
"Kalian....???" Aku mendengus kasar "Bukankah setelah semua yang aku alami aku berhak dapat penjelasan?"
"Aku nggak ada hubungannya dengan bajingan Rizal itu" Toby langsung menangapiku cepat "Jangan - jangan kamu yang berhianat Bill?"
"Hei... Dia mengunjungi ku itu saja?" Bela Billy dengan gerakan tubuh lembutnya. "Ada apa sebenarnya di antara kalian?" Billy menatap Toby dan Rizal bergantian.
Benar... Pertanyaan yamg sama juga ada dalam otakku.. Ada apa diantara kalian? Bertiga..
****
Aku yang mulai merasa lebih baik mulai berdiri menghampiri Toby yang masih suamiku hingga saat ini. Peduli setan dengan Rizal, aku tidak butuh penjelasan darinya.
Toby mulai berkacak pinggang dan memandang kelangit dan menhembuskam nafas cepat.
"Aku siap mendengar penjelasan"
"Lagu yang sedang bermasalah adalah milik Almarhum kakak Billy"
Aku otomatis menoleh pada Billy yang berdiri tak jauh dari punggungku. Billypun menanggapiku dengan cakap bersama anggukan kepalanya yang mantap.
"Aku butuh bukti foto - foto saat transaction itu berlangsung" Lanjut Toby.
"Aku faham" Wajahnya menunduk perlahan "Trus.. Kenapa sampai tidak pulang?" Aku kembali mengangkat wajahku.
"kami harus mencari dulu foto lawas itu di tumpukan barang Almarhum, butuh waktu"
"Wait... Wait..." Billy mendekat ke arah kami dan menatapku dengan dahi berkernyit "kamu curiga dengan kami?"
Aku segera gugup seketika.
"Toby belum cerita tentangku?"
Aku menggeleng cepat.
__ADS_1
"Ah.. Ok..!!" Billy memandang Toby sekilas "I am Normal.. Dear! Aku dan Toby just good friend"
Akundan Toby serempak memandang ke arah Rizal yang maaih berdiri dintempat yang sama, meski dengan gesture yang sudah berbeda.
"Aku dan Rizal adalah teman kuliah, dan dia berniat untuk investasi pada koleksiku berikutnya. Dengan semua yang terjadi, tidak mudah untukku memulai lagi bukan?" Billy kembali memandang kami bergantian.
Jawaban Billy sedikit membuatku tenang meski aku masih punya kecurigaan bahwa dia mungkin berskongkol dengan Rizal.
" Juat Information guys, aku dan Billy adalah teman kuliah. Bukan hal special untuk membantu teman yang kesusahan" Celeruk Rizal yang agirnya bersuara.
" Lantas kemana semua uang yang aku berikan?" Tanya Toby tanpa menggubris ucapan Rizal "Jumlah itu tidak sedikit"
"Aku sangat menghargai pertemanan kita, dan uang darimu memang cukup besar. Tapi merambah pasar eropa adalah cita - citaku" Jelas Billy dengan suara beratnya.
"Hubungannya?" Kenapa pertanyaan Toby nampak sangat kesal.
"Aku akan mensponsori Billy untuk bekerja sama dengan salah satu pemegang pasar mode kecantikan kami di Belgia. Seperti yang kamu tahu, bisnis perhiasan keluargaku cukup terkenal. Koleksinya akan aku gunakan dalam peluncuran koleksi perhiasan kami"
Toby segera menghampiri Rizal, dan dengan seeera tangan kanannya melayang ke siai kiri pipi Rizal.
"Tob..!!!" Aku dan Billy serempak memekik.
Kalau saja aku tidak hamil aku pasti akan menarik tubuh Toby mundur. Tapi yang bisa aku lakukan adalah mendorong Billy agar melerai keduanya.
"Apa masalahnya? kamu sendiri sudah berniat menghancurkan karirmu. Aku hanya bersifat membantu" Dasar Rizal, kenapa dia malah melontrakan kalimatbyang memprovokasi dalam situasi seperti saat ini.
"Jangan lancang, untuk mencampuri urusan orang lain. Andaikan aku ingin karirku redup itu urusanku, Apakah kamu sadar kamu telah membuat hidupku kelam?" Sebuah pukulan kembali mendarat ke arah sisi lain Rizal.
Namun kali ini Rizal berhasil menghindar. Tapi tidak dengan emosiku.
Sengaja!! Kata itu terhighlight dalam pikiranku.
" Jadi sengaja? "Aku memberanikan untuk mengeluarkan suara.
__ADS_1
Tapi Baik Toby dan Rizal keduanya sama sekali tak memperdulikanku. Mereka maaih sibuk berdebat, yang terdengar makin runyam.
"Look tujuan kita bisa di raih bersama" Rizal mencoba membuka soal perspektivenya. "Apa kamu tahu, om Yoga memilihmu memang karena aliran dana segar ibumu?"
"Jangan bicara omong kosong, aku sungguh memulainya dari audiri dan kontest bakat"
"Kamu memang penuh bakat, tapi kamu bukan yang nomor satu. Tanpa nama orang tuamu kamu hanya akan menjadi runner up"
"Jangan bawa bawa ibuku dalam kasusku"
"Bagaimana dengan aku...??" Kali ini aku sungguh meninggikan suaraku.
Aksi debat keduanya terhenti sejenak. Kekangan tangan Billypun sedikit melonggar.
"Dia tidak tahu...?" Terdengar samar suara Billy yang berbisik ke arah Toby.
Namun Toby hanya diam dan membeku menatapku yang mulai mendekatinya.
"Jadi semuanya hanya untuk keuntungan kaliam berdua, atau kalian semua?"
"Common Sandra..! Jangan sok innocent, kamu juga menikmati peranmu menjadi istri Toby bukan?" celetuk Rizal yang langsung dinpotong dengan...
"Sssh..." dari mulut Billy.
Aku mencoba menahan emosiku sebaik mungkin "Itu ranah privacyku, Tapi.. Zal.." Aku mencoba menahan rasa kecewa yang hampir tumpah di mataku "Kenapa kamu masih saja pengecut, dengan menggunakan namaku untuk mencapai tujuanmu?"
Wajah Rizal yang awalnya angkuh perlahan mulai nampak sedikit bingung.
" Aku tidak pernah meninggalkanmu tanpa alasan, tapi kamulah yang tidak bisa melihat alasan itu "
Aku menarik nafasku lebih dalam dan mendongakkan wajahku, mencoba menahan air mata yang mungkin jatuh.
"Lanjutkan saja urusan kalian, aku akan pergi... Lagi pula aku memang tidak ada hubungannya dengan urusan kalian" Aku mulai mundur perlahan dan melangkah untuk pergi..
__ADS_1