
"Adik, hati ini aku akan mencari pekerjaan ke kota. Kau jagalah dirimu dirumah ini" Miranda berkata sambil memasukkan pakaiannya kedalam lemari.
"Tapi Oenni Aku takut dirumah ini sendirian" El merajuk.
"Sudahlah tak apa. Semua akan baik-baik saja" Miranda tersenyum.
"Kakak akan bekerja untuk kita. Untuk kebutuhan kita sehari-hari" Miranda tersenyum, meski perkataan itu sebenarnya tidak terucap dalam hatinya. Ya mencari pekerjaan sebenarnya adalah tuntutan bagi dirinya sendiri. Dia tidak mungkin berdiam diri dengan tabungannya yang semakin haru semakin menipis.
"Adik, kami bantulah membersihkan rumah. Dan mengurus pekerjaan rumah ya"
"Baiklah kak" El tersenyum
"Rasain lo, emang enak ngerjain tugas pembantu" Bisik hati Miranda puas.
"Oenni, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Iya boleh, apa itu dik?" Miranda penasaran.
"Oenni, Aku ingin melihat foto keluarga kita. Seperti apa wajah ayah dan ibu kita. Apa kau memilikinya? Boleh aku melihatnya?"
"Deg" Jantung Miranda berdebar dia dengan cepat memutar otaknya.
"Adik, dulu kita memiliki banyak foto keluarga. Tapu sayang sebuah insiden terjadi. Rumah kita terbakar dan menewaskan ayah dan ibu kita" Miranda berkaca-kaca.
"Oenni, lalu bagaimana kita bisa selamat?"
"Ih, bawel banget sih lo banyak tanya" gerutu Miranda dalam hati, namun dia tetap menunjukkan wajah ramahnya.
"Adik, saat itu kita sedang pergi sekolah. Kau tahu kita dulu adalah orang kaya. Ayah dan Ibu memperlakukan kita dengan baik. Masa kecil kita sangat indah" Miranda tersenyum.
"Oh ya Kak, sayang sekali aku tidak bisa mengingatnya" Sesal El.
"Ya, bagaimana kau akan mengingatnya karena memang tidak pernah terjadi" Bisik hati Miranda.
"Adik, selama aku bekerja tugasmu adalah mencuci piring, menyapu rumah, memasak" Ujar Miranda.
"Tapi kak aku tidak tahu melakukannya"
"Tenanglah, aku akan mengajarimu" Miranda mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Sebenarnya dia juga lelah berpura-pura, tapi karena dia belum menemukan cara yang tepat. Maka dia harus bersabar dulu.
"Baiklah, mari kita mulai pelajaran pertama kita"
Miranda mengajari El, cara membersihkan rumah, dan mencuci piring.
"Oenni lihat" Miranda meniup sabun di sela jarinya sehingga membentuk gelembung.
"Adik, jangan bermain-main, belajarlah yang benar!" Ucap Miranda mulai kesal.
"Oenni" El menempelkan sabun ke pipi Miranda
"Hahaha" Dia tertawa
"Awas ya, Miranda membalas" Akhirnya mereka bermain perang sabun.
"Hahaha" Akhirnya mereka sama-sama tertawa. "Sudah ayo kita teruskan belajarnya" Ucap Miranda dengan serius.
"Baik" El tersenyum lebar.
"Kenapa dia sangat senang begitu" Gerutu Miranda.
"Baik sekarang, kita lanjut ke dapur"
"Entah apa yang ada dalam pikirannya? kenapa dia kegirangan seperti itu ya?" Miranda heran karena El selalu merasa bahagia dengan pelajaran yang dia berikan.
"Ok Adik, ini namanya bawang merah, ini bawang putih, dan ini kunyit" Pelajaran mereka hari ini mengenal nama-nama bumbu dapur.
"Ok kakak akan ingat" El bersemangat.
"Ya harus kau ingat lah, kau kan akan jadi pembantu dirumah ini! Bisik hati Miranda.
Walaupun bukan dari hati yang tulus, Miranda tetap mengajari El dengan sabar. Iya setidaknya untuk sementara waktu El bisa dia manfaatkan sebagai pembantunya dirumah.
Lumayan setelah pulang bekerja, dia tidak perlu lagi melakukan pekerjaan rumah. Jadi ini akan sangat membantunya.
"Adik, Oenni rasa pelajaran hari ini cukup sampai disini ya dik. Oenni akan pergi mencari pekerjaan" Bisik Miranda sambil bersiap-siap akan mencari pekerjaan paruh waktu.
