TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Takdir 2


__ADS_3

"Aku belum mencoba mencarinya, aku hanya memastikan dulu.. Denganmu?"


"coba ke halaman belakang, di taman yangbdekat dengan studio lukisnya. Biasanya dia di sana dengan wine mahal"


Itu sungguh terdengar seperti Toby.


Aku menutup sambungan tanpa ingat harus mengucapkan terimakasih. Di otakku saat ini adalah mengurangi konsumsi alcohol pada Toby


*****.


jemariku segera menutup gelas crystal Toby. Sebelum botol hijau pekat itu kembali menuangkan cairan merah penuh aroma itu ke dalamnya.


Ehem... Aku berdehem kecil.


Wajah tampan Toby segera mengarah padaku dengan raut wajah yang rapuh.


"Kamu tahu aku di sini?"


Aduuh.... Ini memang bukan pertama kali aku bertemu manusia dengan kondisi beginu. Tapi ini pertama kali aku di posisi sebagai istri.


"A.. Ku.. Mencarimu.." sepasang manik kami saling memandang, tapi Toby kembali menatap lurus dan kalinini ia meneguk winenya langsung dari botolnya.


Ehem... Aku berdehem sejenak mencoba menarik perhatiannya sekali lagi.


"A.. Aku merindukanmu" Ucapku cepat sebelum dia meneguk lebih banyak.


Toby segera menarik kerah bajuku.. Dan mensejajarkan wajah kami.


"Sungguh..." Aroma alcohol menguat di antara kami.

__ADS_1


"Kamu bisa tanya Albert, aku mencarimu" aku tidak punya alibi lebih baik.


Wajah Toby mendekat, tapi sayangnya wajahku reflect menjauh.


"Lihatlah kamu masih tidak menyukaiku.."


Aku menggeleng.. "Aku..." Bicara dengan orang setengah sadar hanya akan makin rumit. Aku memberanikan diri mendekat dan menciumnya sesaat.


"Aku hanya tidak suka alcohol... Itu tidak bisa aku hindari"


Toby menyelami sorot mataku lebih dalam. "seperti takdirmu denganku"


Glek.. Benarkah?


Toby membenamkan ciumannya dengan dalam.


Aku menarik diriku sejenak dan berusaha menahan mual yang tak tertahankan hingga..


Whooaach...


Akupun bergerak mundur dan membungkuk di rerumputan, membiarkan isi perutku keluar bebas di sana.


Toby mengulurkan napkin ke arahku sambil memijat lamban pangkal leherku.


"Meaki kadang itu mmebuatmu muntah" Desisnya yang segera mengusap sudut bibirku, meaki sebenarnya aku berniat melakukannya sendiri.


"Jadi... Apakah kamu mau tetap setia denganku dalam takdir kita yang seperti ini?"


Aku tidak pernah benar - benar ingin selingkuh, meaki aku pernah menyarankan hal itu dulu.

__ADS_1


"Kamu tahu sendiri bahwa aku tidak pernah murah bukan?" Aku menelan salivaku kasar.


"Dan mungkin aku akan mulai menjadi seperti ayahmu"


Deg.....


Waktu segera berhenti dari sisiku, semua tentang masa laluku bersama ayahku segera terulang. Tangis ibu, tempramen ayah dan kesedihan dibdalam keluarga kami mencuat ke atas laut memoryku.


Aku sedikit mundur, ada rasa takut yang mengerayangi nyaliku.


"Aku sulit Sandra..." Suara Toby nampak mulai sedih "tapi semua sudah mulai sebelum kamu datang"


'Tapi aku ingin kamu berhenti dari kita bertemu 'pekikku dalam hati.


"Saat ini, akan lebih runyam bila mereka melihatku dengan psikolog atau hal semacamnya, semua statementku bisa tidak Berlaku atau di anggap omong kosong"


Kamu menngela nafas bersamaan.


"Dan aku masih butuh kepercayaan public secara positive untuk melawan Rizal dalam sisimu"


Lututku lemas, karena ucapan Toby sepenuhnya benar.


Orang biasa mungkin bisa sembunyi - sembunyi untuk melakukan banyak hal, dan iti sangat mudah. Tidak akan ada yang mengikuti dua puluj empat jam.


Tapi buat Toby itu tidak berlaku. Apalagi dengan posturnya yang mencolok, tentu akan sangat mudah mengenalinya meski dalam kerumunan dan masker penutup wajah.


"Jadi aku harus bagaimana?" Lanjut Toby.


Kali ini aku mulai maju dan segera memeluknya. Aku saat ini sedang tidak punya jawaban, tapi setidaknya aku bisa menjanjikan kesetiaan.

__ADS_1


__ADS_2