
El tergesa-gesah menuruni tangga, dengan nafas yang memburu dan dada yang sesak.Dia masih meremas benda bening berisi cairan pink itu. Ketika hendak membereskan jas Erik dia meraba benda keras dalam saku jasnya. Alangkah terkejutnya dia kalau dalam saku jas itu adalah lisptik bewarna Pink. Entah milik siapa dia tidak tahu. Yang jelas dia akan mencari tahu dengan langsung datang ke kantor Erik sekarang.
"Lela Ayo kita berangkat sekarang" Ucap El dingin
"Baik Nona" Lela hanya berani menatap El sekilas lalu fokus mengemudi.
Sepanjang perjalanan pikirannya berkecamuk, rasa sakit, kecewa merasa dicurangi menyatu jadi satu kekecewaan yang munusuk hatinya
"Rik, kenapa kamu tega lakuin ini sama gue. Disaat gue udah memberikan segalanya buat Lo. Tapi sekarang Lo curangi gue. Rik, gue udah ngorbanin semuanya buat Lo, bahkan nyawa gue sekalipun" Air mata sudah menggenang dipelupuk matanya.
"Nona El" Lela hanya dapat mengamati dari kaca spion dalam.
" Sepertinya Nona sedang ada masalah dengan tuan muda" Bisik hati Lela
El berusaha menahan air matanya, namun dia tak kuasa membendung aliran yang sudah menetes di pipinya. Hatinya pilu, mungkin dulu dia pernah merasakan cinta bertepuk sebelah tangan. pedih memang, tapi ini lebih pedih lagi disaat sudah saling mencintai tapi dikhianati.
"Hiks hiks" El terisak.
"Nona, anda tidak apa-apa Nona?" Lela merasa khawatir namun El hanya diam seribu bahasa.
Akhirnya mereka tibalah di kantor Erik. Setelah melewati receptionis El berhasil masuk menuju kantor Erik dilantai tiga.
Dia berjalan sendiri tak ingin ditemani Lela, sambil berjalan diseka air matanya agar tak menjadi perhatian orang lain. Langkah-langkah demi langkah walau nanti yang dilihat hanyalah kepahitan,namun dia harus minta kejelasan atas apa yang ditemukan disaku jas suaminya. El telah sampai di depan pintu ruangan Erik. Dia mengambil nafas panjang dan membuangnya, begitu beberapa kali.
" El tenagkan dirimu El" bisik hatinya .
Lalu dia mengetok pintu
"Tok tok tok" El mengetuk pintu ruangan Erik. Setelah terdengar kata silahkan masuk. El memberanikan diri untuk membukan pintu.
Seketika itu El membuka pintu dan menyaksikan Erik tengah memeluk tubuh Miranda
Dia mematung beberapa detik meyakinkan diri dengan apa yang dia lihat.
Air mata telah luruh lagi dari matanya. Dia terisak dan langsung pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
"El" Erik terkejut dengan kehadiran El yang telah melihatnya di posisi seperti itu. Dia segera melepaskan tubuh Miranda.
"Brak"
"Brak" Tubuh Miranda terjatuh kelantai
"Aw sakit" keluhnya. Tapi Erik tak peduli pada Miranda, dia segera berlari menyusul El
El segera berlari menuju mobil.
"Dasar Sial" Gerutu Miranda sambil mengentakkan kakinya.
Menyambar kunci di tangan Lela dan segera mengenderai mobil dengan cepat.
"Nona Nona" Lela berlari mengejar mobil El apa daya mobil itu telah pergi meninggalkannya.
Tak lama Lela melihat mobil Erik menyusul El.
"Tuan Muda" Lela mencoba mengejar mobil Erik namun kedua mobil itu berkejaran dengan cepatnya.
Beberapa saat kemudian ditengok mobil Erik dari spion, tapi dia tidak melihat Erik mengejarnya.
"Itukan, ngejar gue aja nggak. Berusaha ngejelasin kek. Mungkin dia sedang sibuk bermesraan dengan Miranda" Gerutu El. Dia masih mengemudi dengan kencang menuju apartemennya.
