TERJEBAK Pernikahan

TERJEBAK Pernikahan
Cemburu tapi gengsi


__ADS_3

Sesampainya di Axena Inc. El turun membawa rantang. Semua mata tertuju kepadanya. Siapakah gerangan gadis cantik yang membawa rantang itu. Untuk siapakah? Tiada yang tahu siapa dia mereka hanya bisa bertanya dan menerka dalam hati.


El menghampiri receptionis


"Maaf buk ruangan pak Erik dimana ya?"


"Maaf Buk sudah ada janji sebelumnya?"


"Sudah, dia sedang menunggu saya" Ucap El berkilah.


"Baik ibu, dilantai tiga belok kiri ya Buk"


"Baik terimakasih"


El seger menuju lantai tiga, membawa rantang dengan semangat.


"Tok tok tok" El mengetuk pintu


"Miranda dengan sigap segera membukakan pintu". Dia keget melihat wanita cantik membawa rantang. Begitu juga El ada perasaan tidak enak dihatinya.


" Maaf Anda cari siapa ya?" ucapnya penasaran. El menatap Miranda,


" kenapa ada perempuan di ruangannya. Kenapa dia tidak bercerita kepadaku? Bisik hati El kesal. Dia berusaha bersikap wajar.


Sementara Miranda menatap El dengan tatapan kagum.


"Cantik sekali wanita ini? Apa dia pacarnya Tuan Erik?" Dia mencoba menebak


"Saya mau cari Tuan Erik" El menjawab datar


"Tunggu sebentar ya"


"Maaf Tuan ada tamu mencari Tuan" Miranda mengkonfirmasi


"Ya persilahkan masuk" Ucap Erik sambil menatap layar laptopnya.


El masuk membawa rantang


"Sayang" Erik segera berdiri dan menghampiri El.


El meletakkan rantang dan memeluk Erik


"Sayang kok nggak bilang mau datang?"


"Biar sureprise" Ucapnya tersenyum


"Kamu bawa apaan?" Erik melirik rantang El.


"Aku bawain makanan untuk kamu" Ucap El dengan tersenyum


Sementara Miranda hanya diam dan berpura-pura tidak memperhatikan mereka


"Sial ternyata itu pacarnya" Pikir Miranda.


"Ini aku yang masak sendiri Loh" El membuka rantangannya


"Wah kelihatannya enak Sayang"


"Iya, dong kan aku yang buatin" Sesekali El menatap wajah Miranda. Meski dia menyembunyikan perasaannya tapi Erik bisa menebak El tidak suka padanya.


"Miranda kamu sudah makan?" Erik berbasa-basi.

__ADS_1


"Sudah Tuan" Ucapnya sambil tersenyum


"Maaf ya makanan ini cuma buat Tuan Erik bukan buat kamu" Celetuk El membuat Erik terkekeh.


"Sayang, tangan kami sudah kena noda kunyit" Erik memegang tangan El.


"Nggak apa sayang, ayo makan aku suapin ya" Ucap El sambil menyodorkan makanan pada Erik.


"Makasih sayang" Erik mengunyah makanan yang dibawakan oleh El. Merasakan cita rasa masakannya yang sebenarnya agak keasinan itu.


"Bagaimana Sayang? Enak nggak?" El bertanya sumringah


"Enak sekali sayang, kamu jago masak ya sekarang" Ucap Erik agar El bahagia


El dan Erik kelihatan mesra membuat Mirandah gerah sendiri.


Dia pun memutuskan untuk keluar ruangan


"Maaf pak saya permisi sebentar Pak" Ucapnya


"Lama juga nggak apa" celetuk El. Membuat Erik tersenyum-senyum dengan tingkah El.


Miranda hanya tersenyum kecut dia tidak berani melawan.


"Awas saja nanti ya" Ucapnya dalam hati karena merasa kesal.


Erik tersenyum-senyum pada El yang berwajah datar tanda tidak suka.


"Ok" Ucapnya singkat pada Miranda. Sementara Erik memperhatikan El dengan tersenyum geli.


"Sayang, bagaimana pendapat kamu tentang Miranda?" Erik bertanya ingin memancing kekesalan El.


"Oh ya? Apa kamu tidak keberatan sekretarisku perempuan?".


"Tidak sama sekali, kenapa harus keberatan yang penting kan profesional" Ucap El dengan senyum dipaksakan.


"Kenapa Erik bertanya-tanya tentang Miranda ya?" El jengah sendiri, disorot matanya mengatakan dia sedang cemburu. Namun dia berusaha menutupinya. Dia tidak ingin terlihat kekanakkan di depan Erik.


