TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Tenang


__ADS_3

Dig dag dig dug... Suara jantung bayi menggema di seluruh ruangan usg.


"Ukuran bayinya 2.65cm, tangan dan kakinya sudah terbentuk, lihatlah dia mulai bergerak"


Toby yang di sampingku segera mendekatkan wajahnya pada layar usg.


"Mungkin dia lebih pintar berdansa daripada ayahnya" goda sang dokter.


" itu tidak buruk.. Yang jelas nampaknya ibunya akan cukup kewalahan" Sahut Toby datar.


"Pada masa selanjutnya adalah masa otak bayi akan berkembang dengan pesat, ginjalnya mulai mengeluarkan urine dan jari-jarinya telah bisa mengepal seperti tinju. Memasuki minggu ke-12, alat kelamin bayi sudah mulai dibentuk. Panjang bayi di trimester pertama ini akan mencapai 8 cm "


" Jadi... Aku akan segera tahu jenis kelamin anakku usai pulang nanti? "


" sesuai teory begitu, namun karena bayi sudah mulai banyak bergerak, kadang sulit melihatnya "


" Apapun jenis kelaminnya sama saja "Celetukku.


" Tapi kita perlu tahu untuk memilih warna perabotan bayinya "


" Semua warna sama saja, rambutmu juga pernah berwarna pink, dan kamu masih nampak maskulin "


Toby mengangkat bahunya sejenak dan kembali konsentrasi kepada bayi kami yang sangat lincah menggerakkan kaki dan tangannya.


*****'


" Aku tidak bisa membiarkan kamu sendiri di rumah " Toby mulai menyalakan mobil meninggalkan rumah sakit.


" Tapi aku tidak ingin mendengar orang bergossip tentangku, aku tidak punya bakat Celebrity sepertimu" timpalku yang sudah mulai menerka bahasa Toby yang mungkin akan mengirimku ke rumah orang tuanya.


" Kita diskusikan lagi sesampainya kita di rumah"

__ADS_1


Ini lebih mirip bahwa dia punya pendapat yang berbeda dariku.


******


Sesampainya di rumah, sosok Tia sudah menunggu di depan gerbang pintu pagar kampi. Wajahnya nampak lelah dengan kantong mata yang sedikit membengkak.


Aku sungguh ingin simpaty dengan apapun yang terjadi pada Tia yang mungkin belum sempat di ungkapkannya padaku. Tapi...


"Kamu hilang kemana saja..." Pertanyaan Toby sungguh tidak sopan, tidakkah dia melihat keaadan Tia.


"Tob...."Lirih ku, aku mencoba untuk sedikit mencegahnya untuk kalimat lain yang mungkin keluar.


" Professional.. "Sanggah Toby yang melewati Tia begitu saja.


Aku mendaratkan tanganku di pundak Tia dan memberikan syarat untuk dia mengikuti kami masuk.


*'


"pekerjaanmu bukan kantor pemerintah yang hanya buka selama matahari bersinar" Toby masih mengomel ketika kami mulai memasuki ruang tamu. "Ini bukan pertama kali kamu menjadi manager" Toby membalikkan badannya dan menatap lurus pada Tia yang masih berdiri menunduk di belakangku.


Suasa hening, di antara kami untuk sesaat.


"Dan kamu sadar kalau gajimu di atas standard manager pada levelmu. Dan pekerjaanmu sangat sedpikit karena aku dan sandra yang sangat pemilih" Toby sepertinya belum puas dengan complain sebelumnya.


Aku mulai mengerutkan keningku dan memandangi wajah Toby yang perlahan memerah.


Oh.. NO... cukup marah - marahnya... Aku butuh istirahat ...


Aku bergegas menarik lengan Toby dan mencoba membawanya ke ruangan lain, yang memungkinkan kami berdiskusi berdua.


"Harus kah kamu memarahinya sekarang?" Protesku setengah berbisik.

__ADS_1


Sepasang manik kami bertemu.


"Tidakkah kamu lihat keadaan Tia yang sedang tidak baik - baik saja? Bisakah kita menanyakan keadaannya lebih dulu" Aku berusaha melanjutkan ucapanku sebelum Toby ingin menyela.


"Lagi pula, hari itu aku pulang dengan selamat" aku menekankan hasil dari kondisi ketika Tia tidak bisa menjawab telphon Toby.


"Selamat...? Dan juga Happy...?" tanya Toby dengan satu sisi bibir yang tersungging.


Aku mulai penasaran apa isi otak Toby saat ini.


"Karena kamu bisa menikmati waktu bersama lelaki pujaanmu bukan?"


"Ini soal Jorge?" pekikku yang terkejut.


"Apakah ada lelaki lain saat itu?"


Aku menelan ludah kasar.


Ckckckc...


Sejenak aku lupa kalau Toby memang adalah pecandu alcohol meski tidak di depanku. Tapi efek samping kegelisahan dan paranoid tidak beralasan begini pasti akan selalu berakibat di antara kami.


Dan yang terpenting saat ini, aku memahami dari mana asal penyakit cemburu saat ini. Menyerang kesalahan dirinya adalah langkah yang sama yang di ambil ibuku saat menghadapi ayahku, dan iti adalah hal yang salah.


Karena seharusnya, kamu cukup meredam emosinya dengan cara apapun, agar tidak menjadi liar.


"Jorge berpacaran dengan Nora, dan itu serius jadi jangan ungkit lagi antara perasaanku yang lampau"


Meski berbohong bukan hal yang benar. Dengan semua emosiku yang sudah terkuras, ini adalah satu satunya halnyang terbersit untuk membuatbToby tenang.


Sisanya aku urus selanjutnya...

__ADS_1


__ADS_2