
Erik dan sekretaris Jim segera meluncur ke lokasi. Kali ini Erik yang mengendarai mobil dengan cepat. Dia begitu panik hingga menyalib semua mobil yang ada di depannya.
"Berhati-hatilah Tuan Muda" Sekretaris Jim mengingatkan. Namun Erik tetap saja melaju dengan cepat untuk segera datang ke lokasi kejadian.
Disebuah tikungan jalan di tepi perbukitan disitu kira-kira tempat kejadiannya.
Erik segera turun dari mobilnya. Alangkah terkejutnya Erik saat mobil yang dikendarai Lela dan El telah terperosok ke dalan Jurang.
"Eeeellll" Erik berteriak histeris dia langsung saja menuruni jurang tersebut. Tak peduli berapa banyak duri yang menempel di badannya. Dia tidak merasakan lagi selain kekhawatiran saat ini.
Mobil merah dengan plat XX itu telah menabrak sebuah pohon didasar jurang, Kaca depan mobil itu telah pecah. Tampak Lela yang masih tersandar pada setir Mobil.
"Lela" Erik mengguncang tubuh Lela namun dia tidak sadarkan diri dengan luka di kepalanya.
"El, mana Ell??" Erik berteriak pintu mobil bagian belakang memang terbuka. Tapi tidak ditemukan El di sana, kemungkinan El terlempar keluar.
"Ellll" Erik menangis sambil melihat sekitar mobil tapi tidak ditemukan El di sana.
"Tuan saya akan cari sekitar sini" Sekretaris Jim segera memeriksa sekitar jurang itu. Tapi hasilnya nihil, dia tidak berhasil menemukan El.
Erik kembali memeriksa mobil, dia menemukan HP El dibawa Jok.
"Ellll" Erik meraung sambil memeluk HP itu.
"Maaf Tuan Muda, saya tidak menemukan Nona disekitar sini" Sesal sekretaris Jim.
Erik tersungkur.
"Ini aneh seharusnya Nona masih ada disekitar sini, apa ada seseorang yang menyelamatkan Nona. Tapi kenapa dia tidak menyelamatkan Lela juga" Sekretaris Jim menjadi terheran-heran.
"Sekretaris Jim, bawalah Lela ke rumah sakit. Lela saksi kunci kecelakaan ini"
"Baiklah Tuan, tapi bagaimana dengan Tuan?"
"Saya akan mencari lagi disekitar sini" Ucap Erik berurai air mata.
"Baiklah Tuan, nanti saya akan lapor polisi dan mengirim beberapa orang untuk membantu Tuan"
Sekretaris Jim segera membawa Lela ke rumah sakit. Sementara Erik masih tidak mau meninggalkan tempat itu. Dia masih berharap akan menemukan El di sana.
Erik masih menyusuri lokasi kejadian, di suatu tempat dibawah jurang itu. Dia menemukan kalung El yang tergelak.
"El" Disekitar kalung ada jejak sepatu, tapi tidak begitu jelas.
__ADS_1
Erik yakin seseorang telah membawa El, tapi kenapa dia membawa El. Dan siapa dia, semua masih menjadi teki-teki yang berputar di kepala Erik.
Erik terduduk di dekat mobil itu, dipandangi lagi kalung El ditangannya.
"El dimana kau sekarang Sayang, bukankah kau berjanji akan selalu menjadi bintang kecil dibawah rembulan. Bukankah kau telah berjanji akan selalu bersamaku memandangi bulan di malam hari". Seketika Erik ingat lagi senyum El, sikap manja istrinya itu. Bahkan akhir-akhir ini memang El kelewat manja, sampai dia ingin ikut kemanapun Erik pergi bahkan kekantor sekalipun.
"Ahhh" Erik menendang mobilnya.
"El kenapa kau pergi El?" Dia kelihatan begitu frustasi.
Tak lama mobil polisi datang, tempat itu segera dipasang police line. Beberapa orang kiriman sekretaris Jim pun sudah datang, mereka bersama menyisiri tempat itu. Tapi tetap saja El tidak ditemukan. Petang sudah menjelang bahkan akan berganti menjadi malam.
"Tuan, muda sebaiknya anda pulang dan melanjutkan pencarian besok" Ujar seorang arjudan yang dikirim Erik.
"Apa? Beraninya kamu memerintahku ha! Aku tidak akan pulang, Aku tidak bisa membiarkan istriku tidur di jurang ini sendirian" Erik begitu marah, tidak ada lagi yang berani menyuruh dia pulang.
