
Erik tertidur di ranjang rumah sakit. Tangannya masih memegang tangan El. Tepat jam satu pagi, tangan El sudah mulai bergerak lagi, meski itu hanya gerakan yang pelan tapi sanggup membangunkan Erik.
"El" Erik terbangun dan menatap wajah El. Perlahan mata El sudah mulai terbuka.
"Sayang kamu sudah sadar" Erik memandang El dengan penuh keharuan sampai air mata telah menggenang di pelupuk matanya.
"Rik" El memandang Erik dengan senyuman.
"El aku panggilin dokter dulu ya" Erik hendak meninggalkan El.
"Rik" El menggenggam tangan Erik erat seakan dia tidak ingin Erik pergi.
"Sayang, syukurlah kamu sudah sadar" Ucap Erik bahagia.
El bahagia, kali itu terdengar jelas di telinganya Erik memanggilnya sayang meski mereka hanya berdua.
"Sayang tunggu sebentar ya , Aku telpon Mama dan Papa dulu. Pasti mereka senang benget kamu udah sadar.
Erik dengan bahagia segera menghubungi Mama dan Papa El.
" El " Erik memanggil El menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca
El dengan wajah pucat berusaha menghadiahkan senyumannya untuk Erik.
Tak lama orang tua Erik pun datang
"El" Buk zahra membelai rambut El
"Mama" Ucap El lirih.
"Rik, Kaki aku sakit" Ucapnya meringis
"Sabar sayang,nanti kaki kamu pasti sembuh"
"Emang kaki aku kenapa Rik?" El berusaha menyingkap selimut di kakinya. Alangkah terkejutnya El ketika melihat kaki kanannya di perban. Seketika air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Sabar ya Sayang" Buk Zahra menenangkan El
"El, Maafin aku ya. Seharusnya kamu nggak perlu nyelamatin aku El" Sesal Erik sambil menciumi
jemari El.
"El, kamu tahu aku sangat galau ketika kamu minta cerai. Sebenarnya malam itu aku akan mengajak kamu kesuatu tempat untuk melamarmu menjadi istriku yang sebenarnya" Erik mengingat lagi kejadian malam itu. Sementara El menatap Erik dalam, dia seperti tak percaya apa yang diucapkan Erik.
Erik lalu membuka galeri HPnya, menampilkan Foto yang dikirim Reno malam itu.
"El, kamu lihat foto ini" Erik memperlihatkan layar HPnya pada El.
"Ini adalah tempat aku akan melamarmu malam itu. Sebelum semua Insiden itu terjadi aku telah merencanakan semua sematang mungkin. Tapi sepertinya Tuhan belum mengizinkan hal itu terjadi.
__ADS_1
Erik menggenggam tangan El.
" El Waktu kamu masih kritis di Rumah Sakit,Aku sangat takut kamu tidak lagi terbangun. Aku sangat takut tidak dapat lagi melihat bola matamu. Disitu aku sadar aku memang benar-benar telah mencintaimu,meskipun aku tidak tahu persis kapan aku jatuh cinta padamu"
Mata El ikut berkaca-kaca mendengar pernyataan Erik.
"El, malam ini didepan orang Tuamu. Aku ingin meminta kamu menjadi istriku yang sebenarnya. El, mungkin selama ini aku belum jadi suami yang baik untukmu. Namun aku ingin kita mulai lagi dari awal menjadi suami istri yang sesungguhnya".
Erik menatap El dengan kesungguhan. Orang Tua El pun terharu mendengar pernyataan Erik.
"Tapi Rik, aku bukan lagi wanita yang sempurna sekarang" El menjawab dengan suara menahan
tangis
"El, bagiku kau wanita yang sempurna. Aku mencintaimu bahkan dalam kondisi apapun juga"
"El, apakah kamu bersedia menjadi Istriku yang sesungguhnya?" El mengangguk air mata meleleh dari pipinya. Ternyata selama ini Erik juga mencintainya lantas kenapa selama ini Erik tidak pernah menyentuhnya. Ingin dia bertanya tentang hal itu, namu diurungkan niatnya karena ada orang tuanya disana.
Erik menciumi kening El dan memeluknya.