"Baiklah Oenni, tapi Oenni pulang jam berapa ya?" El khawatir tinggal sendirian dirumah.
__ADS_1
"Oenni akan segera pulang kalau pekerjaan Oenni sudah siap. Okay" Miranda memakai masker membuat poni palsu dan kaca mata.
"Oenni, kenapa Oenni juga berpenampilan seperti itu?" El heran, penampilan Oenni mirip penampilannya ketika pergi keluar.
"Adik, kita seperti ini demi keselamatan kita. Kamu tahu ada seorang lelaki kaya yang kehilangan istrinya. Wajah istrinya sangat mirip denganmu. Karena itulah dia mengira kamu istrinya. Dia terus mengejarmu, sehingga waktu itu kamu kecelakaan karena dia. Oenni tidak mau dia mengenali Oenni sehingga dia akan mengetahui keberadaanmu disini. Oenni tidak mau terjadi apa-apa denganmu Adik" Ucap Miranda meyakinkan.
"Oenni" El memeluk Miranda.
"Terimakasih Oenni telah baik kepadaku. Maafkan aku telah menyulitkan Oenni" Ucap El sungguh-sungguh.
"Kenapa wanita ini bodoh sekali, selalu percaya setiap apa yang aku katakan" Bisik hati Miranda.
"Adik, Oenni akan berkorban apapun untukmu. Oleh sebab itu kamu harus mengikuti dan mematuhi semua perkataan Oenni. Ingatlah apapun yang Oenni katakan itu adalah untuk kebaikanmu Adik. Oenni sangat mengkhawatirkanmu" Miranda meletakkan tangannya di bahu El.
"Oenni, seperti apa rupanya lelaki kaya yang mengejarku? Apa dia tua bangka?" El melototkan matanya".
"Tidak Adik, dia bukan seorang yang tua bangka. Dia seorang lelaki tang tampan. Kalau kau bertemu dengannya jangan pernah kau menyukainya,tapi tetaplah membencinya. Tidak-tidak aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengannya, dia pria yang jahat. Aku harus melindungimu darinya" Miranda menatap El.
"Sekali lagi terimakasih Oenni" El kembali memeluk Miranda.
"Idih, kenapa sih peluk-peluk melulu. buat aku risih aja tau" Gerutu Miranda
Namun El yang polos tidak peduli dan menganggap itu sebagai kasih sayang dari dirinya kepada Oenni. Kakak satu-satunya sekarang yang dia miliki begitu pikirnya.
"Bagimana penampilan Oenni? Apa kau sekarang mengenali Oenni?" Miranda memamerkan penampilan barunya.
"Tidak Oenni, Oenni kelihatan begitu berbeda sekarang" Dengan penampilan seperti itu siapa yang akan mengenalinya.
"Hihihi, dengan begini pria gila itu tidak akan mengenaliku. Kamu tahu dia memiliki banyak anak buah. Jadi kita harus selalu waspada dalam penyamaran kita" Miranda berkata serius
"Oh ya ? Oenni berhati-hatilah. Aku mengkhawatirkan Oenni" El cemas.
"Apa khawatir? kalau bukan karena kamu nasib aku dan abangku tidak akan seperti ini!" Lagi-lagi hanya dalam hati.
"Tenanglah Oenni akan baik-baik saja. Terimakasih telah mengkhawatirkan Oenni ya" Miranda tersenyum.
"Baiklah Oenni akan pergi, jaga diri kamu baik-baik. Jangan pernah membukakan pintu tetap di dalam rumah" Miranda memberi peringatan.
"Okay Oenni, aku janji" El tersenyum
__ADS_1
Miranda lalu pergi menuju kota dia berharap akan memiliki pekerjaan disana. Walaupun bukan pekerjaan kantoran seperti dulu, dia akan bekerja apa saja untuk menyambung hidupnya. Semenjak dipecat dari Axena Inc itu dia merasa hidupnya begitu sulit sekali. Dia tahu dia salah karena menyukai Erik, tapi setidaknya dia tidak perlu membayar semua kesalahannya itu dengan mahal bahkan dengan seluruh hidupnya. Lagipula dia tidak tahu Erik sudah beristri dan dia juga sudah minta maaf. Tapi Erik sepertinya tidak mau memaafkannya karena hampir bercerai dengan istrinya itu dasar orang kaya sombong. Pikir Miranda sambil menghentikan sebuah becak motor.
bersambung