
Om Yoga segera mengarahkan pandangnya dan segera mempersilahkan pihak sponsor untuk mengambil alih.
Pria bernama Rizal itu menunduk sejenak dan mulai membuka mulutnya, Tapi..
"Senang ahirnya berjumpa lagi... Apakah kamu tidak mengenaliku?" Tanyanya pada.... Mungkin Tia, karena aku sangat masih baru dalam dunia ini.
"Nona Sandra?"
Aku mengangkat alis tinggi.. "Saya...?"
"Iya.. Anda.."
Ha..? . Apakah aku Mengenalnya.?
"Ah... Hmmm..." Aku hanya sanggup memasang senyum dengan sejuta tanya dan terka tentang sosok pak Rizal yang memang sepertinya seumuran denganku.
"Apa Kabar Pak. Rizal, senang bertemu dengan anda" balasku ahirnya mencoba mencairkan suasana yang mulai agak kurang kondusif.
Untung Pak Anwar segera mmengambik alij subjek dan melanjutkan tentang promosi yang mereka inginkan dan tentu saja segala konsepnya.
Setelah merinci dengan detail, kamipun ahirnya mengakhiri meeting hari ini. Tapi...
"Apakah saya bisa minta waktu berdua saja dengan Ibu. Sandra?" Sosok pak. Rizal rupanya belum puas dwngan responsku tadi.
Tapi aku benar - benar tak mengingat perihal beliau. Hanya saja, memang ada beberapa hal yang sepertinya agak familiar.
Aku Sebenarnya ingin menolak, namun.. Lelaki dengan tingkat seperti ini tidak menyukai penolakan. Dan aku berharap ini adalah pertemuan kami yang terahir.
__ADS_1
Saling kenal atau tidak, kalau aku hampir lupa 99% seperti ini. Maka dia tidak pernah memiliki konstribusi dalam hidupku. Jadi.. Semoga.. Selesai sampai di sini.
"Apakah menjadi istri Super Star, membuatmu melupakan semua masa lalumu?" Pak Rizal tidak perlu basa - basi untuk maksudnya.
"Terimakasih sebelumnya, telah mengingat perkenalan kita. Namun tanpa mengurangi rasa hormat, saya sungguh tidak mengingat anda"
"Sandra... Kamu masih sama, tidak pernah peduli perasaan orang lain"
Aku... Lho..lho...memang perasaan aoa yang terjadi di antara aku dan lelaki asing di hadapanku ini.
"Mungkin wajahku sedikit berubah, tapi suaraku sebarusnya tidak" Pak Rizal melepas kaca matanya "Aku mengalamj kecelakaan berubtun hingga harus menata ulang rahangku, tapi mata atau suaraku semua masjh sama"
Ah... Kenapa jadi panjang...
Hmmm... Saya turut berduka cita tentang yang bapak alami.
"Kamu tahu kenapa aku mengalami kecelakaan?"
Aku menggeleng cepat, itu pertanyaan aneh.
"Karena saya ingin mengejar kamu yang akan memutuskan untuk bekerja"
Tunggu... Orang aneh inj.. Mengenalku jauh dari sebelumnya ? Aku mengerjapkan mataku beberapa kali.
"Aku putra dari istri kedua keluarga Adilaksono. Kita teman sekolah saat aku tinggal bersama nenekku" Ahirnya pak Rizal membuat pengakuan tanpa mengurangi sikap tegasnya.
Welll.... Satu - satunya nama Adilaksono yang aku kenal cuma... Si Rizal.. Mantan pacarku?
__ADS_1
Tanpa sengaja aku langsung berdiri, manikku membulat mengamati paras tampan di hadapanku.
Rizal memang cukup good looking pada waktu itu, tapi wajah yang ini sungguh berbeda.
Rizak yang aky kenal juga tidak memiliki badan gempal. Itu sungguh bukan tipeku, sekali lagi aku tidak suka pria dengan tubuh tertata penuh otot.
"Tidak mungkin...." Aku mendekap mulutku sendiri.
"Apakah aku terlihat jauh lebij baik?"
Aku hanya menelan salivaku kasar. Masalahnya, antara aku dan Rizal ada masalah yang belum atau tidak ingin aku bahas. Karena memang sudah tidak perlu.
"Aku rasa, aku sudah masuk kriteriamu sekarang"
Aku menepuk jidatku, 'itu masalahnya' batinku.
"Aku sudah datang menghampirimu sesuai janjimu, dan aku tidak keberatan kalau kamu sudah janda"
Kakiku mulai lemas... Baru saja aku berdamai dengan satu orang aneh yang memaksaku menikah.
Kini muncul orang aneh lain yang...
"Prosesnya akan tidak sulit asal kamu bersedia, aku akan mengurusnya"
Seolah Berusaha memaksaku bercerai.
*****'
__ADS_1