"Aku mencintaimu El ku sayang" Bisiknya di telinga El.
"Aku juga mencintaimu Rik" Bisik El
"Panggil aku Sayang" Pinta Erik masih memeluknya.
Erik lalu mengeluarkan cincin dari kotak merah yang selalu dibawanya itu. Lalu disematkan ke jari manis El. El merasa sangat bahagia sampai dia tidak bisa berucap apa-apa lagi.
"Erik, terimakasih telah mencintai El. Terimakasih juga telah sabar menghadapi sikap El selama ini. Walau Papa yakin mungkin El belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu selama ini" Pak Baskoro memegang pundak Erik
"Iya Pa, Erik berjanji akan selalu menjaga dan menemani El apapun yang terjadi"
"Terimakasih ya Nak Erik. Akhirnya seiring berjalannya waktu kalian bisa mencintai satu sama lain" Buk Zahra tersenyum bahagia
***
Setelah beberapa lama dirumah sakit, akhirnya El diizinkan pulang oleh dokter. Meski kakinya masih berbalut perban dan menggunakan bantuan kursi roda untuk berjalan.
"Biar aku bantu" Erik mengambil sisir dan mulai menyisir rambut El yang hitam. Meski El bisa melakukan sendiri tapi Erik tetap saja memperlakukannya seperti anak kecil.
Setelah bersiap-siap pagi itu Erik mengajak El ke taman rumahnya.
Erik selalu setia menemani El melewati hari-hari yang mungkin berat baginya.
"Sayang, kamu tidak kekampus?"
"Nggak sayang"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku mengambil cuti" Erik berbohong, sebenarnya dia telah mengundurkan diri dari kampus semenjak El kecelakaan.
Erik duduk disebelah El mengambil tangan dan memperhatikan jemarinya.
"Sayang,kukunya sudah mulai panjang. Aku potongin ya" Erik mengeluarkan gunting kuku dari kantong celananya.
"Sayang, aku kan bisa sendiri" Jawab El tersenyum
"Iya nggak apa juga aku motongin kuku istri aku kan?" Erik mencubit hidung El
"Aduh sakit" El balas menggelitik pinggang El
"Geli Sayang" Ucap Erik sambil tertawa
Erik mulai memotong kuku El satu persatu. Betapa mereka seperti pasangan yang sangat romantis. Membuat Iri para mata pelayan yang melihatnya.
"Sungguh Nona El gadis yang beruntung mendapatkan suami seperti Tuan Muda" Gumam seorang pelayan yang sedang menyiram bunga
"Iya, tapi tuan muda pun beruntung memiliki Nona El yang rela berkorban nyawa untuknya. Sungguh mereka pasangan yang serasi" Ucap pelayan lain
"Hmhm lanjutkan pekerjaan kalian" Bik Minah, kepala pelayan dirumah itu menegur para palayannya yang sedang asyik bercerita.
"Baik Buk" Jawab mereka lalu bergegas menyiram bunga.
"Makasih ya Sayang" Ucap El sambil tersenyum
"Iya Sayang Masama"
"Cup" Erik mengecup kening El. Membuat pipinya memerah.
"Cup" Satu kecupan lagi di pipinya.
"Sayang, malu diliat pelayan tuh" protes El
"Biarin" Erik nyengir
Erik lalu membantu El berdiri.
Sekarang El memang harus sering-sering berlatih untuk pemulihan.
"Hati-hati ya Sayang" Erik memegangi El sambil tersenyum bahagia begitu juga El.
"Tuhan, mungkin sekarang aku masih cacat. Aku masih sakit aku belum lagi sempurna seperti dulu. Tapi satu hal yang sangat aku syukuri. Aku memiliki seorang suami yang sangat mencintaiku dan akupun mencintainya.
Melalui musibah ini aku bisa merasakan ketulusan suamiku kepadaku. Kesetiaannya menemaniku dalam menghadapi semua kesakitan ini. Tuhan jangan pisahkan aku dan dia. Dia yang benar tulus mencintaiku"
Hati berbisik penuh rasa bahagia sambil memandang wajah suaminya yang sangat tampan dan penuh kehangatan
bersambung
__ADS_1