
Aku menghempaskan tote bag ku begitu saja. Nora yang awalnya menyambutku ceria di gerbang pintu utama rumahku, berubah jadi penasaran.
"Apakah berita dari vincent cukup buruk?"
Aku memandang sesaat pada Nora yang sudah menhampiriku denfan segelas air mineral dingin. Tanpa menjawab, aku segera meraih salaj satu gelas ditangannya dan mulai meneguknya tanpa jeda.
"Belum ada berita berarti.. Masih butuh waktu" sahutku usai tenggorokanku mulai terasa segar.
"Udah aku bilang, detective itu bujan paranormal yang langsung bisa punya info lengkap dalam waktu singkat"
"Iya... Iya faham" sambutku sambil menyandarkan punggubgku pada cushion lembut berlapis kain satin. "Nogomong - ngomong, kamu ngapain kemari?"
"Aku...??"
"Siapa lagi? Kamu nggak datang cuma karena penasaran soal hasil dari vincent kan"
"Pinter... Memang bukan hanya soal itu, aku jufa mulai kangen sama kamu"
"Aku... Atau Andi?" godaku pada Nora yang memang biasanya centil.
"Cakep sih.. Tapi.."
"Kurang tajir?" godaku sekali lagi.
"Iiih... Sandra" Tanpa permisi Nora mencubit bahuku.
"Sakit.." Pekikku yang dengan cepat menggosok bahuku. "Trus Jorge di kemanain?"
__ADS_1
Sepasang mata indah Nora tiba - tiba berputar seraya bibir indahnya mulai mencebik sebal.
"Kalian berdua berantem?"
"Uhf... Bukan... Hanya saja..." Nora menggantung ucapannya dengan punggung yang kini juga mulai bersandar di sampingku "Waktu kamu bilang dia naksir aku, apakah itu serius?"
Aku segera mengangguk mantap "Dia sendiri yang bilang" Kilahku cepat. Berharap Nora tidak bertanya lebih banyak lagi tentang Jorge padaku.
"Dia nggak bilang suka sama kamu kan?"
"Hei.. Aku ini sepupu iparnya Jorge" Jemariku segera mengelus perutku yang semakin membesar tiap harinya "Lagi pyla, lihatlah ini"
Manik Nora segera mengikuti kemana tanganku yang lain menunjuk.
"Jelas sekali kalau aku sedang di luar radar para pemburu cinta saat ini"
"Memang dia kenapa?" Ups... Kenapa aku otomatis kepo begini?
"Jorge yang kamu ceritakan dulu... Cukup hangat dan lembut, tapi yang pacaran denganku itu seperti..." Sejanak nora menerawang ke langit langit "Pangeran dari puncak everest..." Lanjutnya.
"Maksudmu...?" Aduuh kenapa aku nanya lagi.
"Dingiiiin... Kayak beruang yang sedang hibernasi, kalau tidak aku yanf inisiatif. Dia entah kemana"
Oh God... Jorge, apa yang sedang ada di otaknya.
"Bahkan... Dia lebih suka memajang foto pernikahanmu dari pada foto kami"
__ADS_1
"yaaah... Yang lagi cemburu" responsku "Foto itu kan yang menang penghargaan, wajar kalau di pajang"
"Ah... Apakah benar faktornya cuma itu?"
"Jadi kamu sedang cemburu nih?"
"Ih... Siapa yang cemburu..?" jawab nora merajuk.
"Cieee... Yang lagi cemburu.." godaku pada Nora yang sedang merajuk.
"Tapi... Sand...seriously! Kamu nggak pernah ada perasaan sama Jorge kan?"
"Ha... Mana mungkin" kilahku yang berganti memandang ke arah langit ruangan, berusaha menyembunyikan kenyataan yang pernah ada.
"Yakiiin...?? " Goda nora gantian sembari mulai menggelitik pinggangku yang lebar.
"Yakinlah... Aku kan sudah pacaran cukup lama sama Toby" bohongku.
"Eh benar juga ya.." Jemari Nora mulai mengitung.
"Karma kali Nor...!!! Biasanya kamu yang di kejar cowok sampai pusing. Kali ini giliran kamu yang harus lebih berusaha"
"Masak sih.." Nora berdiri dan segera melangkah menuju cermin yang menghias sepanjang dinding belakang bar di rumahku dan Toby.
"Tapi aku masih cantik kan?"
Aku segera mengangguk cepat, membenarkan kecantikan Nora yang memang nyata.
__ADS_1
"