Rik. Meski kamu tidak cinta aku" El berbisik lembut ditelinga Erik lalu dia tidak sadarkan diri.
"El aku sebenarnya juga cinta sama kamu El. El jangan pergi kami jangan tinggalkan aku Sayang" Erik meraung lalu dikerumuni orang-orang yang lewat. Dan mobil ambulan telah datang membawa El kerumah sakit
***
El masih berada di ruang operasi. Kecelakaan yang dialami El membuat kakinya patah dan beberapa jahitan di kepala.
Erik masih terpukul dengan apa yang dialaminya hari ini. Seketika semua rencana yang telah disusun sematang mungkin sudah hancur berantakan.
Air mata mengucur di pipinya melihat keadaan istri yang sangat dicintainya kini. Dia ingat malam itu istrinya menangis menanggung kekecewaan. Dia ingat akhir-akhir ini istrinya selalu manja dan menguatkan dia dimasa sulit. Tapi yang diberikan Pada El hanya kekecewaan sampai istrinya itu meminta cerai darinya. Betapa bodohnya dirinya yang selalu menunda-nunda semua pernyataan cintanya. El istri yang sangat dicintainya kecantikannya seperti Bidadari. Dan hari ini dia rela mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan Erik. Andaikan malam itu Erik menyatakan cintanya dan memperlakukan El layaknya seorang istri tentu musibah ini takkan terjadi sesal Erik.
"Ahhhh" Erik berteriak dan menendang kursi yang ada di depannya.
"Tenanglah tuan muda" Sekretaris Jim segera memegangi tubuh Erik dan membawa dia keluar dari rumah sakit.
Sementara Mama El telah beberapa kali pingsan begitupun pak Baskoro terlihat terpuruk atas musibah yang telah terjadi.
"Rik" Buk Mellya memeluk tubuh anaknya.
"Sabar sayang, El pasti baik-baik saja. Kita doakan El ya sayang" Buk Mellya pun tak dapat membendung air matanya.
"Semua ini salah Erik Ma. Semua ini salah Erik" Erik mengacak-ngacak rambutnya sendiri. dia terlihat frustasi. Sekretaris Jim hanya terdiam baru kali ini dia menyaksikan Tuan mudanya seperti itu.
"El Beri aku kesempatan sekali saja untuk menyatakan cinta. Cinta yang telah lama aku pendam" Bisik hati Erik pilu
Bersambung...
__ADS_1