
"Ting..." pintu lift terbuka bersama beberapa orang di dalamnya.
Huh...
Setidaknya menikah dengan Celebrity membuat dosamu berkurang, karena sering sekali kamu tak cukup waktu untuk bertengkar.
Alasannya....
Karena kami sangat butuh pencintraan.
Aku dan Toby serempak tersenyum dan memasuki lift dengan berperan suami istri yang dalam keadaan baik - baik saja.
*****
"Kenapa ingin sendiri?" Toby langsung mencecarku ketika kami tiba di mobil. "Kamu tidak butuh pendapatku?"
Ini bukan saatnya berdebat. Aku berdecih kecil.
"Jawab aku sandra" Toby menarik rahangku hingga kami saling memandang.
"Tahu apa kamu soal perasaanku, dan perasaan ketika hidupmu seperti di lindas sunami dan berahir pada tangan manusia seperti kalian"
"Aku...???" Toby mengacungkan telunjuknya sendiri ke depan hidungnya yang menjulang. "Aku menawarkan kemanusian yang lebih layak... Tidak sama"
Aku memejamkan mataku mengorek semua pwrustiwa dari awal. Aku menelan salivaku perlahan.
"Keluarga?" Suara Toby merendah.. "Aku juga mau itu, jangan bilang aku sama dengan para pengais keuntungan lainnya"
Apakah aku harua membenarkan ucapan Toby?
Aku membuka mataku perlahan dan mencoba menenagkan hatiku dan pikiranku yang kacau.
'Bagaimana mungkin Om Yoga dengan seenaknya memintaku membunuh anakku. Setelah sebelumnya Toby memaksaku hamil?' tapi kalimat itu tidak pernah keluar.
__ADS_1
Aku hanya berahir membuka mulutku dan..
"Kamu nggak akan mengerti?"
"Anak itu juga milikku... Kamu pikir aku mau membunuhnya begitu saja, setelah aku menyeret ibunya dan memaksanya untuk menaruh benihku?"
Baguslah Toby sadar akan pelanggaran Hak asaai manussianya padaku.
"Aku masih waras Sandra"
"Bagus..."Aku melepas jemari Toby yang masih menempel tajam di sana. Sebwlum dia menwkan lebih dalam seperti biasanya.
" Aku mau bertahan.. "
" Aku nggak pernah mundur "
Jadi harusnya kami satu suara bukan?
No.. Untuk Om Yoga.
Wajah Toby mendekat sesaat.." Bukankah ada cctv di sudut kanan?"
"Ha..." grrr.... Kenapa kamera ada di mana - mana.
"Pertengkaran dalam hari yang sama pengumuman kehamilan pasti headline yang bagus"
"Oh.. TOB..!! Bisakah kamu mengumumkan pensiun saja? Selalu acting itu tidak mudah untukku" gerutuku yang mendekati serius.
"Aku butuh kesan bagus"
Aku tahu arah Toby kemana...
Yeah...!! Kami berahir menautkan bibir kami denga penuh semangat. Biasanya ini hanya akan berahir begitu saja. Tapi...
__ADS_1
Ckckck.... Aku lupa tubuhku sedang penuh hormon saat ini.
Aku wanita dewasa dan Toby adalah suamiku. Kenyataan itu sudah cukup alasan kenapa jantungku berdegup sangat kencang. Dan menggema hingga ke ubun - ubunku.
Tubuh Toby yang kokoh dengan salur otot yang rapi.
Dan sejak kapan dia begitu tampan meski dengan rambut yang minim?
Aku mendorong Toby untuk mundur, tapi seperti biasa itu sia - sia.
Kami berhenti sesaat dan salig menatap ganjil.
"Kamu.." Toby seakan berencana menuduhku untuk hal..
Yang halal untuk kami.
Aku kembali mwnarik Toby dan melakulan sesi kedua, tentu saja dengan naluriku sebagai wanita dewasa.
Ini tidak salah bukan?
Hanya tempatnya mungkin...
Aku dan Toby sepertinya sepemikiran.
Pandangan kami melihat sekeliling, tentu saja sia - sia jika menghindari cctv di area parkir ini.
Tanpa menunggu reaksiku. Toby segera menyalakan mobilnya. Sorot matanya segera lurus kedepan dan melaju dengan cepat.
Nafasnya masih lebih cepat, dengan sesekali matanya mengarah tajam kepadaku.
Apakah aku berlebihan?
Ini pertama kali aku mencium Toby dengan seluruh hasratku.
__ADS_1
Bukankah itu tidak salah? Aku juga berhak melepaskan nafsuku pada suamiku bukan? Ayah dari anakku?