Sekarang Erik masih betah di sana dia memandangi bulan dan bintang-bintang yang bertaburan. Ternyata semalam adalah kali terakhir dia melihatnya bersama El.
"Tuan" Sekretaris Jim datang, dia memandangi Erik dengan khawatir. Bajunya sudah kotor terkena lumpur, dia seakan tidak peduli.
"Sekretaris Jim, apa Lela sudah sadar? dia mengatakan dimana El?" Erik mendesak sekretaris Jim. Berharap Lela bisa memberi kesaksian tentang istrinya itu.
"Maaf Tuan, Lela masih kritis dia belum sadarkan diri" Sekretaris Jim tertunduk.
"Mari kita pulang Tuan, Serahkan semua pada polisi" Sekretaris Jim mengulurkan tangannya. Erik menjabat tangan sekretaris Jim.
***
Hari demi hari berlalu,belum ada hasil dari polisi. Tentang dimana keberadaan El. Disekitar jalan memang tidak ada CCTV dan tidak ada saksi. Hal ini membuat polisi kesulitan mengidentifikasi keberadaan El sekarang.
Erik dan sekretaris Jim memandang Lela dari pintu.
"Dia masih belum sadarkan diri Tuan" Ucap Sekretaris Jim.
"Sekretaris Jim, jagalah Lela disini. Dia satu-satunya harapan kita untuk mengetahui dimana El" Ucap Erik penuh harap.
"Baik Tuan, lalu bagaimana dengan urusan kantor Tuan?"
"Kamu tidak usah khawatir sekretaris Jim, saya masih bisa melakukan semuanya sendiri" Erik pun berlalu meninggalkan sekretaris Jim.
Sekretaris Jim segera masuk dan menunggui Lela.
Dia duduk di kursi sambil memandangi wanita itu.
__ADS_1
Lela memiliki tubuh yang tinggi dan agam tomboi, namun dia gadis yang baik. Sampai sekarang belum ada wali yang datang menjenguknya. Menurut Erik, Lela sebatang kara di kota Ini. Orang Tuanya sudah lama meninggal dan tidak punya saudara.
Tangan Lela mulai bergerak
"Lela" Dia mulai membuka mata perlahan.
"Lela" Sekretaris Jim, menatap Lela penuh harap.
"Sekretaris Jim" Lela berucap pelan.
"Tuan, Nona El" Lela tercekik dia seperti membayangkan sesuatu.
"Kenapa dengan Nona El Lela, katakan" Sekretaris Jim penasaran.
"Waktu kami kecelakaan, Nona El terlempar keluar. Lalu dia dibawa oleh seorang wanita muda. Tapi saya tidak mengenalinya Tuan. Apa dia telah mengantarkan Nona? Apa Nona Selamat?"
"Lela, sampai sekarang Nona belum ditemukan?"
"Apa? Jadi wanita itu tidak menyelamatkan Nona?" Lela terkejut.
"Maafkan saya Tuan, saya sudah berusaha mencegah wanita itu. Tapi kepala saya rasanya sakit sekali, dan akhirnya saya pingsan. hiks hiks"
Lela menangis merasa bersalah.
"Saya akan mencari Nona El sekarang?" Lela mencoba melepaskan infus ditangannya. Tapi sekretaris Jim segera menahannya.
"Kamu gila ya?, Jangan menambah-nambah masalah bagi Tuan Muda" Ucap Sekretaris Jim Emosi
"Beristirahatlah, pulihkan kondisimu" Dia kembali duduk. Lela tidak berani, melihat sekretaris Jim marah dia malah jadi ciut.
Sekretaris Jim memegangi kepalanya, dia memikirkan keadaan El.
"Siapa wanita itu? Apa motifnya?" Pikir sekretaris Jim. Dia segera menelpon dan memberitahukan kabar ini kepada Erik.
"Apa? Lela bilang seperti itu?"
"Iya Tuan?"
"Berarti ada seseorang yang sengaja mencelakainya" Ucap Erik
"Tapi siapa sekretaris Jim, setau saya El tidak memiliki musuh. Kenapa ada yang tega berbuat sejahat itu kepadanya ha? Erik berteriak kesal dan menendang kursi.
Belakangan Erik menjadi Emosian, dia begitu tertekan kehilangan istrinya itu.
__ADS_1
bersambung