"Oh ya, Nanti malam aku datang meeting dengan klien jadi mungkin agak pulang terlambat pulangnya" Erik meneguk air perlahan.


"Oh ya, meeting sama siapa? sama Miranda?" tebak El.


"Iya Sayang? Memangnya kenapa kamu keberatan?" Erik menunggu El kesal dan melarangnya. Baginya kecemburuan berarti bentuk nyata cinta yang kuat.


"Nggak apa, it's Okay" wajah El mulai muram tapu dia berusaha untuk tersenyum


"Kenapa kamu gengsi banget mengatakan tidak sayang?" Erik memandangi El yang mulai diam.


"Oh ya . Aku pulang dulu ya Sayang?" El pamit


"Kamu pulang sama Lela kan?" Erik memastikan


"Iya"


"Ok hati-hati ya" Erik memeluk El dan ingin menciumi bibirnya namun El segera menghindar.


"Nggak enak kalau disini" Ucapnya datar. Erik sendiri tahu hati El sedang tidak nyaman. Tapi dia ingin menikmati rasa kecemburuan itu.


***


Malam ini El makan di meja makan sendiri, hanya ditemani para pelayan yang berdiri bagaikan patung. Dia hanya menatap makanan yang terhidang. Makanannya seperti tidak menggodanya sama sekali. Saat ini pikirannya hanya memikirkan Erik dan Miranda.

__ADS_1


"Sial, kenapa gue jadi kayak gini. Ayolah El, kamu nggak boleh kekanakkan kayak gini. Mereka hanya rekan kerja kan?" Bisik hati El.


Diambil Hpnya, dia mencoba menghubungi Erik. Setelah berkali-kali dihubungi Erik tak kunjung mengangkat telponnya.


"Apa dia sedang meeting ya? Apa dia sedang digoda oleh Miranda?" El kesal sendiri, dia menggebrak meja dan mengagetkan para pelayan.


"Nona, apa butuh sesuatu?" Bik Minah dapat membaca situasi El yang sedang tidak baik saja itu.


Namun El hanya diam diam, lalu berlari kekamar dan menelpon sekretaris Jim


"Hallo Nona El".


" Sekretaris Jim, kamu kamana? kenapa sekarang Tuan Erik memiliki sekretaris wanita? sejak kapan? kenapa saya tidak tahu? Apa yang kalian sengaja sembunyikan dari saya?"


"Maaf Nona, saya sedang cuti karena ada keperluan mendadak dan penting. Jadi Miranda hanya sekretaris Tuan Muda untuk sementara waktu" Tutur Sekretaris Jim


"Ok siapa yang memilih Miranda?"


"Saya yang recomendasikan pada Tuan Muda Nona"


"Apa? Kenapa kamu recomendasikan perempuan cantik sialan" El mulai emosi.


"Apa Nona muda cemburu ya pada Miranda hehehe" Bisik hati sekretaris Jim


"Maaf Nona, apa perlu saya ganti sekretarisnya besok?"


"Tidak, tidak usah biarkan saja"


"Kenapa lagi Nona? Apa anda malu Tuan tahu anda cemburu?" Lagi-lagi tidak dia ungkapkan.


"Kalau begitu apa yang bisa saya lakukan Nona?"


"Apa lagi yang bisa kamu lakukan? ini kesalahan kamu dari awal. Kamu tahu malam ini dia meeting bersama Miranda" El bertambah kesal.


"Lalu bagaimana Nona?"


" Sudah lah saya pusing" El mematikan telpon.


Ternyata Nona El orang yang cemburuan, tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk itu wkwkwk" Sekretaris Jim terkekeh. Dia pun segera melaporkan hal ini kepada Erik.


Selesai meeting Erik melihat Hpnya. Tiga panggilan tidak terjawab dari El. Dia pun menelponnya kembali namu El tidak kunjung mengangkatnya.


"Apa dia sudah tertidur?" Pikir Erik


"Zzz zzz" Panggilan masuk dari sekretaris Jim.


"Halo".


" Halo Tuan? Apa anda sudah selesai Meeting? boleh saya bicara sebentar".


"Ok silahkan"


"Saya ingin membicarakan tentang Nona El"


"Oh tentang El" Erik segera tersenyum dan menjauh dari Miranda.


"El lagi, lagi lagi El" Gerutu Miranda dalam hati


"Cepat katakan ada apa dengan El Ku sekretaris Jim" Erik tidak sabar mendengar tentang El.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2