Riasannya sudah berantakan tapi dia tidak peduli. Sekarang dia telah hancur dua kali. Kini dia harus menerima kenyataan kalau Erik telah mengkhianatinya. Kenapa harus sekarang, kenapa tidak dari dulu saja sebelum dirinya terlalu jauh masuk kedalam lembah cintanya.
Sesampai di apartemen El membenamkan dirinya di kasur.
"Hiks hiks" dia masih terisak disana
Diambil tisu beberapa lembar untuk menghapus air matanya, lalu ia lempar sembarangan. Begitulah berulang-ulang sampai tisu-tisu itu telah memenuhi kasur dan lantai
***
Flashback
__ADS_1
Siang ini ada meeting antara Axena Inc dengan kantor cabaang dari berbagai daerah. Mereka akan membahas tentang produk-produk tertentu dengan permintaan pasar tertinggi dan terendah. Untuk produk dengan permintaan tertinggi maka mereka akan meningkatkan jumlah produksinya. Sementara untuk yang terendah akan lebih ditingkatkan lagi cita rasa dan kualitasnya.
Selain itu Erik juga membuat sebuah kegiatan amal dari perusahaan yaitu memberikan 1000 kardus makanan yang berisi beraneka ragam produk Axena Inc. kepada korban banjir yang terjadi di berbagai daerah. Yah, begitulah wujud rasa syukur dan terimakasih mereka karena kepercayaan masyarakat yang telah menggunakan produk mereka selama ini. Hal ini mendapat apresiasi semua orang yang terlibat, mereka menyadari kedermawanan CEO Erik serupa sekali dengan Pak Chen. Begutu juga dengan Miranda yang semakin klepek-klepek disamping Erik. Namun tetap tidak memunculkan perasaan iti keluar.
Sehabis Meeting Erik membuka jasnya dan meletakkan di kursi. Dia ingin mencuci mukanya agar memberi sedikit sensasi segar di wajah dan pikirannya.
"Kebetulan sedang di toilet" Miranda mengendap-ngendap dan memasukkan lipstiknya kedalam saku jas Erik.
"Mana tahu aja nanti jas ini di pegang El, biar tau rasa Lu El" Dia cekikikan membayangkan El bertengkar dengan Erik.
Sehabis meletakkan Lipstik itu dia kembalu lagi fokus dengan laptopnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Erik keluar kamar mandi duduk di kursi dan memejamkan matanya sejenak. Dia kelihatan begitu tampan, wanita mana yang tidak akan tergoda apalagi orang-orang tidak tahu kalau dia sudah punya istri tak terkecuali Miranda.
"Tampan, sekali Miranda memperhatikan dengan senyuman" Terbayang di benaknya ide-ide gila yang akan dia lakukan untuk mendapatkan Erik.
"Selama janur kuning belum melengkung, masih hak bersama kan?" Pikirnya dalan hati.
Dia pun melanjutkan pekerjaannya dengan semangat. Apalagi nanti dia akan mrndampingi Erik di acara Amal membuat dia semakin kegirangan.
Setelah semua pekerjaan selesai Erik memakai kembali Jasnya dan bersiap-siap untuk pulang. Dia tidak menyadari Miranda menaruh sesuatu disana.
"Maaf tuan, boleh saya menumpang pulang dengan anda?" Ucap Miranda
"hm dimana rumah kamu?" Jawab Erik datar
"di jalan Anggrek tuan"
"Oh ya" Erik mengambil ponselnya. Tunggulah di depan sudah ada mobil yang akan mengantarkanmu pulang.
"Apa? jadi dia tidak mau memberiku tumpangan? Sial, kenapa sulit banget sih di dekatin" Bisik hati Miranda
"Baiklah terimakasih banyak tuan" Ucap Miranda dengan tersenyum. Seolah tak ada kecewa di hatinya.
"Baiklah Tuan, hari ini aku boleh tidak berhasil. Tapi nanti aku pasti berhasil untuk mendapatkanmu" Bisik hati Miranda, dia memang orangvyang selalu optimis dan gigih untu mendapatkan apa yang dia inginkan.
__ADS_1
bersambung